Faktor Tanah dalam Pengembangan Tawy

Sumber artikel: FAKTOR TANAH DALAM PENGEMBANGAN TAWY (TAWY / Pandanus conoideus Lamk.), diedit seperlunya dan disajikan oleh Buahmerahwamena.com

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tanaman Tawy (buah merah), dengan nama ilmiah Pandanus conoideus Lamk. merupakan salah satu tanaman asli di Tanah Papua, tumbuh menyebar mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai, dan beradaptasi dengan baik pada tanah tandus dengan pH masam (4,30−5,30). Tanaman umumnya dibudidayakan secara tradisional, tanpa pemupukan, dan penanganan pascapanen dilakukan secara sederhana untuk konsumsi sendiri.

Berdasarkan hasil penelitian tahun 2006 dibuktikan bahwa minyak yang dihasilkan dari Tawy digunakan sebagai penyedap masakan yang bernilai gizi tinggi karena mengandung beta-karoten, juga dimanfaatkan sebagai pewarna alami yang tidak mengandung logam berat dan mikroorganisme berbahaya. Masih menurut penelitian I Made Budi, dosen Universitas Cenderawasih ini, minyak Tawy juga berkhasiat mengobati beberapa penyakit, seperti kanker, HIV, malaria, kolesterol, dan diabetes. Semtnara itu, ampas dari pemerasan Tawy dapat digunakan sebagai pakan ungags, pakan babi, dan pakan ikan. Secara tradisional ampas biasanya digunakan sebagai pupuk untuk tanaman dan makanan babi.

Karena kegunaannya yang beragam, minyak Tawy diminati konsumen baik di dalam negeri maupun mancanegara dengan harga yang cukup tinggi. Peluang pengembangan Tawy cukup baik, karena selain harganya yang mahal, budi daya dan cara pengolahannya sederhana (Litbang, 2009).

Iklim Tanah Papua (mulai dari Sorong sampai Samarai) sesuai bagi pertumbuhan tanaman Tawy. Data dari Stasiun Meteorologi dan Geofísika Kabupaten Jayawijaya tahun 2004 menunjukkan, curah hujan rata-rata sebesar 173 mm/ bulan, tertinggi pada bulan Desember dan terendah bulan Juli. Jumlah hari hujan 25 hari/bulan dengan suhu udara rata-rata 20,20°C dan kelembapan 84,70% (Badan Pusat Statistik Provinsi Papua, 2005). Pada curah hujan tinggi inilah, biasanya dikenal di pegunungan tengah sebagai musim panen Tawy. Semakin tinggi curah hujan, maka semakin sering Tawy berbuah.

Kondisi iklim tersebut sangat mendukung bagi pertumbuhan tanaman Tawy. Tawy mengandung asam lemak terutama asam oleat sekitar 30%, sehingga bermanfaat untuk meningkatkan status gizi masyarakat. Tawy juga mengandung antioksidan yang cukup tinggi, di antaranya karotenoid dan tokoferol. Antioksidan bermanfaat mencegah penyakit gondok, kebutaan, dan sebagai antikanker. Tawy juga mengandung mineral Fe, Ca, dan Zn (Budi, 2003).

Tawy merupaan salah satu komoditas unggulan Papua yang begitu gencar dipromosikan oleh berbagai pihak, terutama gubernur Provinsi Papua, Lukas enembe. Secara tradisional Tawy dikenal masyarakat yang bermukim di daerah pantai maupun pegunungan( Litbang, 2009). Akan tetapi masyarakat di pesisir tidak memanfaatkannya seoptimal yang dimanfaatkan di pegunungan tengah. Di pegunungan tengah sudah terdapat Kepala Suku Tawy, di mana tanaman, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan Tawy semuanya dilakukan dibawah komando sang Kepala Suku Tawy.

Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui faktor tanah dalam pengembangan Tawy (Pandanus conoideus Lamk.).

Kegunaan Percobaan

– Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti pra praktikal tes di Laboratorium Budidaya Tanaman Hortikultura Universitas Sumatera Utara, Medan.

– Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

Botani Tanaman

Menurut wikipedia (2010), Tawy (Pandanus conoideus Lamk.) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

  • Kingdom : Plantae
  • Divisio : Spermatophyta
  • Subdivisio : Magnoliophyta
  • Kelas : Liliopsida
  • Ordo : Pandanales
  • Famili : Pandanaceae
  • Genus : Pandanus
  • Spesies : Pandanus conoideus Lamk.

 

Tawy memiliki akar tunjang 0,20−3,50 m, lingkar akar 6−20 cm, berwarna coklat dengan bercak putih, bentuk bulat, dan permukaan berduri. Jumlah akar dalam satu rumpun berkisar antara 11−97 (Lebang dkk., 2004).

Batang utama berkisar antara 20−40 cm, tinggi tanaman 2−3,50 m. Batang berwarna coklat dengan bercak putih, berbentuk bulat, berkas pembuluh tidak tampak jelas, keras, arah tumbuh vertikal atau tegak, jumlah percabangan 2−4, dan permukaan berduri. (Litbang, 2009).

Daun berukuran 96 cm x 9,30 cm sampai 323 cm x 15 cm. Ujung daun bertusuk (micronate), pangkal merompong (cut off), tepi daun dan bagian bawah tulang daun berduri. Komposisi daun tunggal dengan susunan daun berseling (alternate). Daun lentur, berwarna hijau tua, pola pertulangan daun sejajar, tanpa tangkai daun (sessile), dan tidak beraroma (Lebang dkk., 2004).

Bunga menyerupai bunga nangka dengan warna kemerahan. Muncul pada percabangan dengan merumpun ataupun tunggal. Buah menunjukan adanya pertumbuhan generatif dari tanaman tersebut (Limbong dan Uhi, 2005).

Buah berukuran panjang 68– 110 cm, diameter 10−15 cm, berbentuk silindris, ujung menumpul, dan pangkal menjantung. Saat masih muda, buah berwarna merah pucat, dan berubah menjadi merah bata saat tua (Lebang dkk., 2004).

 

Syarat Tumbuh

Iklim

Iklim Papua sesuai bagi pertumbuhan tanaman buah merah. Data dari Stasiun Meteorologi dan Geofísika Kabupaten Jayawijaya tahun 2004 menunjukkan, curah hujan rata-rata sebesar 173 mm/ bulan, tertinggi pada bulan Desember dan terendah bulan Juli. Jumlah hari hujan 25 hari/bulan dengan suhu udara rata-rata 20,20°C dan kelembapan 84,70% (BPPS Papua, 2005).

Vegetasi yang sesuai untuk kondisi lintang tersebut adalah hutan hujan tropis yang disertai dengan suhu panas dan kelembaban tinggi. Curah hujan rata-rata yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman adalah sekitar 2000 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 100-150 hari (Litbang, 2009).

Tanah

Tanaman Tawy tumbuh secara alami di dataran rendah hingga tinggi. Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai dan beradaftasi pada tanah tandus dan ber-pH masam (3,50-5,30) (Wamaer dan Malik, 2009).

Berdasarkan hasil analisis tanah dari empat lokasi pengembangan Tawy di Papua (Hadad et al. 2005), umumnya tanaman Tawy dapat tumbuh pada tanah kurang subur, banyak mengandung pasir, dan bersifat agak masam (pH 4,30− 5,30) (Litbang, 2009).

Salah satu sentra pengembangan tanaman Tawy di Papua adalah Kecamatan Kelila, yang terletak pada ketinggian 2.500 m dpl, dan tanahnya didominasi Podsolik dengan tekstur gelum (Litbang, 2009).

Kedalaman tanah sampai batas batuan kasar atau lapisan akar tanaman mampu menembus tanah untuk menyerap unsur hara berkisar antara 100−150 cm (Sutarno, 2001).

 

Gambar 1: Bibit Tawy dan tanaman dewasa serta buah siap olah dari tipe

Tawy panjang

 

FAKTOR TANAH DALAM PENGEMBANGAN TAWY

Keadaan Sifat Fisik tanah

Pada umumnya sifat fisik tanah menjadi hal penting dalam menyesuaikan komoditi dan pertumbuhan tanaman. Namun tanaman Tawy tidaklah tanman yang manja untuk dapat tumbuhmenjadi tanman yang ideal. Faktor fisisk tanah bukanlah penghmabat karena secara umum tanaman ini dapat tumbuh dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Untuk iklim tropis seperti indonesia wilayahnya dapat ditumbuhi tanaman liar ini (Litbang, 2009).

Bila tanaman yang dibudidayakan membutuhkan pemeliharaan yang intensif namun untuk Tawy tidaklahdemikian karena tanaman ini adalah tanaman tumbuh liar dan dapat tumbuh pada kesubutran rendah dan tanah masam ( Nainggolan, 2001).

Sifat fisik tanah bukanlah hal yang dianggap mendominasi keadaan tanamn namun secara umum tanaman ini mampu tumbuh optimal di tanh berpasir ( Litaban, 2009).

Tekstur Tanah dan Struktur Tanah

Sebagian besar tanaman Tawy masih tumbuh liar dan belum dibudidayakan walaupun sudah ada namun jumlahnya relatif kecil, karena secara ilmiah masih banyak orang yang beranggapan bahwa tanaman ini adalah tanaman liar. Tekstur untuk tanaman ini pada umumnya cocok pada daerah berpasir karena habitat asli berada di sekitar sungai dan aliran sungai (Litang, 2010).

Tekstur dan struktur tanah pada tanaman ini merupakan hal yang menentukan pertumbuhan tanaman ini. Karena pada dasaranya dalahtumbuhna liar maka tanaman ini mudah dibudidayakan( Naingggolan, 2001).

Tanaman Tawy dapat tumbuh pada dataran rendah hingga ketinggian 2.500 m dari permukaan laut (dpl), dengan kesuburan tanah rendah, masam sampai agak masam, dan naungan 0−15%, tanahnya podzolik dan teksturnya gelum (Nainggolan, 2001).

Tekstur Tanah Setempat

Tanaman Tawy (Pandanus conoideus Lamk.) merupakan salah satu tanaman tradisional Papua, tumbuh menyebar mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. ( Litbang , 2009).

Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai, dan beradaptasi dengan baik pada tanah tandus dengan pH masam (4,30−5,30). Tanaman umumnya dibudidayakan secara tradisional, tanpa pemupukan, dan penanganan pascapanen secara sederhana ( Sutarno, 2001).

Pengaruh Lingkungan

Pengaruh lingkunagan sangatlah berkaitan dengan pertumbuhan tanaman, namun tanman ini sangat resisten terhadap berbagai pengaruh lingkungan ( Usman, 2007).

Hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam konsdisis lapang Tawy adalaha sebagai berikut: tanaman dapat beradaftasi secra luas budidaya cukup mudahdapat tumbuh pada keadaan kurang suburnamun cukup air, tanaman kurang disukai hama dan penyakit ( Litbang, 2009 ).

Umumnya tanamna Tawy tanaman Tawy dapat tumbuh pada tanah kurang subur, banyak mengandung pasir, dan bersifat agak masam (pH 4,30− 5,30). Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai. Menurut Yuhono dan Malik (2006), lebih dari 90% tanaman Tawy tumbuh secara liar atau dipelihara dengan teknologi budi daya dan pascapanen seadanya. Dan tanaman ini sebenaranya tempat tumbuh yang optimal adalah padadaerah tropis di kepualuan Papua ( Hadad dkk., 2005 ).

 

PELUANG PENGEMBANGAN BUAH MERAH

Tawy merupakan salah satu komoditas unggulan Papua. Secara tradisional, Tawy sudah dikenal masyarakat yang bermukim di daerah pantai maupun pegunungan. Daya tarik Tawy adalah kandungan kimianya, berupa zat gizi penting untuk ketahanan tubuh seperti beta-karoten, tokoferol (vitamin E), asam linolenat, asam oleat, asam stearat, dan asam palmitat. Beta-karoten dan tokoferol dikenal sebagai senyawa antioksidan yang dapat menghambat perkembangan radikal bebas di dalam tubuh manusia. Oleh karena itu, Tawy potensial dikembangkan sebagai bahan baku obat degeneratif, seperti gangguan jantung, lever, kolesterol, diabetes, asam urat, osteoporosis, serta sebagai antiinfeksi seperti HIV (Hadad dkk., 2005).

Lahan yang berpotensi untuk pengembangan komoditas perkebunan, termasuk buah merah, di Papua tersebar di beberapa kabupaten, antara lain Jayawijaya, Puncak Jaya, Tolikara, Yahukimo, Jayapura, Manokwari, Sorong, Merauke, Biak, Nabire, Paniai, Yapen Waropen, Mimika, dan Fakfak. Luasnya mencapai 7,20 juta ha, namun baru dimanfaatkan 165.885 ha (Rumbarar, 2002).

Pemanfaatan Tawy oleh masyarakat lokal, baik sebgai sumber gzi, penyedap masakan, obat beberapa jenis penyakit, maupun pakan ternak ( Litbang, 2009 ).

Tawy yang diperdagagangkan sebagian besar berasal dari tanaman yang tidak dibudidayakan, sehingga bea budidaya dianggap nol ( Karyono, 2003 ).

Pada sistem budidayanya walaupun tanaman Tawy oleh masyarakat dianggap sebagai tanman tradisional, upaya pengembangan perlu diikuti dengan teknik budidya yang sesuai meliputi pembibitan, penanaman dan pemeliharaan tanaman. Tanman diperbanyak secra vegetatif menggunakan stek tunas dari akar atau batang stek (Litbang, 2009).

Daya tarik Tawy adalah kandungan kimianya, yaitu zat gizi penting untuk ketahanan tubuh. Oleh karena itu, Hadad dkk., (2006) menyatakan, tanaman ini berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku obat degeneratif untuk mengobati penyakit HIV, di samping sebagai penunjang makanan pokok sehari-hari. Tulisan ini menginformasikan peluang pengembangan buah merah, termasuk karakteristik botani, varietas, cara budi daya, panen, pascapanen, dan kegunaannya sebagai sumber pangan, pakan, pewarna alami maupun bahan baku obat-obatan.

KESIMPULAN

  1. Peluang pengembangan tanaman Tawy ke depan cukup baik karena budi daya tanaman dan cara pengolahan minyaknya mudah dilaksanakan di tingkat petani, selain harga minyak cukup tinggi.
  2. Masyarakat meyakini bahwa minyak Tawy memiliki berbagai manfaat, antara lain sebagai bahan baku obat-obatan, makanan, pewarna alami, kosmetik, dan limbahnya sebagai pakan.
  3. Tawy merupakan tanaman yang mampu hidup pada tanah yang kurang baik atau tandus dan pH masam
  4. Pengembangan tanaman Tawy harus dilakukan engan menerapkan teknologi budi daya dan pascapanen sesuai dengan sifat dan karakter biologis tanaman
  5. Faktor tanah dalam pengembangan Tawy menjadi hal yang cukup penting untuk pertumbuhan dan perkembangan
  6. Tanaman Tawy dapat tumbuh optimal di tanah yang kurang subur atau tandus sekalipun kareana itu tanman ini biasa disebut tanaman liar
  7. pH masam dan tekstur berpasir adalah kondisi tanah yang ideal untuk pertumbuhan
  8. Kesuburan tanah yang rendah bukanah faktor pembatas dalam penentuan kondisi fisik tanah untuk tanaman buah

DAFTAR PUSTAKA

  1. Badan Pusat Statistik Provinsi Papua. 2005. Papua dalam Angka Tahun 2004/2005.
  2. .
  3. Budi, M. 2003. Potensi Kandungan Gizi Tawy (p. Conoideus lamk.) Sebagai Sumber Pangan Alternatif Untuk Mendukung Ketahanan Pangan Masyarakat Papua. Kerja Sama Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Jayapura Dengan Universitas Negeri Papua.
  4. Hadad, M., Atekan, A. Malik, dan D. Wamaer. 2006. Karakteristik dan Potensial Tanaman Tawy (Pandanus conoideus Lamk.). Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Bogor.
  5. Karyono, O.K. 2003. Nilai Ekonomi Tawy di Bawah Tegakan Hutan Rakyat; Studi Kasus di Kabupaten Wamena. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor.
  6. Lebang, A., Amiruddin, J. Limbongan, G.I. Kore, S. Pambunan, dan I M. Budi. 2004. Laporan Usulan Pelepasan Varietas Tawy Mbarugum. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Papua.
  7. Limbongan, J. dan H.T. Uhi. 2005. Penggalian Data Pendukung Domestikasi dan Komersialisasi Jenis, Spesies dan Varietas Tanaman Buah di Provinsi Papua. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. Jakarta.
  8. 2009. Jurnal Litbang Pertanian. Bogor.
  9. Nainggolan, D. 2001. Aspek Ekologis Kultivar Tawy Panjang (Pandanus conoideus Lamk.) di Daerah Dataran Rendah Manokwari.Universitas Negeri Papua. Manokwari.
  10. Rumbarar, L. 2002. Kebijakan Pembangunan Wilayah Perkebunan.Jayapura
  11. Sutarno, S. 2001. Tumbuhan Penghasil Warna Alami dan Pemanfaatannya dalam Kehidupan Suku Meyah di Desa Yoom Nuni. Universitas Negeri Papua. Manokwari.
  12. 2007. Pemanfaatan Pasta Tawy Sebagai Pakan Alternatif Ayam Buras Periode Grower. BPTP. Papua,
  13. Wamaer, D. dan A. Malik. 2009. Analisis Finansial Pascapanen Tawy (Pandanus conoideus Lamk.). Jurnal Tambue Universitas Moh. Yamin Solok.
  14. 2010. Buah Merah. Http://wiki.buahmerah. Diaksese 28 Oktober 2010
  15. ..
  16. Terkait
  17. BUDIDAYA KENTANG HITAM ( Soleneotemon rotundifolius (Poir) J. K. Mort.) PADA TANAH MINERAL MASAMDengan 3 komentar
  18. HIDROPONIKDengan 3 komentar
  19. RESPONS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN BAYAM (Amaranthus sp.) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK NPKDengan 1 komentar

 

PENGARUH PEMBERIAN MINYAK BUAH MERAH (PANDANUS CONOIDEUS) TERHADAP STRES OKSIDATIF SEL ENDOTEL YANG DIPAPAR DENGAN SERUM PENDERITA MALARIA FALCIPARUM DAN NETROFIL INDIVIDU SEHAT

Yunita Armiyanti, Loeki Enggar Fitri, Edi Widjajanto

ABSTRACT

Complication in Plasmodium falciparum malaria is associated with endothelial damage and overproductionof free radicals (oxidative stress) by activated neutrophils and endothelial cells. Red fruit (Pandanus conoideus) oil has a very high antioxidant content, therefore it may neutralize free radicals and prevent endothelial damage.

The aim of this research is to prove that red fruit (Pandanus conoideus) oil reduce Reactive Oxygen Intermediate (ROI) production of endothelial cells exposed to severe malaria patient serum and neutrophils from healthy donor. Endothelial cells from human umbilical veins were coincubated with serum from severe malaria patient and with neutrophils from healthy donor (positive control group).

HUVEC’s normal was used as negative control, where as the experimental groups were given with red fruit oil in different concentrations (2.8%, 5.7% dan 11.3% ). The Reactive Oxygen Intermediate (ROI) production of endothelial cells was semiquantitatively measured by using NBT-reduction assay and the score of ROI was counted. The results were statistically analyzed with ANNOVA (p<0.01). The rate of ROI production of endothelial cells was markedly increased after incubation with patient serum and neutrophils.

REFERENCES

  1. Brown HW, Neva FA. Basic Clinical Parasitology, 6th Edition. USA: Prentice- HallInternational Inc. 1994; 81-103.
  2. Lou J, Lucas R, Grau GE. Pathogenesis of Cerebral Malaria: Recent Experimental Data and Possible Applications for Human. Clinical Microbiology Reviews 2001;14(4):810-820.
  3. Hunt NH, Kopp M, Stocker R. Free Radicals and Antioxidant in Malaria in Lipid- Soluble Antioxidant: Biochemistry and Clinical Applications. Edited by ASH Ong & L Packer. Switzerland: Birkhauser Verla. 1992; 337-354.
  4. Das BS, Thurnham DI. Plasma Lipid Peroxidation in Plasmodium falciparum Malaria in Lipid–Soluble Antioxidant: Biochemistry and Clinical Applications. Edited by ASH Ong & L Packer. Switzerland: Birkhauser Verlag. 1992;:397-405.
  5. Nakornchai S, Anantavara S. Oxygen Free Radicals in Malaria in Lipid- Soluble Antioxidant: Biochemistry and Clinical Applications. Edited by ASH Ong & L Packer. Switzerland: Birkhauser Verlag. 1992; 355-362.
  6. Kumaratilake LM, Ferrante A. Opsonization and phagocytosis of Plasmodium falciparum merozoites measured by flow cytometry. Clin Diagn Lab Immunol 2001;7(1):9-13.
  7. Halliwel B, Gutteridge JM. Free Radicals in Biology and Medicine. Third Edition. New York Oxford: University Press. 1999.
  8. Iyawe HOT, Onigbinde AO. Effect of an Antimalarial and a Micronutrient Supplemention on Respiration Induced Oxidative Stress. Pakistan Journal of Nutrition 2004;3(6):318-321.
  9. Iskandar A. Efek Sinergis Chloroquin dan N-Acetyl Cystein terhadap Penurunan Derajat Parasitemia, Penurunan Aktifitas Radikal Bebas dan Peningkatan Fagositosis Makrofag Peritoneal Mencit Galur BALB/c selama infeksi Plasmodium berghei.[Thesis]. Malang: Program Pasca Sarjana UniversitasBrawijaya. 2005.
  10. Hemmer CJ, Lehr HA, Westphal K, Unvericht M, Kratzius M, Reisinger EC. Plasmodium falciparum Malaria: Reduction of Endothelial Cell Apoptosis in vitro. Infect Immun 2005;73(3):1764-1770.
  11. Budi MI, Paimin FR. Buah Merah. Jakarta: Penebar Swadaya. 2005.
  12. Morgan DML. Isolation and Culture of Humen Umbilical Vein Endothelial Cells in Human Cell Culture Protocols. Edited by Gareth E. Jones. New Jersey: Humana Press.1996;101-109.
  13. Fitri LE. Analisis Patogenesis Malaria dengan Komplikasi: Tinjauan Molekuler terhadap Peran molekul Adhesi Eritrosit Terinfeksi Plasmodium falciparum Isolat Malang dan Keterlibatan Senyawa Oksigen Reaktif. [Disertasi]. Malang: Program Pasca Sarjana Universitas Brawijaya. 2004.
  14. Tjahajati I. Vaksinasi BCG Meningkatkan Aktivitas Fagositosis danSekresi Reactive Oxygen Intermediate (ROI) pada Makrofag Peritonium Kucing yang Diinfeksi dengan Mycobacterium tuberculosis. Jurnal Kedokteran Brawijaya 2006;21(2):71-77.
  15. Torre D, Speranza F, Giola M. Role of Th1 and Th2 Cytokines in Immune Response to Uncomplicated Plasmodium falciparum Malaria. Clinical and Diagnostic laboratory Immunology 2002;9(2):348-351.
  16. Lyke KE, Burges R, Cissoko Y. Serum Levels of the Proinflamatory Cytokines IL-1β,IL-6,IL-8,IL-10,TNF-α, and IL-12(p70) in Malian Children with Severe Plasmodium falciparum Malaria and Matched Uncomplicated Malariaor Healthy Controls. Infection and Immunity 2004;72(10):5630-5637.
  17. Salmon D, Vilde JL, Andrieu B, Simonovic R, lebras J. Role of immune serum and Complement in stimulation of the metabolic burst of human netrophils by Plasmodim falciparum. Infection and Immunity 1986;51(6):801-806.
  18. Li J-M, Shah Am. Endothelial cell superoxide generation, regulation and revance for cardiovascular pathophysiology. Am J Physiol Regul Integr Comp Physiol 2004;287:R1014-R1030.
  19. Ray R, Shah AM. NADPH oxidase and endothelial cell function. Clinical Science 2005;109:217-226.
  20. Takahashi T, Hato F, Yamane T, Fukumasu H, Suzuki K, Ogita S, Nishizawa Y, Kitagawa S. Activation of Human Netrofil by Cytokine-Activated Endothelial Cells.Circulation Research 2001;88:422.
  21. Van Tits L, Demacker PN, de Graaf J. α- Tocopherol supplementation decreases production of superoxide and cytokines by leukocytes ex vivo in both normolipidemic and hypertriglyceridemic individuals. Am J Clin Nutr 2000;71:458-464.
  22. Harper L, Nuttal SL, Martin U, and Savage OS. Adjuvant treatment of patients with antineutrophil cytoplasmic antibody-associated vasculitis with vitamins E and C reducessuperoxide production by neutrophils. Rheumatology2002;41:274-278.
  23. Papas AM. Antioxidant Status, Diet, Nutrition, and Health.Washington: CRC press. 1999; 189-211.
  24. Chew BP. Role of Carotenoids in The Immune Response. J Dairy Sci 1993; 76:2804-2811.
  25. Brigelius-Flohe R, Traber MG. Vitamin E: function and metabolism.FASEB J. 1999;13:1145-1155.
  26. Ricciarelli R, Zingg J-M, Azzi A. Vitamin E: protective role of a Janus molecule.FASEB J. 2001; 15: 2314-2325.
  27. Chen X, Touyz RM, Park JB, Schiffrin EL. Antioxidant Effects of Vitamin C and E are Associated with Altered Activation of Vascular NADPH Oxidase and Superoxide Dismutase in Stroke-Prone SHR.Hypertension 2001;38(2):606-611.
  28. Fitri LE, Suhendro W, Murwani S, Muliartha IKG, Ali. Efect of Combined Therapy Using Chloroquine and Vitamin C to The Peritoneal Macrophage Function in BALB/c Strain Mice Infected by Plasmodium berghei. Majalah Kedokteran Universitas Brawijaya Malang Desember 2003;19(3):99-103.

Sari Buah Merah: Bukti Ilmiah

Inilah Bukti Ilmiah Sari Buah Merah

Buah Merah pertama kali dikenalnya saat ia berada di lingkungan masyarakat pedalaman Wamena pada 1988. Ketika itu ia sedang meneliti jamur alam di daerah Kurulu, Wamena.

Di sana, masyarakat setempat menjadikan Buah Merah sebagai bagian dari konsumsi harian mereka. Dari informasi yang diperoleh, mereka jarang mengalami kasus penyakit degeneratif.

Data statistik setempat pun mencatat, mereka memiliki angka harapan hidup cukup tinggi,” papar alumnus Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) IKIP Negeri Manado tahun 1985 itu.

Sayangnya, kesibukan sebagai dosen tak memberi kesempatan baginya untuk segera menemukan jawaban atas fakta itu. Peluang baru muncul 10 tahun kemudian saat ia menempuh pendidikan S2 di Program Pascasarjana IPB. Bidang ilmu Gizi Masyarakat dipilih lantaran obsesinya itu.

Di Laboratorium Gizi IPB Made menganalisis kandungan Buah Merah. Hasilnya? Buah Merah mengandung senyawa-senyawa aktif berkhasiat dalam kadar tinggi. Yang paling menonjol ialah tingginya kandungan betakaroten dan tokoferol.

Untuk mengetahui aktivitas betakaroten dalam proses metabolisme, ia mencampurkan ekstrak Buah Merah ke dalam pakan ayam petelur. Ternyata kuning telur yang dihasilkan menjadi merah. “Tandanya betakaroten terserap sempurna dalam proses metabolisme,” paparnya.

Dalam sistem metabolisme, setiap molekul betakaroten akan menghasilkan 2 molekul vitamin A. Dengan tersedianya vitamin A dalam jumlah cukup, penyerapan protein yang mendukung sistem kekebalan tubuh dapat ditingkatkan.

Penelitian pada ayam petelur membuktikan hal tersebut. “Ayam yang pakannya diberi ekstrak Buah Merah tidak terserang tetelo pada musim penyakit,” papar Made.

Hal serupa dilakukan pada ayam potong untuk menguji aktivitas tokoferol yang dikandung Buah Merah. Ia mencampurkan ekstrak Buah Merah pada konsentrat keluaran pabrik.

Pakan kemudian diberikan pada ayam pedaging berumur 1 bulan dengan dosis standar, 3 kali sehari. Setelah 4 bulan perlakuan, ternyata daging ayam benar-benar bebas lemak. Itu berarti tokoferol mampu menjalankan fungsinya untuk menekan pembentukan lemak tubuh.

Hasil uji aktivitas pada 2001 itulah yang meyakinkan Made bahwa Buah Merah benar-benar bisa dimanfaatkan sebagai obat. Mengandalkan kadar tinggi betakaroten dan tokoferol sebagai senyawa antioksidan, ia percaya Buah Merah dapat mengatasi kanker. Apalagi obat alami itu didukung banyak metabolisme.

Selain omega 3 dan omega 9—asam lemak tak jenuh yang gampang diserap tubuh, Buah Merah juga masih dilengkapi sejumlah vitamin dan mineral lain. Penelitian Made mengungkapkan bahwa Buah Merah mengandung 3 senyawa antikanker yang sangat signifikan.

Ia tidak berhenti di situ. Ia mengolah buah merah ala masyarakat pedalaman. Hasil olahannya diberikan kepada keluarga para tetangga di Kompleks BTN Kotaraja, Jayapura, yang menderita sakit. Karena terbukti ampuh, berita soal obat itu cepat menyebar.

Lebih dari 1.000 orang di berbagai daerah dan mancanegara kini telah merasakan khasiat obat temuannya. Penyakit yang disembuhkan beragam meliputi kanker, tumor, kolesterol, asam urat, diabetes, hipertensi, flek paru, hepatitis, jantung koroner, mata, osteosporosis (rapuh tulang), hingga HIV/AIDS.

Sejak 2003 ia pun ikut membantu mengobati penderita HIV/AIDS di beberapa lembaga sosial di Jayapura, Wamena, Sorong, dan Merauke. “Itu salah satu solusi penting untuk memecahkan masalah HIV/AIDS di Papua,” papar pria 44 tahun itu ketika Oktober lalu di salah satu kamar hotel di bilangan Jakarta Barat.

Maklum, hingga Juni 2004 jumlah penderita HIV/AIDS di Papua tercatat 1.579 orang. Sebanyak 983 orang terinfeksi virus HIV dan 596 pasien positif mengidap AIDS.

Tak pernah terbersit di benak Made jika sari Buah Merah bakal melambungkan namanya. Bahkan, sampai membuat mata dunia tertuju ke provinsi di ujung timur Nusantara itu.

Semula ahli gizi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Cenderawasih, Jayapura, itu hanya ingin mengungkap misteri kandungan gizi buah itu. Itu pun lantaran penasaran melihat kondisi fisik masyarakat pedalaman Wamena yang prima.

Informasi penting itu kemudian disebarkan kepada masyarakat. Bekerjasama dengan dinas-dinas terkait di Papua, ia aktif menyampaikan manfaat Buah Merah di berbagai seminar, lokakarya, dan sidang-sidang di DPRD Papua. Tanpa kenal lelah ia berbaur dengan masyarakat untuk membina dan melatih teknologi pengolahannya.

Saat pertama kali menjejakkan kaki di Papua, ia memang pernah berikrar untuk menyumbangkan pikiran, tenaga, dan keahliannya demi kemajuan masyarakat Papua. “Kalau saya tinggalkan Papua, saya telah tinggalkan sesuatu buat mereka.

Masyarakat akan mengenang hasil karya saya di sini.” Impian itu kini terkabul. Berkat Made, Buah Merah mendunia dan menjadi modal berharga bagi masyarakat Papua.

Hasil Penelitian Farmasi ITB

Tidak ada satu pun professional dari kalangan medis yang meragukan manfaat Buah Merah untuk kesehatan. Namun, menyebutnya sebagai obat penyakit tertentu, nanti dulu! Apalagi kalau Buah Merah dicap sebagai penyembuh aneka penyakit degeneratif.

Kebanyakan profesional yang paham benar aturan di dunia medis itu mempertanyakan tahap-tahap pengujian yang sudah dijalani oleh Buah Merah.

Salah satu pertanyaan yang paling sering terlontar ialah berapa dosis aman untuk dikonsumsi manusia? Apa dasar pemberian dosis itu? Kini pertanyaan tentang dosis itu sudah dijawab dengan riset ilmiah yang dilakukan oleh Prof Dr Elin Yulinah Sukandar dari Jurusan Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (FMIPA-ITB).

Elin, doktor Farmakologi alumnus ITB melakukan uji toksisitas akut pada mencit, Maret 2005. Ada 2 kelompok mencit yang dijadikan sebagai kelinci percobaan. Masing-­masing terdiri atas 6 ekor: 3 jantan dan 3 betina berbobot 25-30 g.

Mus cervicolor berumur 3 bulan itu dipuasakan selama 16 jam. Setelah itu sebuah kelompok diberi ekstrak sari Buah Merah dengan dosis 2 g; kelompok lain, 5 g per ekor.

Dosis pemberian itu mengacu pada OECD yang berpusat di Jepang. Lembaga itu sejak 2001 merekomendasikan 2 g sebagai dosis percobaan dari sebelumnya 5 g. Kemudian sampai 14 hari perilaku satwa yang aktif pada malam hari itu diamati.

Ada 26 hal yang menjadi objek pengamatan Elin. Beberapa di antaranya, apakah mencit mengalami tremor (tubuh bergetar), writhing (berjalan dengan menyeret perut), katalepsi (gangguan kemampuan menggantung), dan grooming (kaki kerap menggaruk-garuk mulut).

Hasilnya, pada mencit jantan tremor, writhing, dan katalepsi masing-masing 0%, sedangkan grooming 66,7%. Pada mencit betina tremor, writhing, dan katalepsi masing-masing juga 0%; grooming 33,3%.

Itu berarti, “Dosis itu relatif aman,” kata Prof Elin. Jika dikonversi ke manusia yang berbobot 70 kg, misalnya, dosis itu setara 240 g. Volume tiga sendok makan Buah Merah sekitar 45 ml setara 36 g.

Yang juga diiuji di jurusan Farmasi ITB adalah klaim Buah Merah sebagai ant iinfeksi. Ini memang baru uji pendahuluan yang hasilnya amat menggembirakan. Prof Elin Yulinah Sukandar memanfaatkan 3 kelinci jantan berbobot masing-masing 2,5 kg.

Di punggung—setelah kulit dikerok—setiap kelinci disuntikkan 3 cendawan/bakteri berbeda: Candida albicans, Staphylucoccus aureus, dan Microsporum gypseum. Menurut dr Willie Japaris, Candida albicans cendawan merupakan penyebab penyakit infeksi pada saluran pernapasan, pencernaan, dan organ lain. Ia menyerang pasien yang memiliki kondisi tubuh lemah dan acap terjadi pada penderita HIV/AIDS.

Staphylucoccus aureus jenis kuman penyebab infeksi kulit hingga terjadi bisul atau luka bernanah. Ia juga menyerang saluran pencernaan dan pencernaan. Sedangkan Microsporum gypseum penyebab penyakit kulit, pemakan zat tanduk atau keratin, serta merusak kuku dan rambut.

Selama 9 hari setelah penyuntikkan cendawan, Elin mengamati eritema alias pemerahan, eschar atau luka, dan pembentukan udem atau yang populer sebagai bengkak.

Sehari setelah diberi bakteri dan cendawan, indeks iritasi sedang pada skala 4. Artinya, eritema berat dan pembentukan eschar. Namun, setelah luka diolesi ekstrak Buah Merah hari ke-2, skala iritasi turun menjadi 3.

Iritasi itu kian mengecil dan sembuh total pada hari ke-8 dan sebagian ke-9. Sebaliknya, kelinci yang tak diolesi ekstrak Buah Merah hingga hari ke-9 belum juga sembuh.

Saat itu indeks iritasi pada skala 2 (eritema sedang-berat) alias masih tetap mengalami peradangan. Dengan uji itu Buah Merah amat berpotensi sebagai antiiritasi/infeksi.

Klaim Buah Merah sebagai anti inflamasi juga diteliti. Pada Maret 2005, Suwendar MSi menguji klaim itu pada 3 kelompok mencit—masing-masing 7 ekor. Kaki kiri belakang mencit disuntik dengan 0,05 ml karagenan supaya membengkak. Penanganan setiap kelompok berlainan.

Pembengkakan kaki sebuah kelompok diatasi dengan cara mengoleskan Buah Merah. Setelah itu luka ditutup dengan plastik transparan. Kelompok lain diolesi dengan obat lain yang telah mapan di pasaran.

Obat itu mengandung metil salisilat. Pengolesan kedua obat itu sejam, 4 jam, dan 8 jam setelah penyuntikkan karagenan. Sebuah kelompok lagi tanpa perlakuan apa pun.

Setelah itu luas pembengkakkan sebelum dan setelah pengolesan diukur dengan pletismometer. Hasil riset menunjukkan, Buah Merah tidak terlalu signifikan sebagai obat anti inflamasi.

Hasil Penelitian Farmasi UI

Riset toksisitas akut yang merupakan kerjasama dengan majalah Trubus juga ditempuh koleganya, Dr Yandiana Harahap dan Dra Syafrida Siregar Apt dari Jurusan Farmasi Universitas Indonesia.

Hasil uji toksisitas mereka menunjukkan, LD50 mencit jantan sekitar 2,687 g/kg bobot tubuh; mencit betina, 6,714 g/kg bobot tubuh. “Potensi ketoksikan pada jantan, sedikit toksik dan pada betina hampir tak ada toksik,” ujar Yandiana seperti tertera pada hasil pemeriksaan.

Yandiana sepakat dengan Elin, dosis Buah Merah yang selama banyak dianjurkan cukup aman. “Harus ada penelitian lanjutan untuk mengetahui akumulasi konsumsi,” katanya.

Uji lain juga diperlukan untuk mengetahui EDS, alias dosis efektif konsumsi Buah Merah. Dari angka itulah diketahui, Indeks Terapi (IT) dengan cara membagai LD50 dengan ED50.

Menurut Dr Anas Subarnas dari Jurusan Farmasi Universitas Padjadjaran, “Makin tinggi Indeks terapi suatu obat berarti makin aman. Artinya jarak antara LD50 dan EDSC makin jauh. LD50 semakin tinggi, artinya konsumsi Buah Merah yang banyak pun masih aman.”

(Sumber: Buku Keajaiban Buah Merah Kesaksian Dari Mereka Yang Tersembuhkan, Penulis Bernard T. Wahyu Wiryanta)

Artikel Seluruhnya diambil dari: http://www.deherba.com/bukti-ilmiah-sari-buah-merah.html

Tawy, Khasiatnya, Budidaya dan Pengolahannya

Written By sinar papua on Rabu, 19 September 2012 | Diedit dan diolah oleh Buahmerahwamena.com

(Sinar Papua)- Tawy (Buah merah) termasuk tanaman endemik. Secara umum habitat asal tanaman ini adalah hutan sekunder dengan kondisi tanah lembab. Tanaman ini ditemukan tumbuh liar di tanah Papua, pulau New Guinea.

Tanaman ini termasuk terna berbentuk semak, perdu atau pohon. Tinggi tanaman dapat mencapai 16 meter. Batang berwarna coklat bebercak putih, dengan semacam duri-duri seperti buah nangka menancap keluar. Akar tanaman berfungsi sebagai penyokong tegaknya tanaman, Akar-akar tunjang muncul dari bagian batang dekat permukaan tanah berfungsi sebagai penguat batang, diameter antara 8 – 1,5 cm.

Tanaman Tawy berdaun tunggal berbentuk lanset sungsang (oblanceolate) berwarna hijau tua, letaknya berseling. Ujung daun runcing, pangkal daun memeluk batang. Permukaan daun licin, tepi daun ada yang berduri ada juga yang tidak berduri.

Jenis Tawy
Di Papua terdapat lebih dari 30 jenis Tawy, tetapi ada 4 kultivar yang banyak dikembangkan yaitu :
1. Kultivar yang merah panjang, memiliki buah berbentuk silindris, ujung tumpul dan pangkal menjantung. Panjang buah mencapai 96 – 102 cm dengan diameter 15 – 20 cm. Bobot buah mencapai 7 – 8 kg. Warna buah merah bata saat muda dan merah terang setelah matang. Buah dibungkus daun pelindung berbentuk melancip dengan duri pada tulang utama sepanjang 8/10 bagian dari ujung. Buah ini dalam Bahasa Lani disbut Maler dan Ugwi.
2. Kultivar merah pendek, memiliki buah berbentuk silindris, ujung melancip, pangkal menjantung. Panjang buah mencapai 55 cm, diameter 10 – 15 cm, bobot buah 2 – 3 kg. Warna buah saat muda merah kotor dan saat matang berwarna merah terang. Buah terbungkus daun pelindung meruncing, dengand duri sepanjang ½ baian tulang utama. Dalam Bahasa Lani disebut Magari atau ada juga kwambir.
3. Kultivar merah coklat, memiliki buah berbentuk silindris, ujung tumpul, pangkal menjantung. Panjang buah 27 – 33 cm, diameter 6,9 – 12 cm, bobot 2 – 3 kg. Buah berwarna merah kecoklatan, tertutup daun pelindung meruncing, dengan duri sepanjang 2/3 dari tulang utama. Dalam Bahasa Lani disebut Mbagarum, Ugwi, Perry dan sebagainya.
4. Kultivar kuning, memiliki buah berbentuk silindris, ujung tumpul dengan pangkal menjantung. Panjang buah 35 – 42 cm, diameter 11 – 12 cm, bobot buah 2 – 3 kg. Dalam Bahasa Lani tidak disebut Tawy, tetapi disebut Mbarugum. Dia bukan-lah buah merah, tetapi buah kuning, atau buah emas ialah nama yang paling tepat.
Kami sebagai orang pemiliki Tawy dan Wanggene menyebut buah ini dengan nama “Buah Pandan Merah” dan “Buah Pandan Kuning”, dan BUKAN BUAH MERAH. Dengan memberi nama kepada Tawy dan Wanggene sebagai “Buah Merah”, maka secara konseptual dengan jelas telah mengaburkan nama Buah Kuning. Malahan kebanyakan menyebutnya “Buah Merah Kuning”, sebuah sebutan yang jelas-jelas menunukkan kesalahan fatal dalam konsep berpikir dan konsep warna.
Daun pelindung buah melancip. Tulang utama berduri sepanjang 1/3 bagian dari pangkalnya. Buah muda berwarna hijau dan bila matang berwarna kuning.

Di dalam buah tersusun ribuan biji yang berbaris rapi membentuk kulit biji, dari luar kelihatan seperti biji-biji buah nangka.

Panjang biji 9 – 13 mm. Bagian atas biji meruncing, pangkal biji menempel pada bagian jantung, sedangkan ujungnya membentuk totol-totol di bagian kulit buah. Biji berwarna putih, tetapi karena minyak Tawy, tetapi dalam kondisi masih terkena minyak ia berwarna kecoklatan dibungkus daging tipis berupa lemak. Warna daging kuning, coklat atau merah bata, tergantung jenisnya.

Syarat Tumbuh
Tawy termasuk tanaman yang mudah tumbuh di mana saja, bahkan di tanah yang kurang subur tanaman ini dapat tumbuh. Tanaman ini dijumpai tumbuh liar pada berbagai kondisi tanah di pulau New Guinea dan bagian utara Maluku, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi dengan ketinggian 2.300 m di atas permukaan laut.

Tanaman ini dapat tumbuh pada daerah yang memiliki kisaran suhu antara 23 – 33°C dan kelembaban udara antara 73 – 98%. Intensitas cahaya yang dibutuhkan adalah sekitar 1.000 – 3.000 lux. Tawy menyukai lingkungan yang terlindung dan cukup rindang.

Tanaman Tawy dapat tumbuh baik pada kondisi tanah lembab. Jenis tanah yang disukai adalah tanah yang gembur, subur, dan kaya akan humus. Tekstur tanah yang dikehendaki adalah liat lempung, tanah hitam tetapi gembur atau tanah berpasir. pH tanah yang dibutuhkan sekitar 5,4 – 6,2 dengan nilai KTK (Kapasitas Tukar Kation) rendah.

Budidaya Tanaman
Penyiapan Lahan
Lahan untuk budidaya Tawy dicangkul dengan kedalaman 20 cm, kemudian dibuat petak-petak dengan ukuran 10 – 12 m, di antara petak-petak tersebut dibuat parit selebar 0,5 – 1 m agar drainase areal penanaman lebih baik karena tanaman ini tidak menghendaki tempat yang terlalu basah dan terendam air tetapi tanah harus dalam kondisi lembab.

Lokasi penanaman sebaiknya berada dekat dengan sumber air agar secara periodik air dapat dialirkan ke parit-parit dalam lokasi penanaman untuk menjaga kelembaban tanah. Pada areal budidaya buah merah sebaiknya ditanam pohon pelindung seperti lamtoro.

Penyiapan Bibit
Di pedalaman Papua biji Tawy jarang menumbuhkan benih, tetapi di pesisir Papua biji Tawy ialah benih yang tumbuh sama seperti jagung. Maka budidaya di pegunungan sering dilakukan dengan mengambil setek dari tunas yang baru tumbuh di induk Tawy yang ada, sementara di pesisir dapat dilakukan dengan cara mencangkok, atapun dengan menaburkan biji-biji Tawy ke media untuk membiarkan benih Tawy bertumbuh.
Bahan tanaman untuk perbanyakan buah merah dapat berupa setek, anakan dan biji. Setek berupa pucuk tanaman yang tumbuh di bawah tanaman induk yang dipilih yang kondisi batangnya tua, berwarna abu-abu, panjang setek 40 – 50 cm dengan diameter 2 – 3 cm. Antara batas pelepah daun sampai pangkal batang bidang pangkasan minimal 15 cm. Setek atau biji ditanam pada bedengan semai yang telah disiapkan dengan jarak tanam 60 cm x 60 cm. Media tanam adalah campuran antara tanah topsoil dengan pupuk kandang atau kompos dengan perbandingan 1 : 1, media semai harus lembab. Lokasi persemaian terlindung dari sinar matahari langsung, sebaiknya berada di bawah pohon pelindung. Setelah ditanam bedeng semai ditutup dengan shadingnet 60 – 70%. Media semai disiram dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari.

Setelah 1 – 2 minggu daun mulai muncul dan perakaran mulai terbentuk. Setelah 2 – 3 minggu dan berdaun 4 – 5 helai, bibit dapat dipindahkan ke dalam polibeg. Bibit dapat ditanam di lahan setelah berumur 1 – 2 bulan.

Bahan tanam lain adalah anakan yaitu tunas yang keluar dari bagian batang dan perakaran tanaman. Anakan dipilih yang berukuran 15 – 20 cm. Setelah dipisah dari induk, anakan ditanam di bedengan yang telah disiapkan dengan jarak tanam 50 cm x 50 cm atau 60 cm x 60 cm. Media pada persemaian harus dijaga kelembabannya, disiram setiap pagi dan sore hari dan diberi shadingnet. Bibit dari anakan dapat dipindahkan ke lahan setelah mencapai tinggi 40 – 50 cm yaitu pada umur 3 – 4 bulan.

Tanaman juga dapat diperbanyak dengan biji. Kelemahan perbanyakan dengan cara ini adalah kualitas bibit beragam, lama berbuah, biji lama berkecambah dan daya kecambah rendah karena kerasnya kulit biji. Sebelum disemai, biji direndam dalam air selama 1 hari, lalu ditiriskan dan dibungkus kain basah selama 1 malam untuk memecah dormansi biji. Kemudian biji disemai pada bedengan dengan media tanah dan pasir (1 : 1) atau tanah dan kompos (1 : 3). Benih disebar di atas media semai, lalu ditutup pasir setebal 2 – 3 cm, lalu ditutup lagi dengan jerami atau serbuk gergaji.

Media semai disiram sekali sehari. Setelah 2 – 3 bulan benih akan berkecambah. Kebanyakan orang Papua menanam buah merah pada musim hujan sehingga secara alamiah disirami dengan hujan.

Setelah bibit berukuran 5 – 10 cm sebaiknya dipindah ke polibag yang telah diisi media berupa campuran topsoil dengan pupuk kandang atau kompos dengan perbandingan 1 : 1. Tanaman di pembibitan diberi shadingnet 50 – 60% dan penyiraman dilakukan setiap hari. Bibit dapat dipindahkan ke lapangan setelah mencapai tinggi 25 – 40 cm dengan diameter batang 2 cm.
Tanaman yang berasal dari biji akan berbuah setelah berumur 5 tahun, sedangkan tanaman yang berasal dari tunas akan berbuah kurang dari 3 tahun.

Penanaman
Ukuran dan jarang tanam secara tradisional tidak pernah diajarkan. Tetapi setelah dipelajari dan dikembangkan secara modern, maka terdapat ukuran dan jarak tanam tertentu. Bibit ditanam dengan jarak tanam 6 m x 6 m atau 8 m x 8 m, maka pada setiap petak penanaman terdapat dua baris tanaman, di antara barisan tanaman tersebut ditanam pohon pelindung. Lubang tanam dibuat dengan ukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm. Tanah bekas galian dicampur dengan pupuk kandang atau kompos sebanyak 20 – 30 kg/lubang tanam. Bibit ditanam hingga batas leher akar.

Pemeliharaan
Selama masa pertumbuhan, tanaman ini tidak perlu dipupuk dengan pupuk kimia, cukup diberi pupuk kandang 2 – 3 kali setahun dan diberi serasah dan sisa tanaman dan dedaunan di sekitar tanaman. Sementara secara tradisional Tawy tidak pernah diberi pupuk apapun. Ia bertumbuh sendiri. Kadangkala Tawy yang ditanam dipinggir dapur atau rumah akan mendapatkan pupuk organic dari sisah makanan atau sisah dapur.
Pada awal pertumbuhan daun-daun tua didpangkas untuk mempercepat pertumbuhan tanaman. Pemangkasan hanya dilakukan sampai tinggi tanaman 1 – 2 m, setelah itu, tanaman dibiarkan tumbuh secara alami. Pohon pelindung perlu dikontrol pertumbuhannya, bila terlalu rimbun harus dipangkas sehingga tidak mengganggu pertumbuhan tanaman utama.

Dengan pemeliharaan yang baik, tanaman akan bercabang setelah berumur 2 tahun. Biasanya 6 bulan setelah muncul percabangan tanaman mulai berbuah.

Panen dan Pascapanen
Pada awal pembentukkannya buah akan tumbuh tegak di setiap percabangan dan warna buah agak merah gelap, bercampur hijau.

Seiring perkembangannya, buah akan merunduk perlahan-lahan hingga menggantung di bawah percabangan dan siap dipanen, warnanya akan memerah, tempat yang tadinya hijau menjadi merah terang, dan bagian yang terkena panas matahari langsung akan berwarna merah gelap (maroon). Buah siap dipanen bila daun-daun yang membungkus buah mulai membuka, dan mengering. Panen dilakukan dengan galah bambu yang bagian ujungnya dibelah. Caranya, buah dijepit di ujunbg galah, diputar lalu ditarik. Penarikan dilakukan ke arah batang pohon.
Setelah panen, buah harus segera diolah karena hanya dalam waktu 3 – 4 hari buah sudah busuk dan berjamur. Panen dapat berlangsung 2 – 3 kali setahun untuk daearh pedalaman/ pegunungan New Guinea, tetapi di persisir pantai Tawy berbuah sepanjang tahun. Produksi optimal tercapai pada umur 10 – 15 tahun dengan jumlah buah 4 – 5 buah per pohon.

Pengolahan Tawy
Cara pembuatan sari buah merah adalah sebagai berikut :
1. Pilih buah yang benar-benar matang yaitu kulit buah berwarna merah menyala dan jarak antar tonjolan cukup jarang.
2. Buah dibelah, lalu dikeluarkan empelurnya, selanjutnya dipotong-potong, lalu dicuci dengan air hingga bersih.
3. Daging buah dikukus dengan api sedang sekitar 1 – 1,5 jam. Setelah matang, daging buah lunak, angkat dan didinginkan.
4. Tambahkan sedikit air, lalu diperas hingga menjadi seperti pasta. Saring pasta untuk memisahkan bijinya.
5. Pasta dimasak kembali dalam wajan selama 4 – 5 jam. Setelah mulai mendidih, pasta tetap dibiarkan di atas api selama 10 menit hingga muncul minyak berwarna kehitaman di atas permukaan pasta.
6. Angkat dan diamkan selama 1 hari. Minyak yang terbentuk diambil perlahanlahan dengan menggunakan sendok, pindahkan minyak ke wadah transparan seperti gelas atau mangkuk, lalu diamkan selama 2 jam hingga minyak dan air benar-benar terpisah.
7. Kemudian pisahkan minyak ke wadah lain dengan menggunakan sendok.
Diamkan lagi selama 2 jam. Jika sudah tidak ada air yang tercampur, berarti proses pengolahan sudah berakhir. Dari satu buah akan diperoleh sari buah merah sebanyak 150 – 200 ml.

Kandungan Kimia
Kandungan kimia buah merah adalah karotenoid (12.000 ppm), tokoferol (11.000 ppm), betakaroten (700 ppm), alfa-tokoferol (500 ppm), asam oleat 58%, asam linoleat (8,8%), asam linolenat (7,8%), dekanoat (2,0%), kalsium, fosfor, besi, vitamin B1, vitamin C dan nialin.

Efek Farmakologis dan Hasil Penelitian
Efek farmakologis buah merah antivirus, antibiotik, antioksidan, penurun kadar kolesterol.
Beberapa penelitian yang menguji efek farmakologis buah merah antara lain:
• Ekstrak buah merah mempercepat penyembuhan penyembuhan luka yang telah diberiCandida albicans, Staphylucoccus aureus, dan Microsporum gypseum pada kelinci. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak buah meradh amat berpotensi sebagai antiiritasi/infeksi (Prof. Dr. Elin Yulinah, 2005, JF FMIPA ITB).
• Hasil uji toksitas menunjukkan LD50 mencit jantan 2,687 g/kg bb. dan mencit betina 6,714 g/kg bb. Hal ini menunjukkan dosis buah merah yang banyak dianjurkan cukup aman (Dr. Yahdiana Harahap dan Dra. Syafrida Siregar Apt, 2005, JF UI).

Khasiat dan Cara Pemakaian

1. Kanker hati dan tumor otak
Bahan : Sari buah merah
Pemakaian :
Sari buah merah diminum dua kali sehari masing-masing 1 sendok makan.

2. Tumor payudara
Bahan : Sari buah merah dan minyak ikan hiu
Pemakaian :
Sari buah merah dan minyak ikan hiu diminum 3 kali sehari masing-masing 1 sendok makan.

3. HIV/AIDS
Bahan : Sari buah merah
Pemakaian :
Sari buah merah diminum 3 kali sehari masing-masing 1 sendok makan.

4. Stroke
Bahan : Sari buah merah
Pemakaian :
Sari buah merah diminum satu kali sehari dengan dosis 1 sendok teh (Budi dan Paimin,2004).

Sumber: diperta.jabarprov.go.id (Seksi Perlintan Hortikultura Bidang Hortikultura Diperta Jabar)
Penulis: Seksi Perlintan Hort