Denny Yomaki Pioneer Khasiat Tawy (Buah Merah), I Made Budi Penerusnya

Tidak banyak orang tahu bahwa Denny Yomaki, seorang mahasiswa di Universitas Cenderawasih, Jurusan Kimia ialah pioneer dalam penulisan ilmiah tentang Khasiat Tawy. Pada akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an ada seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Cenderawasih waktu itu bertemu dengan saya sebagai teman seangkatan,walaupun saya berkuliah di Program Studi yang berbeda, kami ada di Fakultas yang sama, begitu kata saksi mata yang dalam artikel ini tidak mau disebutkan namanya.

Masih menurut penutur cerita ini, pada waktu itu Denny Yomaki membagi-bagikan informasi kepada rekan seangkatannya tentang temuannya bahwa Tawy (buah merah) ternyata mengandung banyak sekali unsur di dalamnya yang berpotensi membantu manusia menyehatkan tubuh dan bahkan sangat mungkin menyembuhkan penyakit.

Kami yang tidak paham tentang kimia haya diberitahu bahwa Tawy punya khasiat begitu banyak. Mata rabun bisa pulih kebali, kecanduan rokok bisa dihentikan, sakit maag bisa disembuhkan, lemah syahwat juga bisa disembuhkan. Disebutkan sejumlah penyakit yang sewaktu itu namanya saja saya tidak kenal juga disebutkan.

Denny Yomaki juga menyebutkan bahwa penelitian yang dilakukannya itu pertama-tama ditolak oleh Dosen Pembimbingnya dengan alasan tidak relevan, tidak ada tulisan sebelumnya tentang Tawy.

Pandangan umum waktu itu, termasuk semua yang mendengarnya bahwa Tawy ialah makanan orang kampung, yang bikin kotor. Bagi orang yang menyukainyapun tidak lagi mengkonsumsi Tawy sejak mereka bersekolah di sekolah modern atau setelah menjadi pegawai negeri karena akibat makan Tawy semua benda, pakaian, mulut, tangan, pintu rumah, lantai, belanga, piring, semua akan menjadi merah dan akan sulit dibersihkan.

Masih menurut sumber cerita ini

Saya masih ingat waktu itu, Denny Yomaki punya semangat menggebu-gebu bahwa Tawy memiliki khasiat yang luarbiasa, dan dia telah membuktikannya dalam laboratorium kimia di Universitas Cenderawasih. Tetapi saya juga masih ingat dengan segar betapa para pendengar, termasuk saya sendiri yang dapat dikatakan “punya nenek moyang Tawy” tidak begitu bersemangat karena menganggap Tawy merupakan makanan yang mengotori banyak hal kalau dimakan di kota.

Pada waktu itu kami tidak berpikir untuk mengolahnya seperti yang dilakukan saat ini. Waktu itu kami masih berpatokan kepada pemikiran cara mengolah seperti yang ada di kampung, sehingga sulit kita bayangkan bahwa Minyak Tawy ada di dalam botol dan bisa dijual. Bahkan pemikiran memisahkan minyak Tawy dari Santan Tawy juga belum ada waktu itu. Yang kita tahu waktu itu Tawy berhkasiat menyehatkan dan menyembuhkan.

Menurut sang pencerita ini, sudah jelas dan pasti Drs. I Made Budi, yang kebetulan mengajar di tempat yang sama, di fakultas dan jurusan yang sama, membaca tulisan mahasiswa puluhan tahun sebelumnya, atau pernah mendengarnya. Menurut dia,

Kalau Pak Made bilang saya tertarik dengan kondisi tubuh orang gunung Papua yang begitu kuat dan prima, padahal makan makanan seadanya, lalu tertarik dengan buah merah sebagai salah satu makanan yang dikonsumsi oleh orang gunung, untuk mengetahui apa yang ada di adlamnya, maka secara logika ilmiah tidak jelas hubungan antara memilih buah merah dan orang gunung yang prima, apalagi logika nurani saya tidak terima. Logika ilmiah bisa dimanupulasi, tetapi logika nurani tidak akan pernah tertipu. Kita manusia, kita tidak hanya punya otak, tetapi nurani. Dan nurani selalu lebih benar daripada otak. Otak penipu, otak bisa manipulasi, otak bisa berkelak, tetapi nurani tidak.

Karena nurani saya tidak menerima, maka secara logika biarkan saya berspekulasi, bahwa temuan Denny Yomaki ini entah itu secara tertulis atau secara lisan dari mulut-ke-mulut pernah didengar oleh Drs. I Made Budi, yang kemudian membandingkan kondisi fisik orang gunung Papua, lalu memperkuat tekad untuk menelitinya.

katanya.

Masih menurutnya lagi, “Saya lebih suka menyatakan bahwa Denny Yomaki-lah penemunya, dan I Made Budi penerusnya yang mempopulerkan temuan Denny Yomaki!”

Budidaya Buah Merah dan Kopi Disosialisasikan di Deiyai

Diposkan oleh : Ones Madai on July 18, 2014 at 12:53:24 WP [Editor : ]

Deiyai, 18/7 (Jubi) – Kantor Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Deiyai mengadakan sosialisasi tentang pentingnya perlindungan dan konservasi kerusakan lingkungan hidup dengan wujudkan partisipasi pengendalian dampak perubahan iklim, lebih khususnya budidaya buah merah dan kopi.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Deiyai, Moses Pekei mengatakan, salah satu dalam sosialisi ini yang lebih diutamakan, yakni bagaimana masyarakat dapat budidaya bibit kopi dan buah merah yang ada di wilayah pemerintah Kabupaten Deiyai.
“Penanam bibit buah merah dan bibit kopi, agar masyarakat dapat kembangkan berdasarkan potensi unggul di kampung masing-masing,” ungkap Moses kepada tabloidjubi.com di Balai Sosial Katolik (Soskat), Waghete II, Distrik Tigi, Kabupaten Deiyai, Papua, Kamis (17/7).

Menurut Moses, berdasarkan hasil survei yang dilakukan tim dari Badan Lingkungan Hidup, telah mendata sedikitnya pengusaha buah merah 237 orang dan pengusaha kopi 178 orang. “Ini jumlah yang sangat luar biasa. Semoga tahun 2015 terjadi peningkatan dalam budidaya bibit kopi maupun buah merah,” ungkapnya.
Sebagai kampung percontohan budidaya buah merah dan kopi, Moses mengatakan, pihaknya mendata lebih fokus ke distrik yang aksesnya mudah dijangkau dari Kabupaten Deiyai, seperti Distrik Tigi, Distrik Tigi Timur dan Distrik Tigi Barat. “Kalau dua distrik lainnya seperti Distrik Bouwobado dan Distrik Kapiraya, membutuhkan transportasi udara. Jadi, membutuhkan jumlah dana yang besar,” katanya.

Dalam tahun anggaran 2015, kata Moses, dirinya berkomitmen akan mesurvey ke Distrik Bouwobado dan Distrik Kapiraya. “Tahun ini jumlah dananya sangat minim dan dari dinas terkait, kita utamakan distrik percontohan budidaya buah merah dan kopi. Pendataan ini akan dilakukan secara serentak di tahun 2015,” paparnya.

Tujuan dari pada sosialisasi budidaya buah merah dan kopi ini, kata Moses, untuk mendorong masyarakat meningkatkan ekonomi keluarga, dalam hal ini upaya untuk menghasilkan buah merah dan kopi. Sebab di daerah ini yang bisa mendatangkan uang yang jumlah besar, ialah sari buah merah dan kopi. “Sekaligus merealisasi peraturan pemerintah pusat tentang normalisasi kampung dimana disebut proklim,” katanya.

Salah satu warga yang hadir dalam sosialisi ini, Marinus Pakage menanyakan, sekalipun masyarakat menanam buah merah maupun kopi tetapi tentunya membutuhkan peralatan penyaring dan penggilingan kopi. “Bagaimana dinas terkait menyikapi hal ini?” kata bertanya.

Lalu pertanyaan ini dijawab Moses. Menurutnya, alat-alat yang membantu masyarkat untuk meningkatkan produksi warga jelas membutuhkan banyak peralatan. “Untuk pengadaan peralatan adalah tupoksinya instansi lain. Tapi, pihaknya akan koordinasi ke Bupati Deiyai dan dinas terkait agar merealisasi peralatan itu,” katanya..
Guna mendukung budidaya buah merah dan kopi, kata Moses, dirinya tetap memberikan sosialisasi, pendataan dan memberikan motivasi kepada seluruh pengusaha agar pemahaman lebih meningkat dalam budidaya buah merah dan kopi. “Saya yakin melalui motivasi dan pemahaman suatu saat masyakat Deiyai akan unggul dalam kedua bidang ini,” tandasnya. (Jubi/Ones Madai)

Ones Madai, JUBI

Kampung IPDN Papua Budidaya Buah Merah

Penanaman Bibit Buah Mera
Penanaman Bibit Buah Merah Dikawasan Kampus IPDN Papua. (Jubi-Alex)

Penanaman Bibit Buah Merah Dikawasan Kampus IPDN Papua. (Jubi-Alex)

Jayapura, 5/6 (Jubi) – Sadar akan pentingnya kesehatan dan lingkungan hidup, Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Papua, melakukan penanaman 1600 pohon buah merah di lingkungan sekitar kampus. Penanaman dilakukan bertepatan dengan hari Lingkungan Hidup yang jatuh pada hari ini.

Pohon buah merah dinilai sangat cocok untuk ditanam di lingkungan Kampus IPDN, karena banyak terdapat areal terbuka dan aliran air berupa rawa dan danau buatan.
“Awalnya kami ingin menanam kelapa sawit, namun rencana itu tak jadi karena tidak cocok untuk di Papua. Untuk itu, kami putuskan untuk menanam buah merah saja. Saya senang dengan buah merah, karena buah merah memiliki banyak manfaat,” Kata Direktur Kampus IPDN Papua, Margaretha Rumbekwan kepada wartawan, di Jayapura, Papua, Kamis (5/6).

Setelah diteliti, buah merah memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Selain itu buah merah adalah buah surga bagi masyarakat Papua, sehingga ketika kita menanam kita memberi kontribusi yang baik pada semua orang.

Menanggapi itu, ujar Margaretha, kedepan Kampus IPDN akan menjadi ikon dimana saja, karena wujud nyatanya ada di Jatinangor tetapi kami ada di Tanah Papua dan melakukan budidaya buah merah.

“Banyak orang berbicara tentang buah merah tetapi tidak tahu bentuk dari buah tersebut. Ketika menanam, para Praja akan menceritakan pada orang lain bahkan kepada orang yang tidak pernah datang ke Papua dan mereka mau datang untuk melihat secara langsung proses pertumbuhan hingga buah yang dihasilkan dan itu ada di Kampus IPDN,” ujarnya.

Saat ditanya apakah jam belajar para Praja tidak akan terganggu dengan adanya keinginan untuk menumbuh kembangkan budidaya buah merah, kata Margaretha, pihaknya punya jam pelatihan, tetapi bukan hanya untuk budidaya buah merah. Pasalnya dilokasi lain, pihak kampus ada menyediakan lahan untuk bagaimana Praja bisa praktek bercocok tanam, berkebun bahkan memelihara ikan.

“Jadi akan ada pelatihan-pelatihan yang nantinya jika mereka terjun kelapangan, ketika melihat lahan itu kosong mereka sudah bisa memiliki pikiran untuk bagaimana melakukan sesuatu menjadi nyata, sehingga mereka betah di tempat dan tidak mengandalkan terima gaji, tetapi dengan apa yang Tuhan berikan mereka mengolah itu dan menghasilkan serta memberi contoh kepada masyarakat,” katanya.

Sebelumnya, Gubernur Papua Lukas Enembe mendeklarasikan gerakan wajib tanam buah merah sebagai komoditas unggulan, dan menginstruksikan kepada Bupati/Walikota untuk menanam buah merah.

“Gerakan menanam buah merah bagi seluruh masyarakat Papua ini, dalam rangka meningkatkan perekonomian daerah serta membuka lapangan kerja bagi masyarakat yang belum memiliki pekerjaan,” kata Lukas Enembe. (Jubi/Alex)

Buah Merah Bakal jadi Minuman Resmi PON 2020

Rabu, 26 Maret 2014 05:51

http://bintangpapua.com/index.php/2012-12-03-03-14-02/2013-01-02-06-12-35/item/14449-buah-merah-bakal-jadi-minuman-resmi-pon-2020
Lukas Enembe, S.IP, MHJAYAPURA—Dengan semangat memperkenalkan produk asli Papua, terutama Buah Merah, Pemerintah Provinsi Papua telah berencana untuk menjadikan sari buah ini sebagai minuman resmi dalam ajang PON XX tahun 2020 yang diyakini akan diselenggarakan di Tanah Papua.

Hal ini sebagaimana dituturkan Gubernur Papua Lukas Enembe, S.Ip, MH melalui Kepala Biro Humas dan Protokoler Setda Papua FX. Mote, M.Si. “Minuman buah merah ini, akan kita jadikan minuman PON XX,” kata Gubernur kepada wartawan, Selasa (25/3) siang.

Dikatakannya, saat ini pihaknya sudah mendaftarakan Buah Merah di KONI Pusat untuk dijadikan merek minuman resmi PON di Papua tahun 2020 dan menurutnya, dalam 1 tahun ini ia akan bekerja keras dalam upaya untuk mengolah buah merah menjadi produk-produk yang memiliki nilai tambah.

Untuk pengelolaan dan budidaya buah merah ini, tutur Gubernur, akan lebih mudah bila dilakukan oleh masyarakat Papua jika dibandingkan dengan menanam kelapa sawit, yang sulit dan investasinya membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Terlebih masyarakat asli Papua sudah terbiasa untuk menanam dan mengolah buah Merah, sehingga ke depan ada hasil ekonomi yang bisa dinikmati.

Selain dijadikan minuman, Buah Merah dikatakan Gubernur telah dikembangkan menjadi produk lain seperti diolah menjadi sabun yang sejauh ini sangat diminati oleh seluruh Negara-negara di dunia, karena lebih harum dan cocok untuk melembutkan kulit atau sebagai sabun kecantikan.

“Jadi, permintaannya luar biasa dari berbagai Negara. Bahkan berton-ton, sehingga akan menjadi unggulan, karena Buah Merah yang memiliki kandungan vitamin A paling tinggi dari semua jenis buah, sehingga permintaan dunia kepada Indonesia terhadap vitamin A cukup tinggi, tetapi kebutuhan dalam negeri tidak mampu dicukupi,” ungkap Gubernur. (ds/art/lo2)

Buah Merah Papua: Laporan Kunjungan ke Pameran Flora Flori Nasional

LAPORAN BIOGEOGRAFI

Kunjungan ke Pameran Flora Flori Nasional Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Biogeografi

Dosen Pengampu: Gunardo RB M.Si

 

 

Disusun oleh:

Teguh Tri Susilo

12405241033

Pendidikan Geografi R 2012

 

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2013

 

“BUAH MERAH PAPUA”

 

A.      Penjelasan Singkat

Kunjungan study di Pameran Flori Flora tingkat Nasional dilaksanakan pada hari jum’at 4 oktober 2013. Pada pameran tersebut saya tertarik pada stand Papua yang dimana didalamnya terdapat berbagai macam buah dan sayur. Namun ada satu buah yang menarik perhatian saya, selain bentuknya yang unik, warnanya pun juga menarik, yaitu “buah merah”. Tanaman buah merah adalah sejenis buah tradisional dari Papua. Masyarakat suku Lani di Wamena Barat, Papua menyebutnya Tawy. Nama ilmiahnya Pandanus Conoideus Lam. Tanaman Buah Merah termasuk tanaman keluarga pandan-pandanan. Pohonnya sama dengan pandan, namun tinggi tanaman ada yang mencapai sampai 16 meter dengan tinggi batang bebas cabang sendiri setinggi 5-8 m. Batang buah merah diperkokoh oleh akar-akar tunjang pada batang sebelah bawah.

Tawy mengandung asam lemak terutama asam oleat sekitar 30%, sehingga bermanfaat untuk meningkatkan status gizi masyarakat. Buah merah juga mengandung antioksidan yang cukup tinggi, di antaranya karotenoid dan tokoferol. Antioksidan bermanfaat mencegah penyakit gondok, kebutaan, dan sebagai antikanker. Tawy juga mengandung mineral Fe, Ca, dan Zn. Tawy merupaan salah satu komoditas unggulan dari Tanah Papua. Secara tradisional Tawy dikenal masyarakat yang bermukim di daerah pantai mauun pegunungan ( Litbang, 2009), walaupun begitu pada saat ini sudah banyak dibudidayakan oleh masyarakat pedalaman Papua di wilayah pesisir dan pedalaman Tanah Papua, bahkan sampai ke luar tanah Papua juga sudah mulai dibudidayakan.

B.   Faktor Geografi Kaitannya Dengan Buah Merah

 1. Iklim

Iklim Papua sesuai bagi pertumbuhan tanaman buah merah. Data dari Stasiun Meteorologi dan Geofísika Kabupaten Jayawijaya menunjukkan, curah hujan rata-rata sebesar 173 mm/ bulan, tertinggi pada bulan Desember dan terendah bulan Juli. Jumlah hari hujan 25 hari/bulan dengan suhu udara rata-rata 20,20°C dan kelembapan 84,70%. Vegetasi yang sesuai untuk kondisi lintang tersebut adalah hutan hujan tropis yang disertai dengan suhu panas dan kelembaban tinggi. Curah hujan rata-rata yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman adalah sekitar 2000 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 100-150 hari.

 2.  Tanah

Tanaman buah merah tumbuh secara alami di dataran rendah hingga tinggi. Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai dan beradaftasi pada tanah tandus dan ber-pH masam (3,50-5,30) (Wamaer dan Malik, 2009). Berdasarkan hasil analisis tanah dari empat lokasi pengembangan buah merah di Papua (Hadad et al. 2005), umumnya tanaman buah merah dapat tumbuh pada tanah kurang subur, banyak mengandung pasir, dan bersifat agak masam (pH 4,30− 5,30) (Litbang, 2009). Salah satu sentra pengembangan tanaman buah merah di Papua adalah Kecamatan Kelila, yang terletak pada ketinggian 2.500 m dpl, dan tanahnya didominasi Podsolik dengan tekstur gelum (Litbang, 2009). Kedalaman tanah sampai batas batuan kasar atau lapisan akar tanaman mampu menembus tanah untuk menyerap unsur hara berkisar antara 100−150 cm (Sutarno, 2001).

 

C.      Budidaya Buah Merah

Tanaman buah merah umumnya dibudidayakan secara tradisional, tanpa pemupukan, dan penanganan pascapanen secara sederhana

1.      Syarat Tumbuh

Buah merah termasuk tanaman yang mudah tumbuh di mana saja, bahkan di pada tanah yang kurang subur tanaman ini dapat tumbuh. Tanaman ini dijumpai tumbuh liar pada berbagai kondisi tanah di daerah Papua dan bagian utara Maluku, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi dengan ketinggian 2.300 m di atas permukaan laut. Tanaman ini dapat tumbuh pada daerah yang memiliki kisaran suhu antara 23 – 33°C dan kelembaban udara antara 73 – 98%. Intensitas cahaya yang dibutuhkan adalah sekitar 1.000 – 3.000 lux. Buah merah menyukai lingkungan yang terlindung dan cukup rindang.

2.      Penyiapan Lahan

Lahan untuk budidaya buah merah dicangkul dengan kedalaman 20 cm, kemudian dibuat petak-petak dengan ukuran 10 – 12 m, di antara petak-petak tersebut dibuat parit selebar 0,5 – 1 m agar drainase areal penanaman lebih baik karena tanaman ini tidak menghendaki tempat yang terlalu basah dan terendam air tetapi tanah harus dalam kondisi lembab. Lokasi penanaman sebaiknya berada dekat dengan sumber air agar secara periodik air dapat dialirkan ke parit-parit dalam lokasi penanaman untuk menjaga kelembaban tanah. Pada areal budidaya buah merah sebaiknya ditanam pohon pelindung seperti lamtoro.

3.      Penyiapan Bibit

Bahan tanaman untuk perbanyakan buah merah dapat berupa setek, anakan dan biji. Setek berupa pucuk tanaman yang tumbuh di bawah tanaman induk yang dipilih yang kondisi batangnya tua, berwarna abu-abu, panjang setek 40 – 50 cm dengan diameter 2 – 3 cm. Antara batas pelepah daun sampai pangkal batang bidang pangkasan minimal 15 cm. Setek ditanam pada bedengan semai yang telah disiapkan dengan jarak tanam 60 cm x 60 cm. Tanaman juga dapat diperbanyak dengan biji. Kelemahan perbanyakan dengan cara ini adalah kualitas bibit beragam, lama berbuah, biji lama berkecambah dan daya kecambah rendah karena kerasnya kulit biji. Sebelum disemai, biji direndam dalam air selama 1 hari, lalu ditiriskan dan dibungkus kain basah selama 1 malam untuk memecah dormansi biji. Kemudian biji disemai pada bedengan dengan media tanah dan pasir (1 : 1) atau tanah dan kompos (1 : 3). Benih disebar di atas media semai, lalu ditutup pasir setebal 2 – 3 cm, lalu ditutup lagi dengan jerami atau serbuk gergaji.

4.      Penanaman

Bibit ditanam dengan jarak tanam 6 m x 6 m atau 8 m x 8 m, maka pada setiap petak penanaman terdapat dua baris tanaman, di antara barisan tanaman tersebut ditanam pohon pelindung. Lubang tanam dibuat dengan ukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm. Tanah bekas galian dicampur dengan pupuk kandang atau kompos sebanyak 20 – 30 kg/lubang tanam. Bibit ditanam hingga batas leher akar.

5.      Pemeliharaan

Selama masa pertumbuhan, tanaman ini tidak perlu dipupuk dengan pupuk kimia, cukup diberi pupuk kandang 2 – 3 kali setahun dan diberi serasah dan sisa tanaman dan dedaunan di sekitar tanaman. Pada awal pertumbuhan daun-daun tua didpangkas untuk mempercepat pertumbuhan tanaman. Pemangkasan hanya dilakukan sampai tinggi tanaman 1 – 2 m, setelah itu, tanaman dibiarkan tumbuh secara alami. Pohon pelindung perlu dikontrol pertumbuhannya, bila terlalu rimbun harus dipangkas sehingga tidak mengganggu pertumbuhan tanaman utama. Dengan pemeliharaan yang baik, tanaman akan bercabang setelah berumur 2 tahun. Biasanya 6 bulan setelah muncul percabangan tanaman mulai berbuah.

 

6.      Panen dan Pascapanen

Pada awal pembentukkannya buah akan tumbuh tegak di setiap percabangan.

Seiring perkembangannya, buah akan merunduk perlahan-lahan hingga menggantung di bawah percabangan dan siap dipanen. Buah siap dipanen bila daun-daun yang membungkus buah mulai membuka. Panen dilakukan dengan galah bambu yang bagian ujungnya dibelah. Caranya, buah dijepit di ujunbg galah, diputar lalu ditarik. Setelah panen, buah harus segera diolah karena hanya dalam waktu 3 – 4 hari buah sudah busuk dan berjamur. Panen dapat berlangsung 2 – 3 kali setahun. Produksi optimal tercapai pada umur 10 – 15 tahun dengan jumlah buah 4 – 5 buah per pohon.

 

D.    Manfaat Buah Merah

Jika dilihat dari kandungan tokoferol dan betakarotennya yang sangat banyak maka minyak sari buah merah  sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia juga karena mengandung berbagai macam vitamin dan mineral. Oleh karena sangat banyaknya kandungan buah merah hingga bisa disebut sebagai multivitamin yang berkhasiat atau dapat dijadikan pendamping obat resep dokter.

Beberapa macam jenis penyakit yang dapat disembuhkan menggunakan buah merah adalah : HIV/AIDS, kanker payudara, kista rahim, stroke, tumor, Hepatitis, jantung koroner, menormalkan peredaran darah, darah tinggi, Asam urat, Ambeien, Pegel linu, Ganguan mata, ganguan paru-paru, brookitis, asma/sesak nafas, osteoporosis, membantu system kerja otak, meningkatkan libido, stamina, maag/gangguan pencernaan akibat asam lambung. Buah merah juga sangat baik untuk kesehatan anak-anak, ibu hamil dan para  kaum manula.

1.      AIDS

Walaupun telah bertahun-tahun para ahli mencoba membuat obat yang dapat menyembuhkan AIDS tetap saja obatnya masih belum bisa ditemukan. Mungkin Anda sendiri merasa tidak percaya mengenai khasiat buah merah yang satu ini. Namun khasiat buah merah dalam menyembuhkan AIDS sudah terbukti. Dikabarkan bahwa kemampuan buah merah menyembuhkan AIDS adalah karena buah merah mengandung banyak tokoferol dan betakaroten yang sangat tinggi. Kedua kandungan ini berfungsi sebagai antioksidan dan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia. Tokoferol dan betakaroten ini akhirnya berkombinasi untuk memecah asam amino yang dibutuhkan oleh virus penyebab AIDS, HIV, sehingga virus tersebut tak dapat melangsungkan hidupnya.

2.      Kanker dan Tumor

Khasiat lain dari buah merah adalah mengobati kanker dan tumor. Kanker dan tumor tak diragukan lagi adalah salah satu penyebab kematian terbesar. Disebabkan oleh apa kanker dan tumor itu? Penyakit ini disebabkan oleh ketidakteraturan hormon dalam tubuh yang menyebabkan tumbuhnya daging di jaringan tubuh normal. Buah merah Papua dapat mengobati kanker karena kandungan tokoferolnya yang sangat tinggi, yaitu mencapai 11.000 ppm dan betakarotennya mencapai 7.000 ppm. Kedua senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta mencegah pembiakan sel-sel kanker di dalam tubuh.

3.       Stroke dan Darah Tinggi

Buah merah Papua mengandung tokoferol yang dapat mengencerkan darah dan memperlancar sirkulasi darah sehingga kandungan oksigen dalam darah menjadi normal.

4.      Asam Urat

Tokoferol dalam buah merah Papua dapat mengencerkan darah dan memperbaiki sistem kerja lever. Sistem kerja lever, setelah diperbaiki, memproduksi kadar asam urat yang normal.

5.      Diabetes Mellitus (Kencing Manis)

Kandungan tokoferol dalam buah merah Papua dapat memperbaiki kerja pankreas sehingga fungsi pankreas menjadi normal kembali.

6.      Osteoporosis

Buah merah Papua adalah herbal yang kaya akan kalsium sehingga dapat mencegah dan mengobati osteoporosis. Dalam 100 gram buah merah segar terkandung 54.000 miligram kalsium.

7.      Gangguan Mata

Kandungan betakaroten yang tinggi dalam buah merah Papua mampu mengatasi banyak jenis penyakit mata yang disebabkan kekurangan vitamin A. Betakaroten diserap oleh tubuh dan diolah menjadi vitamin A.

8.      Meningkatkan Kecerdasan

Kandungan omega 3 dan omega 6 dalam buah merah dapat merangsang daya kerja otak dan meningkatkan kecerdasan. Oleh karena itu buah merah cocok untuk dikonsumsi oleh anak-anak dan pelajar.

9.      Meningkatkan Gairah dan Kesuburan

Buah merah, menurut mereka yang mengkonsumsinya, dapat membantu meningkatkan gairah seksual kaum pria. Efek pengobatan bervariasi, ada yang bereaksi setelah 15 menit meminumnya, ada juga yang setelah satu atau dua jam meminumnya. Vitamin E dalam buah merah Papua dapat membantu meningkatkan produksi sperma. Selain itu, buah merah mengandung energi tinggi, yaitu 360 kalori. Selain khasiat-khasiat yang telah disebutkan di atas, buah merah Papua dikabarkan dapat juga mengobati penyakit lambung, wasir, gangguan pada paru-paru dan sebagainya.

 

Daftar Pustaka

  1. Stand Papua di Pameran Flora Flori Nasional
  2. co.id
  3. Manfaat Buah Merah. Diakses dari http://www.buahmerahpapua.web.id/p/khasiat-manfaat-buah-merah.html

Faktor Tanah dalam Pengembangan Tawy

Sumber artikel: FAKTOR TANAH DALAM PENGEMBANGAN TAWY (TAWY / Pandanus conoideus Lamk.), diedit seperlunya dan disajikan oleh Buahmerahwamena.com

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tanaman Tawy (buah merah), dengan nama ilmiah Pandanus conoideus Lamk. merupakan salah satu tanaman asli di Tanah Papua, tumbuh menyebar mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai, dan beradaptasi dengan baik pada tanah tandus dengan pH masam (4,30−5,30). Tanaman umumnya dibudidayakan secara tradisional, tanpa pemupukan, dan penanganan pascapanen dilakukan secara sederhana untuk konsumsi sendiri.

Berdasarkan hasil penelitian tahun 2006 dibuktikan bahwa minyak yang dihasilkan dari Tawy digunakan sebagai penyedap masakan yang bernilai gizi tinggi karena mengandung beta-karoten, juga dimanfaatkan sebagai pewarna alami yang tidak mengandung logam berat dan mikroorganisme berbahaya. Masih menurut penelitian I Made Budi, dosen Universitas Cenderawasih ini, minyak Tawy juga berkhasiat mengobati beberapa penyakit, seperti kanker, HIV, malaria, kolesterol, dan diabetes. Semtnara itu, ampas dari pemerasan Tawy dapat digunakan sebagai pakan ungags, pakan babi, dan pakan ikan. Secara tradisional ampas biasanya digunakan sebagai pupuk untuk tanaman dan makanan babi.

Karena kegunaannya yang beragam, minyak Tawy diminati konsumen baik di dalam negeri maupun mancanegara dengan harga yang cukup tinggi. Peluang pengembangan Tawy cukup baik, karena selain harganya yang mahal, budi daya dan cara pengolahannya sederhana (Litbang, 2009).

Iklim Tanah Papua (mulai dari Sorong sampai Samarai) sesuai bagi pertumbuhan tanaman Tawy. Data dari Stasiun Meteorologi dan Geofísika Kabupaten Jayawijaya tahun 2004 menunjukkan, curah hujan rata-rata sebesar 173 mm/ bulan, tertinggi pada bulan Desember dan terendah bulan Juli. Jumlah hari hujan 25 hari/bulan dengan suhu udara rata-rata 20,20°C dan kelembapan 84,70% (Badan Pusat Statistik Provinsi Papua, 2005). Pada curah hujan tinggi inilah, biasanya dikenal di pegunungan tengah sebagai musim panen Tawy. Semakin tinggi curah hujan, maka semakin sering Tawy berbuah.

Kondisi iklim tersebut sangat mendukung bagi pertumbuhan tanaman Tawy. Tawy mengandung asam lemak terutama asam oleat sekitar 30%, sehingga bermanfaat untuk meningkatkan status gizi masyarakat. Tawy juga mengandung antioksidan yang cukup tinggi, di antaranya karotenoid dan tokoferol. Antioksidan bermanfaat mencegah penyakit gondok, kebutaan, dan sebagai antikanker. Tawy juga mengandung mineral Fe, Ca, dan Zn (Budi, 2003).

Tawy merupaan salah satu komoditas unggulan Papua yang begitu gencar dipromosikan oleh berbagai pihak, terutama gubernur Provinsi Papua, Lukas enembe. Secara tradisional Tawy dikenal masyarakat yang bermukim di daerah pantai maupun pegunungan( Litbang, 2009). Akan tetapi masyarakat di pesisir tidak memanfaatkannya seoptimal yang dimanfaatkan di pegunungan tengah. Di pegunungan tengah sudah terdapat Kepala Suku Tawy, di mana tanaman, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan Tawy semuanya dilakukan dibawah komando sang Kepala Suku Tawy.

Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui faktor tanah dalam pengembangan Tawy (Pandanus conoideus Lamk.).

Kegunaan Percobaan

– Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti pra praktikal tes di Laboratorium Budidaya Tanaman Hortikultura Universitas Sumatera Utara, Medan.

– Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

Botani Tanaman

Menurut wikipedia (2010), Tawy (Pandanus conoideus Lamk.) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

  • Kingdom : Plantae
  • Divisio : Spermatophyta
  • Subdivisio : Magnoliophyta
  • Kelas : Liliopsida
  • Ordo : Pandanales
  • Famili : Pandanaceae
  • Genus : Pandanus
  • Spesies : Pandanus conoideus Lamk.

 

Tawy memiliki akar tunjang 0,20−3,50 m, lingkar akar 6−20 cm, berwarna coklat dengan bercak putih, bentuk bulat, dan permukaan berduri. Jumlah akar dalam satu rumpun berkisar antara 11−97 (Lebang dkk., 2004).

Batang utama berkisar antara 20−40 cm, tinggi tanaman 2−3,50 m. Batang berwarna coklat dengan bercak putih, berbentuk bulat, berkas pembuluh tidak tampak jelas, keras, arah tumbuh vertikal atau tegak, jumlah percabangan 2−4, dan permukaan berduri. (Litbang, 2009).

Daun berukuran 96 cm x 9,30 cm sampai 323 cm x 15 cm. Ujung daun bertusuk (micronate), pangkal merompong (cut off), tepi daun dan bagian bawah tulang daun berduri. Komposisi daun tunggal dengan susunan daun berseling (alternate). Daun lentur, berwarna hijau tua, pola pertulangan daun sejajar, tanpa tangkai daun (sessile), dan tidak beraroma (Lebang dkk., 2004).

Bunga menyerupai bunga nangka dengan warna kemerahan. Muncul pada percabangan dengan merumpun ataupun tunggal. Buah menunjukan adanya pertumbuhan generatif dari tanaman tersebut (Limbong dan Uhi, 2005).

Buah berukuran panjang 68– 110 cm, diameter 10−15 cm, berbentuk silindris, ujung menumpul, dan pangkal menjantung. Saat masih muda, buah berwarna merah pucat, dan berubah menjadi merah bata saat tua (Lebang dkk., 2004).

 

Syarat Tumbuh

Iklim

Iklim Papua sesuai bagi pertumbuhan tanaman buah merah. Data dari Stasiun Meteorologi dan Geofísika Kabupaten Jayawijaya tahun 2004 menunjukkan, curah hujan rata-rata sebesar 173 mm/ bulan, tertinggi pada bulan Desember dan terendah bulan Juli. Jumlah hari hujan 25 hari/bulan dengan suhu udara rata-rata 20,20°C dan kelembapan 84,70% (BPPS Papua, 2005).

Vegetasi yang sesuai untuk kondisi lintang tersebut adalah hutan hujan tropis yang disertai dengan suhu panas dan kelembaban tinggi. Curah hujan rata-rata yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman adalah sekitar 2000 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 100-150 hari (Litbang, 2009).

Tanah

Tanaman Tawy tumbuh secara alami di dataran rendah hingga tinggi. Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai dan beradaftasi pada tanah tandus dan ber-pH masam (3,50-5,30) (Wamaer dan Malik, 2009).

Berdasarkan hasil analisis tanah dari empat lokasi pengembangan Tawy di Papua (Hadad et al. 2005), umumnya tanaman Tawy dapat tumbuh pada tanah kurang subur, banyak mengandung pasir, dan bersifat agak masam (pH 4,30− 5,30) (Litbang, 2009).

Salah satu sentra pengembangan tanaman Tawy di Papua adalah Kecamatan Kelila, yang terletak pada ketinggian 2.500 m dpl, dan tanahnya didominasi Podsolik dengan tekstur gelum (Litbang, 2009).

Kedalaman tanah sampai batas batuan kasar atau lapisan akar tanaman mampu menembus tanah untuk menyerap unsur hara berkisar antara 100−150 cm (Sutarno, 2001).

 

Gambar 1: Bibit Tawy dan tanaman dewasa serta buah siap olah dari tipe

Tawy panjang

 

FAKTOR TANAH DALAM PENGEMBANGAN TAWY

Keadaan Sifat Fisik tanah

Pada umumnya sifat fisik tanah menjadi hal penting dalam menyesuaikan komoditi dan pertumbuhan tanaman. Namun tanaman Tawy tidaklah tanman yang manja untuk dapat tumbuhmenjadi tanman yang ideal. Faktor fisisk tanah bukanlah penghmabat karena secara umum tanaman ini dapat tumbuh dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Untuk iklim tropis seperti indonesia wilayahnya dapat ditumbuhi tanaman liar ini (Litbang, 2009).

Bila tanaman yang dibudidayakan membutuhkan pemeliharaan yang intensif namun untuk Tawy tidaklahdemikian karena tanaman ini adalah tanaman tumbuh liar dan dapat tumbuh pada kesubutran rendah dan tanah masam ( Nainggolan, 2001).

Sifat fisik tanah bukanlah hal yang dianggap mendominasi keadaan tanamn namun secara umum tanaman ini mampu tumbuh optimal di tanh berpasir ( Litaban, 2009).

Tekstur Tanah dan Struktur Tanah

Sebagian besar tanaman Tawy masih tumbuh liar dan belum dibudidayakan walaupun sudah ada namun jumlahnya relatif kecil, karena secara ilmiah masih banyak orang yang beranggapan bahwa tanaman ini adalah tanaman liar. Tekstur untuk tanaman ini pada umumnya cocok pada daerah berpasir karena habitat asli berada di sekitar sungai dan aliran sungai (Litang, 2010).

Tekstur dan struktur tanah pada tanaman ini merupakan hal yang menentukan pertumbuhan tanaman ini. Karena pada dasaranya dalahtumbuhna liar maka tanaman ini mudah dibudidayakan( Naingggolan, 2001).

Tanaman Tawy dapat tumbuh pada dataran rendah hingga ketinggian 2.500 m dari permukaan laut (dpl), dengan kesuburan tanah rendah, masam sampai agak masam, dan naungan 0−15%, tanahnya podzolik dan teksturnya gelum (Nainggolan, 2001).

Tekstur Tanah Setempat

Tanaman Tawy (Pandanus conoideus Lamk.) merupakan salah satu tanaman tradisional Papua, tumbuh menyebar mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. ( Litbang , 2009).

Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai, dan beradaptasi dengan baik pada tanah tandus dengan pH masam (4,30−5,30). Tanaman umumnya dibudidayakan secara tradisional, tanpa pemupukan, dan penanganan pascapanen secara sederhana ( Sutarno, 2001).

Pengaruh Lingkungan

Pengaruh lingkunagan sangatlah berkaitan dengan pertumbuhan tanaman, namun tanman ini sangat resisten terhadap berbagai pengaruh lingkungan ( Usman, 2007).

Hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam konsdisis lapang Tawy adalaha sebagai berikut: tanaman dapat beradaftasi secra luas budidaya cukup mudahdapat tumbuh pada keadaan kurang suburnamun cukup air, tanaman kurang disukai hama dan penyakit ( Litbang, 2009 ).

Umumnya tanamna Tawy tanaman Tawy dapat tumbuh pada tanah kurang subur, banyak mengandung pasir, dan bersifat agak masam (pH 4,30− 5,30). Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai. Menurut Yuhono dan Malik (2006), lebih dari 90% tanaman Tawy tumbuh secara liar atau dipelihara dengan teknologi budi daya dan pascapanen seadanya. Dan tanaman ini sebenaranya tempat tumbuh yang optimal adalah padadaerah tropis di kepualuan Papua ( Hadad dkk., 2005 ).

 

PELUANG PENGEMBANGAN BUAH MERAH

Tawy merupakan salah satu komoditas unggulan Papua. Secara tradisional, Tawy sudah dikenal masyarakat yang bermukim di daerah pantai maupun pegunungan. Daya tarik Tawy adalah kandungan kimianya, berupa zat gizi penting untuk ketahanan tubuh seperti beta-karoten, tokoferol (vitamin E), asam linolenat, asam oleat, asam stearat, dan asam palmitat. Beta-karoten dan tokoferol dikenal sebagai senyawa antioksidan yang dapat menghambat perkembangan radikal bebas di dalam tubuh manusia. Oleh karena itu, Tawy potensial dikembangkan sebagai bahan baku obat degeneratif, seperti gangguan jantung, lever, kolesterol, diabetes, asam urat, osteoporosis, serta sebagai antiinfeksi seperti HIV (Hadad dkk., 2005).

Lahan yang berpotensi untuk pengembangan komoditas perkebunan, termasuk buah merah, di Papua tersebar di beberapa kabupaten, antara lain Jayawijaya, Puncak Jaya, Tolikara, Yahukimo, Jayapura, Manokwari, Sorong, Merauke, Biak, Nabire, Paniai, Yapen Waropen, Mimika, dan Fakfak. Luasnya mencapai 7,20 juta ha, namun baru dimanfaatkan 165.885 ha (Rumbarar, 2002).

Pemanfaatan Tawy oleh masyarakat lokal, baik sebgai sumber gzi, penyedap masakan, obat beberapa jenis penyakit, maupun pakan ternak ( Litbang, 2009 ).

Tawy yang diperdagagangkan sebagian besar berasal dari tanaman yang tidak dibudidayakan, sehingga bea budidaya dianggap nol ( Karyono, 2003 ).

Pada sistem budidayanya walaupun tanaman Tawy oleh masyarakat dianggap sebagai tanman tradisional, upaya pengembangan perlu diikuti dengan teknik budidya yang sesuai meliputi pembibitan, penanaman dan pemeliharaan tanaman. Tanman diperbanyak secra vegetatif menggunakan stek tunas dari akar atau batang stek (Litbang, 2009).

Daya tarik Tawy adalah kandungan kimianya, yaitu zat gizi penting untuk ketahanan tubuh. Oleh karena itu, Hadad dkk., (2006) menyatakan, tanaman ini berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku obat degeneratif untuk mengobati penyakit HIV, di samping sebagai penunjang makanan pokok sehari-hari. Tulisan ini menginformasikan peluang pengembangan buah merah, termasuk karakteristik botani, varietas, cara budi daya, panen, pascapanen, dan kegunaannya sebagai sumber pangan, pakan, pewarna alami maupun bahan baku obat-obatan.

KESIMPULAN

  1. Peluang pengembangan tanaman Tawy ke depan cukup baik karena budi daya tanaman dan cara pengolahan minyaknya mudah dilaksanakan di tingkat petani, selain harga minyak cukup tinggi.
  2. Masyarakat meyakini bahwa minyak Tawy memiliki berbagai manfaat, antara lain sebagai bahan baku obat-obatan, makanan, pewarna alami, kosmetik, dan limbahnya sebagai pakan.
  3. Tawy merupakan tanaman yang mampu hidup pada tanah yang kurang baik atau tandus dan pH masam
  4. Pengembangan tanaman Tawy harus dilakukan engan menerapkan teknologi budi daya dan pascapanen sesuai dengan sifat dan karakter biologis tanaman
  5. Faktor tanah dalam pengembangan Tawy menjadi hal yang cukup penting untuk pertumbuhan dan perkembangan
  6. Tanaman Tawy dapat tumbuh optimal di tanah yang kurang subur atau tandus sekalipun kareana itu tanman ini biasa disebut tanaman liar
  7. pH masam dan tekstur berpasir adalah kondisi tanah yang ideal untuk pertumbuhan
  8. Kesuburan tanah yang rendah bukanah faktor pembatas dalam penentuan kondisi fisik tanah untuk tanaman buah

DAFTAR PUSTAKA

  1. Badan Pusat Statistik Provinsi Papua. 2005. Papua dalam Angka Tahun 2004/2005.
  2. .
  3. Budi, M. 2003. Potensi Kandungan Gizi Tawy (p. Conoideus lamk.) Sebagai Sumber Pangan Alternatif Untuk Mendukung Ketahanan Pangan Masyarakat Papua. Kerja Sama Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Jayapura Dengan Universitas Negeri Papua.
  4. Hadad, M., Atekan, A. Malik, dan D. Wamaer. 2006. Karakteristik dan Potensial Tanaman Tawy (Pandanus conoideus Lamk.). Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Bogor.
  5. Karyono, O.K. 2003. Nilai Ekonomi Tawy di Bawah Tegakan Hutan Rakyat; Studi Kasus di Kabupaten Wamena. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor.
  6. Lebang, A., Amiruddin, J. Limbongan, G.I. Kore, S. Pambunan, dan I M. Budi. 2004. Laporan Usulan Pelepasan Varietas Tawy Mbarugum. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Papua.
  7. Limbongan, J. dan H.T. Uhi. 2005. Penggalian Data Pendukung Domestikasi dan Komersialisasi Jenis, Spesies dan Varietas Tanaman Buah di Provinsi Papua. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. Jakarta.
  8. 2009. Jurnal Litbang Pertanian. Bogor.
  9. Nainggolan, D. 2001. Aspek Ekologis Kultivar Tawy Panjang (Pandanus conoideus Lamk.) di Daerah Dataran Rendah Manokwari.Universitas Negeri Papua. Manokwari.
  10. Rumbarar, L. 2002. Kebijakan Pembangunan Wilayah Perkebunan.Jayapura
  11. Sutarno, S. 2001. Tumbuhan Penghasil Warna Alami dan Pemanfaatannya dalam Kehidupan Suku Meyah di Desa Yoom Nuni. Universitas Negeri Papua. Manokwari.
  12. 2007. Pemanfaatan Pasta Tawy Sebagai Pakan Alternatif Ayam Buras Periode Grower. BPTP. Papua,
  13. Wamaer, D. dan A. Malik. 2009. Analisis Finansial Pascapanen Tawy (Pandanus conoideus Lamk.). Jurnal Tambue Universitas Moh. Yamin Solok.
  14. 2010. Buah Merah. Http://wiki.buahmerah. Diaksese 28 Oktober 2010
  15. ..
  16. Terkait
  17. BUDIDAYA KENTANG HITAM ( Soleneotemon rotundifolius (Poir) J. K. Mort.) PADA TANAH MINERAL MASAMDengan 3 komentar
  18. HIDROPONIKDengan 3 komentar
  19. RESPONS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN BAYAM (Amaranthus sp.) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK NPKDengan 1 komentar

 

Tawy, Khasiatnya, Budidaya dan Pengolahannya

Written By sinar papua on Rabu, 19 September 2012 | Diedit dan diolah oleh Buahmerahwamena.com

(Sinar Papua)- Tawy (Buah merah) termasuk tanaman endemik. Secara umum habitat asal tanaman ini adalah hutan sekunder dengan kondisi tanah lembab. Tanaman ini ditemukan tumbuh liar di tanah Papua, pulau New Guinea.

Tanaman ini termasuk terna berbentuk semak, perdu atau pohon. Tinggi tanaman dapat mencapai 16 meter. Batang berwarna coklat bebercak putih, dengan semacam duri-duri seperti buah nangka menancap keluar. Akar tanaman berfungsi sebagai penyokong tegaknya tanaman, Akar-akar tunjang muncul dari bagian batang dekat permukaan tanah berfungsi sebagai penguat batang, diameter antara 8 – 1,5 cm.

Tanaman Tawy berdaun tunggal berbentuk lanset sungsang (oblanceolate) berwarna hijau tua, letaknya berseling. Ujung daun runcing, pangkal daun memeluk batang. Permukaan daun licin, tepi daun ada yang berduri ada juga yang tidak berduri.

Jenis Tawy
Di Papua terdapat lebih dari 30 jenis Tawy, tetapi ada 4 kultivar yang banyak dikembangkan yaitu :
1. Kultivar yang merah panjang, memiliki buah berbentuk silindris, ujung tumpul dan pangkal menjantung. Panjang buah mencapai 96 – 102 cm dengan diameter 15 – 20 cm. Bobot buah mencapai 7 – 8 kg. Warna buah merah bata saat muda dan merah terang setelah matang. Buah dibungkus daun pelindung berbentuk melancip dengan duri pada tulang utama sepanjang 8/10 bagian dari ujung. Buah ini dalam Bahasa Lani disbut Maler dan Ugwi.
2. Kultivar merah pendek, memiliki buah berbentuk silindris, ujung melancip, pangkal menjantung. Panjang buah mencapai 55 cm, diameter 10 – 15 cm, bobot buah 2 – 3 kg. Warna buah saat muda merah kotor dan saat matang berwarna merah terang. Buah terbungkus daun pelindung meruncing, dengand duri sepanjang ½ baian tulang utama. Dalam Bahasa Lani disebut Magari atau ada juga kwambir.
3. Kultivar merah coklat, memiliki buah berbentuk silindris, ujung tumpul, pangkal menjantung. Panjang buah 27 – 33 cm, diameter 6,9 – 12 cm, bobot 2 – 3 kg. Buah berwarna merah kecoklatan, tertutup daun pelindung meruncing, dengan duri sepanjang 2/3 dari tulang utama. Dalam Bahasa Lani disebut Mbagarum, Ugwi, Perry dan sebagainya.
4. Kultivar kuning, memiliki buah berbentuk silindris, ujung tumpul dengan pangkal menjantung. Panjang buah 35 – 42 cm, diameter 11 – 12 cm, bobot buah 2 – 3 kg. Dalam Bahasa Lani tidak disebut Tawy, tetapi disebut Mbarugum. Dia bukan-lah buah merah, tetapi buah kuning, atau buah emas ialah nama yang paling tepat.
Kami sebagai orang pemiliki Tawy dan Wanggene menyebut buah ini dengan nama “Buah Pandan Merah” dan “Buah Pandan Kuning”, dan BUKAN BUAH MERAH. Dengan memberi nama kepada Tawy dan Wanggene sebagai “Buah Merah”, maka secara konseptual dengan jelas telah mengaburkan nama Buah Kuning. Malahan kebanyakan menyebutnya “Buah Merah Kuning”, sebuah sebutan yang jelas-jelas menunukkan kesalahan fatal dalam konsep berpikir dan konsep warna.
Daun pelindung buah melancip. Tulang utama berduri sepanjang 1/3 bagian dari pangkalnya. Buah muda berwarna hijau dan bila matang berwarna kuning.

Di dalam buah tersusun ribuan biji yang berbaris rapi membentuk kulit biji, dari luar kelihatan seperti biji-biji buah nangka.

Panjang biji 9 – 13 mm. Bagian atas biji meruncing, pangkal biji menempel pada bagian jantung, sedangkan ujungnya membentuk totol-totol di bagian kulit buah. Biji berwarna putih, tetapi karena minyak Tawy, tetapi dalam kondisi masih terkena minyak ia berwarna kecoklatan dibungkus daging tipis berupa lemak. Warna daging kuning, coklat atau merah bata, tergantung jenisnya.

Syarat Tumbuh
Tawy termasuk tanaman yang mudah tumbuh di mana saja, bahkan di tanah yang kurang subur tanaman ini dapat tumbuh. Tanaman ini dijumpai tumbuh liar pada berbagai kondisi tanah di pulau New Guinea dan bagian utara Maluku, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi dengan ketinggian 2.300 m di atas permukaan laut.

Tanaman ini dapat tumbuh pada daerah yang memiliki kisaran suhu antara 23 – 33°C dan kelembaban udara antara 73 – 98%. Intensitas cahaya yang dibutuhkan adalah sekitar 1.000 – 3.000 lux. Tawy menyukai lingkungan yang terlindung dan cukup rindang.

Tanaman Tawy dapat tumbuh baik pada kondisi tanah lembab. Jenis tanah yang disukai adalah tanah yang gembur, subur, dan kaya akan humus. Tekstur tanah yang dikehendaki adalah liat lempung, tanah hitam tetapi gembur atau tanah berpasir. pH tanah yang dibutuhkan sekitar 5,4 – 6,2 dengan nilai KTK (Kapasitas Tukar Kation) rendah.

Budidaya Tanaman
Penyiapan Lahan
Lahan untuk budidaya Tawy dicangkul dengan kedalaman 20 cm, kemudian dibuat petak-petak dengan ukuran 10 – 12 m, di antara petak-petak tersebut dibuat parit selebar 0,5 – 1 m agar drainase areal penanaman lebih baik karena tanaman ini tidak menghendaki tempat yang terlalu basah dan terendam air tetapi tanah harus dalam kondisi lembab.

Lokasi penanaman sebaiknya berada dekat dengan sumber air agar secara periodik air dapat dialirkan ke parit-parit dalam lokasi penanaman untuk menjaga kelembaban tanah. Pada areal budidaya buah merah sebaiknya ditanam pohon pelindung seperti lamtoro.

Penyiapan Bibit
Di pedalaman Papua biji Tawy jarang menumbuhkan benih, tetapi di pesisir Papua biji Tawy ialah benih yang tumbuh sama seperti jagung. Maka budidaya di pegunungan sering dilakukan dengan mengambil setek dari tunas yang baru tumbuh di induk Tawy yang ada, sementara di pesisir dapat dilakukan dengan cara mencangkok, atapun dengan menaburkan biji-biji Tawy ke media untuk membiarkan benih Tawy bertumbuh.
Bahan tanaman untuk perbanyakan buah merah dapat berupa setek, anakan dan biji. Setek berupa pucuk tanaman yang tumbuh di bawah tanaman induk yang dipilih yang kondisi batangnya tua, berwarna abu-abu, panjang setek 40 – 50 cm dengan diameter 2 – 3 cm. Antara batas pelepah daun sampai pangkal batang bidang pangkasan minimal 15 cm. Setek atau biji ditanam pada bedengan semai yang telah disiapkan dengan jarak tanam 60 cm x 60 cm. Media tanam adalah campuran antara tanah topsoil dengan pupuk kandang atau kompos dengan perbandingan 1 : 1, media semai harus lembab. Lokasi persemaian terlindung dari sinar matahari langsung, sebaiknya berada di bawah pohon pelindung. Setelah ditanam bedeng semai ditutup dengan shadingnet 60 – 70%. Media semai disiram dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari.

Setelah 1 – 2 minggu daun mulai muncul dan perakaran mulai terbentuk. Setelah 2 – 3 minggu dan berdaun 4 – 5 helai, bibit dapat dipindahkan ke dalam polibeg. Bibit dapat ditanam di lahan setelah berumur 1 – 2 bulan.

Bahan tanam lain adalah anakan yaitu tunas yang keluar dari bagian batang dan perakaran tanaman. Anakan dipilih yang berukuran 15 – 20 cm. Setelah dipisah dari induk, anakan ditanam di bedengan yang telah disiapkan dengan jarak tanam 50 cm x 50 cm atau 60 cm x 60 cm. Media pada persemaian harus dijaga kelembabannya, disiram setiap pagi dan sore hari dan diberi shadingnet. Bibit dari anakan dapat dipindahkan ke lahan setelah mencapai tinggi 40 – 50 cm yaitu pada umur 3 – 4 bulan.

Tanaman juga dapat diperbanyak dengan biji. Kelemahan perbanyakan dengan cara ini adalah kualitas bibit beragam, lama berbuah, biji lama berkecambah dan daya kecambah rendah karena kerasnya kulit biji. Sebelum disemai, biji direndam dalam air selama 1 hari, lalu ditiriskan dan dibungkus kain basah selama 1 malam untuk memecah dormansi biji. Kemudian biji disemai pada bedengan dengan media tanah dan pasir (1 : 1) atau tanah dan kompos (1 : 3). Benih disebar di atas media semai, lalu ditutup pasir setebal 2 – 3 cm, lalu ditutup lagi dengan jerami atau serbuk gergaji.

Media semai disiram sekali sehari. Setelah 2 – 3 bulan benih akan berkecambah. Kebanyakan orang Papua menanam buah merah pada musim hujan sehingga secara alamiah disirami dengan hujan.

Setelah bibit berukuran 5 – 10 cm sebaiknya dipindah ke polibag yang telah diisi media berupa campuran topsoil dengan pupuk kandang atau kompos dengan perbandingan 1 : 1. Tanaman di pembibitan diberi shadingnet 50 – 60% dan penyiraman dilakukan setiap hari. Bibit dapat dipindahkan ke lapangan setelah mencapai tinggi 25 – 40 cm dengan diameter batang 2 cm.
Tanaman yang berasal dari biji akan berbuah setelah berumur 5 tahun, sedangkan tanaman yang berasal dari tunas akan berbuah kurang dari 3 tahun.

Penanaman
Ukuran dan jarang tanam secara tradisional tidak pernah diajarkan. Tetapi setelah dipelajari dan dikembangkan secara modern, maka terdapat ukuran dan jarak tanam tertentu. Bibit ditanam dengan jarak tanam 6 m x 6 m atau 8 m x 8 m, maka pada setiap petak penanaman terdapat dua baris tanaman, di antara barisan tanaman tersebut ditanam pohon pelindung. Lubang tanam dibuat dengan ukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm. Tanah bekas galian dicampur dengan pupuk kandang atau kompos sebanyak 20 – 30 kg/lubang tanam. Bibit ditanam hingga batas leher akar.

Pemeliharaan
Selama masa pertumbuhan, tanaman ini tidak perlu dipupuk dengan pupuk kimia, cukup diberi pupuk kandang 2 – 3 kali setahun dan diberi serasah dan sisa tanaman dan dedaunan di sekitar tanaman. Sementara secara tradisional Tawy tidak pernah diberi pupuk apapun. Ia bertumbuh sendiri. Kadangkala Tawy yang ditanam dipinggir dapur atau rumah akan mendapatkan pupuk organic dari sisah makanan atau sisah dapur.
Pada awal pertumbuhan daun-daun tua didpangkas untuk mempercepat pertumbuhan tanaman. Pemangkasan hanya dilakukan sampai tinggi tanaman 1 – 2 m, setelah itu, tanaman dibiarkan tumbuh secara alami. Pohon pelindung perlu dikontrol pertumbuhannya, bila terlalu rimbun harus dipangkas sehingga tidak mengganggu pertumbuhan tanaman utama.

Dengan pemeliharaan yang baik, tanaman akan bercabang setelah berumur 2 tahun. Biasanya 6 bulan setelah muncul percabangan tanaman mulai berbuah.

Panen dan Pascapanen
Pada awal pembentukkannya buah akan tumbuh tegak di setiap percabangan dan warna buah agak merah gelap, bercampur hijau.

Seiring perkembangannya, buah akan merunduk perlahan-lahan hingga menggantung di bawah percabangan dan siap dipanen, warnanya akan memerah, tempat yang tadinya hijau menjadi merah terang, dan bagian yang terkena panas matahari langsung akan berwarna merah gelap (maroon). Buah siap dipanen bila daun-daun yang membungkus buah mulai membuka, dan mengering. Panen dilakukan dengan galah bambu yang bagian ujungnya dibelah. Caranya, buah dijepit di ujunbg galah, diputar lalu ditarik. Penarikan dilakukan ke arah batang pohon.
Setelah panen, buah harus segera diolah karena hanya dalam waktu 3 – 4 hari buah sudah busuk dan berjamur. Panen dapat berlangsung 2 – 3 kali setahun untuk daearh pedalaman/ pegunungan New Guinea, tetapi di persisir pantai Tawy berbuah sepanjang tahun. Produksi optimal tercapai pada umur 10 – 15 tahun dengan jumlah buah 4 – 5 buah per pohon.

Pengolahan Tawy
Cara pembuatan sari buah merah adalah sebagai berikut :
1. Pilih buah yang benar-benar matang yaitu kulit buah berwarna merah menyala dan jarak antar tonjolan cukup jarang.
2. Buah dibelah, lalu dikeluarkan empelurnya, selanjutnya dipotong-potong, lalu dicuci dengan air hingga bersih.
3. Daging buah dikukus dengan api sedang sekitar 1 – 1,5 jam. Setelah matang, daging buah lunak, angkat dan didinginkan.
4. Tambahkan sedikit air, lalu diperas hingga menjadi seperti pasta. Saring pasta untuk memisahkan bijinya.
5. Pasta dimasak kembali dalam wajan selama 4 – 5 jam. Setelah mulai mendidih, pasta tetap dibiarkan di atas api selama 10 menit hingga muncul minyak berwarna kehitaman di atas permukaan pasta.
6. Angkat dan diamkan selama 1 hari. Minyak yang terbentuk diambil perlahanlahan dengan menggunakan sendok, pindahkan minyak ke wadah transparan seperti gelas atau mangkuk, lalu diamkan selama 2 jam hingga minyak dan air benar-benar terpisah.
7. Kemudian pisahkan minyak ke wadah lain dengan menggunakan sendok.
Diamkan lagi selama 2 jam. Jika sudah tidak ada air yang tercampur, berarti proses pengolahan sudah berakhir. Dari satu buah akan diperoleh sari buah merah sebanyak 150 – 200 ml.

Kandungan Kimia
Kandungan kimia buah merah adalah karotenoid (12.000 ppm), tokoferol (11.000 ppm), betakaroten (700 ppm), alfa-tokoferol (500 ppm), asam oleat 58%, asam linoleat (8,8%), asam linolenat (7,8%), dekanoat (2,0%), kalsium, fosfor, besi, vitamin B1, vitamin C dan nialin.

Efek Farmakologis dan Hasil Penelitian
Efek farmakologis buah merah antivirus, antibiotik, antioksidan, penurun kadar kolesterol.
Beberapa penelitian yang menguji efek farmakologis buah merah antara lain:
• Ekstrak buah merah mempercepat penyembuhan penyembuhan luka yang telah diberiCandida albicans, Staphylucoccus aureus, dan Microsporum gypseum pada kelinci. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak buah meradh amat berpotensi sebagai antiiritasi/infeksi (Prof. Dr. Elin Yulinah, 2005, JF FMIPA ITB).
• Hasil uji toksitas menunjukkan LD50 mencit jantan 2,687 g/kg bb. dan mencit betina 6,714 g/kg bb. Hal ini menunjukkan dosis buah merah yang banyak dianjurkan cukup aman (Dr. Yahdiana Harahap dan Dra. Syafrida Siregar Apt, 2005, JF UI).

Khasiat dan Cara Pemakaian

1. Kanker hati dan tumor otak
Bahan : Sari buah merah
Pemakaian :
Sari buah merah diminum dua kali sehari masing-masing 1 sendok makan.

2. Tumor payudara
Bahan : Sari buah merah dan minyak ikan hiu
Pemakaian :
Sari buah merah dan minyak ikan hiu diminum 3 kali sehari masing-masing 1 sendok makan.

3. HIV/AIDS
Bahan : Sari buah merah
Pemakaian :
Sari buah merah diminum 3 kali sehari masing-masing 1 sendok makan.

4. Stroke
Bahan : Sari buah merah
Pemakaian :
Sari buah merah diminum satu kali sehari dengan dosis 1 sendok teh (Budi dan Paimin,2004).

Sumber: diperta.jabarprov.go.id (Seksi Perlintan Hortikultura Bidang Hortikultura Diperta Jabar)
Penulis: Seksi Perlintan Hort