Buah Merah Buah Surga

Buah Merah di Pasar
Buah Merah di Pasar

TEMPO.CO, Jayapura – Gubernur Papua Lukas Enembe mengatakan Papua mendeklarasikan buah merah sebagai buah surga. Dasarnya, makanan utama burung khas tanah Papua, cenderawasih, adalah buah merah. Itu sebabnya bulunya cantik dan indah. “Jadi jika burung cenderawasih dikenal sebagai burung surga, maka buah merah yang menjadi makanannya bisa disebut buah surga,” katanya, Senin, 14 April 2014.

Dia mengatakan buah merah akan menjadi salah satu produk unggulan Papua. “Mungkin tahun depan akan kami pakai pola perkebunan inti rakyat (PIR), sehingga masyarakat kami yang tak memiliki pekerjaan diarahkan menanam buah merah di seluruh wilayah kabupaten atau kota di Papua,” ucapnya.

Pemerintah Papua juga sepakat menjadikan jus buah merah sebagai minuman resmi PON 2020. “Saat Papua jadi tuan rumah,” katanya. “Ternyata buah merah ini luar biasa dan bisa menjadi produk unggulan kami di Papua, selain tanaman kopi dan kakao,” ujar Lukas.

Buah merah adalah buah asli dari wilayah Papua yang kebanyakan tumbuh di wilayah pegunungan tengah provinsi ini, seperti di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya. Biasanya, masyarakat Wamena menyebut buah ini kuansu. Namun nama ilmiahnya adalah Pandanus conoideus.

Tanaman buah merah ini termasuk keluarga pandan-pandanan. Pohonnya menyerupai pandan, tapi tingginya dapat mencapai 16 meter dengan batang bebas cabang setinggi 5-8 meter yang diperkokoh akar-akar tunjang pada bagian bawah batang.

Kultivar buah ini berbentuk lonjong dengan kuncup tertutup daun buah. Adapun panjang buah merah mencapai 55 sentimeter dengan diameter 10-15 sentimeter. Sedangkan bobotnya dua-tiga kilogram. Saat matang, buah ini berwarna merah marun terang. Namun ada pula jenis tanaman ini yang buahnya berwarna cokelat dan cokelat kekuningan.

Bagi warga setempat, buah merah disajikan sebagai makanan dalam pesta adat bakar batu. Namun banyak pula warga yang memanfaatkannya sebagai obat. Buah merah sudah dikonsumsi sejak dulu secara turun-temurun sebagai suatu tradisi. Sebab, buah ini berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti penyakit mata, cacingan, dan kulit serta meningkatkan stamina.

Sumber:

  1. http://www.tempo.co/read/news/2014/04/14/058570621/Buah-Merah-Buah-Surga
  2. Yahoo! Id News

Gubernur Deklarasikan Wajib Tanam Buah Merah Sebagai Komoditas Unggulan

Ditulis oleh Thoding/Papos

JAYAPURA [PAPOS] – Gubernur Papua Lukas Enembe,SIP.MH mendeklarasikan gerakan wajib tanam buah merah sebagai komoditas unggulan unggulan provinsi Papua, dan menginstruksikan kepada Bupati/Walikota menanam buah merah.

Gerakan menanam buah merah bagi seluruh masyarakat Papua dalam rangka meningkatkan perekonomian daerah serta membuka lapangan kerja bagi masyarakat yang belum memiliki pekerjaan.

Deklarasi oleh Gubernur Papua dilakukan disela-sela acara 1 tahun gerakan bangkit mandiri dan sejahtera bersama Gubernur dan Wakil Gubernur Lukas Enembe,SIP,MH – Klemen Tinal,SE,MM, bertempat di Sasana Krida Kantor Gubernur Dok II Jayapura, Senin (7/4) kemarin.

Menurut Lukas Enembe, deklarasi ini merupakan sebuah perenungan selama satu tahun. Karena dirinya menilai tak ada cara lain lagi untuk dapat memberdayakan orang Papua.

“Karena itu, saya mau mendeklarasikan gerakan tanam buah merah. sehingga orang Papua wajib untuk menanam buah merah. Kalau saya suruh orang Papua tanam kelapa sawit, dia tidak punya kemampuan karena dari nenek moyangnya tidak pernah menanam tanaman ini. Itulah sebabnya yang terbaik bagi orang Papua adalah harus tanam buah merah karena apa yang dihasilkan kelapa sawit sama dengan buah merah (nilai investasinya),”jelasnya.

Masih menurut Gubernur, pihaknya sudah mendengar dari semua pihak baik para ahli maupun masyarakat bahwa ternyata buah merah kedepan dapat menjadi primadona dan produk unggulan Papua selain tanaman kopi dan kakao.

Oleh karenanya, tahun depan Pemerintah Provinsi akan menggunakan pola PIR (Perkebunan Inti Rakyat) dengan mengajak masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan untuk diarahkan menanam buah merah di seluruh kabupaten kota.

“Jadi ini penting karena ternyata Burung Cenderawasih punya makanan utama adalah buah merah. Itu makanan pokoknya, sehingga kalau ada lagu yang menyatakan “surga kecil jatuh ke bumi” itu juga ada benarnya.

Dalam artian Burung Cenderawasih dan Buah Merah merupakan “suami istri”, sehingga Burung Cenderawasih disebut burung surga sementara buah merah disebut buah surga. Burung surga menjadi cantik dan elok karena makan makanan surga”. “Karena itu, saya deklarasikan bahwa buah merah merupakan buah surga.

Sebab kedepan kita juga sudah sepakat agar produk unggulan ini akan mencukupi kebutuhan vitamin A di Indonesia,” tuturnya. Pada kesempatan itu Gubernur menyerukan kepada seluruh Bupati di Papua untuk ikut menanam buah merah dimasing-masing wilayahnya. Sebab buah tersebut bakal dijadikan jus guna dipatenkan sebagai minuman PON 2020.[tho]

Terakhir diperbarui pada Selasa, 08 April 2014 01:08

Buah Merah Bakal jadi Minuman Resmi PON 2020

Rabu, 26 Maret 2014 05:51

http://bintangpapua.com/index.php/2012-12-03-03-14-02/2013-01-02-06-12-35/item/14449-buah-merah-bakal-jadi-minuman-resmi-pon-2020
Lukas Enembe, S.IP, MHJAYAPURA—Dengan semangat memperkenalkan produk asli Papua, terutama Buah Merah, Pemerintah Provinsi Papua telah berencana untuk menjadikan sari buah ini sebagai minuman resmi dalam ajang PON XX tahun 2020 yang diyakini akan diselenggarakan di Tanah Papua.

Hal ini sebagaimana dituturkan Gubernur Papua Lukas Enembe, S.Ip, MH melalui Kepala Biro Humas dan Protokoler Setda Papua FX. Mote, M.Si. “Minuman buah merah ini, akan kita jadikan minuman PON XX,” kata Gubernur kepada wartawan, Selasa (25/3) siang.

Dikatakannya, saat ini pihaknya sudah mendaftarakan Buah Merah di KONI Pusat untuk dijadikan merek minuman resmi PON di Papua tahun 2020 dan menurutnya, dalam 1 tahun ini ia akan bekerja keras dalam upaya untuk mengolah buah merah menjadi produk-produk yang memiliki nilai tambah.

Untuk pengelolaan dan budidaya buah merah ini, tutur Gubernur, akan lebih mudah bila dilakukan oleh masyarakat Papua jika dibandingkan dengan menanam kelapa sawit, yang sulit dan investasinya membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Terlebih masyarakat asli Papua sudah terbiasa untuk menanam dan mengolah buah Merah, sehingga ke depan ada hasil ekonomi yang bisa dinikmati.

Selain dijadikan minuman, Buah Merah dikatakan Gubernur telah dikembangkan menjadi produk lain seperti diolah menjadi sabun yang sejauh ini sangat diminati oleh seluruh Negara-negara di dunia, karena lebih harum dan cocok untuk melembutkan kulit atau sebagai sabun kecantikan.

“Jadi, permintaannya luar biasa dari berbagai Negara. Bahkan berton-ton, sehingga akan menjadi unggulan, karena Buah Merah yang memiliki kandungan vitamin A paling tinggi dari semua jenis buah, sehingga permintaan dunia kepada Indonesia terhadap vitamin A cukup tinggi, tetapi kebutuhan dalam negeri tidak mampu dicukupi,” ungkap Gubernur. (ds/art/lo2)

Faktor Tanah dalam Pengembangan Tawy

Sumber artikel: FAKTOR TANAH DALAM PENGEMBANGAN TAWY (TAWY / Pandanus conoideus Lamk.), diedit seperlunya dan disajikan oleh Buahmerahwamena.com

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tanaman Tawy (buah merah), dengan nama ilmiah Pandanus conoideus Lamk. merupakan salah satu tanaman asli di Tanah Papua, tumbuh menyebar mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai, dan beradaptasi dengan baik pada tanah tandus dengan pH masam (4,30−5,30). Tanaman umumnya dibudidayakan secara tradisional, tanpa pemupukan, dan penanganan pascapanen dilakukan secara sederhana untuk konsumsi sendiri.

Berdasarkan hasil penelitian tahun 2006 dibuktikan bahwa minyak yang dihasilkan dari Tawy digunakan sebagai penyedap masakan yang bernilai gizi tinggi karena mengandung beta-karoten, juga dimanfaatkan sebagai pewarna alami yang tidak mengandung logam berat dan mikroorganisme berbahaya. Masih menurut penelitian I Made Budi, dosen Universitas Cenderawasih ini, minyak Tawy juga berkhasiat mengobati beberapa penyakit, seperti kanker, HIV, malaria, kolesterol, dan diabetes. Semtnara itu, ampas dari pemerasan Tawy dapat digunakan sebagai pakan ungags, pakan babi, dan pakan ikan. Secara tradisional ampas biasanya digunakan sebagai pupuk untuk tanaman dan makanan babi.

Karena kegunaannya yang beragam, minyak Tawy diminati konsumen baik di dalam negeri maupun mancanegara dengan harga yang cukup tinggi. Peluang pengembangan Tawy cukup baik, karena selain harganya yang mahal, budi daya dan cara pengolahannya sederhana (Litbang, 2009).

Iklim Tanah Papua (mulai dari Sorong sampai Samarai) sesuai bagi pertumbuhan tanaman Tawy. Data dari Stasiun Meteorologi dan Geofísika Kabupaten Jayawijaya tahun 2004 menunjukkan, curah hujan rata-rata sebesar 173 mm/ bulan, tertinggi pada bulan Desember dan terendah bulan Juli. Jumlah hari hujan 25 hari/bulan dengan suhu udara rata-rata 20,20°C dan kelembapan 84,70% (Badan Pusat Statistik Provinsi Papua, 2005). Pada curah hujan tinggi inilah, biasanya dikenal di pegunungan tengah sebagai musim panen Tawy. Semakin tinggi curah hujan, maka semakin sering Tawy berbuah.

Kondisi iklim tersebut sangat mendukung bagi pertumbuhan tanaman Tawy. Tawy mengandung asam lemak terutama asam oleat sekitar 30%, sehingga bermanfaat untuk meningkatkan status gizi masyarakat. Tawy juga mengandung antioksidan yang cukup tinggi, di antaranya karotenoid dan tokoferol. Antioksidan bermanfaat mencegah penyakit gondok, kebutaan, dan sebagai antikanker. Tawy juga mengandung mineral Fe, Ca, dan Zn (Budi, 2003).

Tawy merupaan salah satu komoditas unggulan Papua yang begitu gencar dipromosikan oleh berbagai pihak, terutama gubernur Provinsi Papua, Lukas enembe. Secara tradisional Tawy dikenal masyarakat yang bermukim di daerah pantai maupun pegunungan( Litbang, 2009). Akan tetapi masyarakat di pesisir tidak memanfaatkannya seoptimal yang dimanfaatkan di pegunungan tengah. Di pegunungan tengah sudah terdapat Kepala Suku Tawy, di mana tanaman, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan Tawy semuanya dilakukan dibawah komando sang Kepala Suku Tawy.

Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui faktor tanah dalam pengembangan Tawy (Pandanus conoideus Lamk.).

Kegunaan Percobaan

– Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti pra praktikal tes di Laboratorium Budidaya Tanaman Hortikultura Universitas Sumatera Utara, Medan.

– Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

Botani Tanaman

Menurut wikipedia (2010), Tawy (Pandanus conoideus Lamk.) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

  • Kingdom : Plantae
  • Divisio : Spermatophyta
  • Subdivisio : Magnoliophyta
  • Kelas : Liliopsida
  • Ordo : Pandanales
  • Famili : Pandanaceae
  • Genus : Pandanus
  • Spesies : Pandanus conoideus Lamk.

 

Tawy memiliki akar tunjang 0,20−3,50 m, lingkar akar 6−20 cm, berwarna coklat dengan bercak putih, bentuk bulat, dan permukaan berduri. Jumlah akar dalam satu rumpun berkisar antara 11−97 (Lebang dkk., 2004).

Batang utama berkisar antara 20−40 cm, tinggi tanaman 2−3,50 m. Batang berwarna coklat dengan bercak putih, berbentuk bulat, berkas pembuluh tidak tampak jelas, keras, arah tumbuh vertikal atau tegak, jumlah percabangan 2−4, dan permukaan berduri. (Litbang, 2009).

Daun berukuran 96 cm x 9,30 cm sampai 323 cm x 15 cm. Ujung daun bertusuk (micronate), pangkal merompong (cut off), tepi daun dan bagian bawah tulang daun berduri. Komposisi daun tunggal dengan susunan daun berseling (alternate). Daun lentur, berwarna hijau tua, pola pertulangan daun sejajar, tanpa tangkai daun (sessile), dan tidak beraroma (Lebang dkk., 2004).

Bunga menyerupai bunga nangka dengan warna kemerahan. Muncul pada percabangan dengan merumpun ataupun tunggal. Buah menunjukan adanya pertumbuhan generatif dari tanaman tersebut (Limbong dan Uhi, 2005).

Buah berukuran panjang 68– 110 cm, diameter 10−15 cm, berbentuk silindris, ujung menumpul, dan pangkal menjantung. Saat masih muda, buah berwarna merah pucat, dan berubah menjadi merah bata saat tua (Lebang dkk., 2004).

 

Syarat Tumbuh

Iklim

Iklim Papua sesuai bagi pertumbuhan tanaman buah merah. Data dari Stasiun Meteorologi dan Geofísika Kabupaten Jayawijaya tahun 2004 menunjukkan, curah hujan rata-rata sebesar 173 mm/ bulan, tertinggi pada bulan Desember dan terendah bulan Juli. Jumlah hari hujan 25 hari/bulan dengan suhu udara rata-rata 20,20°C dan kelembapan 84,70% (BPPS Papua, 2005).

Vegetasi yang sesuai untuk kondisi lintang tersebut adalah hutan hujan tropis yang disertai dengan suhu panas dan kelembaban tinggi. Curah hujan rata-rata yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman adalah sekitar 2000 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 100-150 hari (Litbang, 2009).

Tanah

Tanaman Tawy tumbuh secara alami di dataran rendah hingga tinggi. Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai dan beradaftasi pada tanah tandus dan ber-pH masam (3,50-5,30) (Wamaer dan Malik, 2009).

Berdasarkan hasil analisis tanah dari empat lokasi pengembangan Tawy di Papua (Hadad et al. 2005), umumnya tanaman Tawy dapat tumbuh pada tanah kurang subur, banyak mengandung pasir, dan bersifat agak masam (pH 4,30− 5,30) (Litbang, 2009).

Salah satu sentra pengembangan tanaman Tawy di Papua adalah Kecamatan Kelila, yang terletak pada ketinggian 2.500 m dpl, dan tanahnya didominasi Podsolik dengan tekstur gelum (Litbang, 2009).

Kedalaman tanah sampai batas batuan kasar atau lapisan akar tanaman mampu menembus tanah untuk menyerap unsur hara berkisar antara 100−150 cm (Sutarno, 2001).

 

Gambar 1: Bibit Tawy dan tanaman dewasa serta buah siap olah dari tipe

Tawy panjang

 

FAKTOR TANAH DALAM PENGEMBANGAN TAWY

Keadaan Sifat Fisik tanah

Pada umumnya sifat fisik tanah menjadi hal penting dalam menyesuaikan komoditi dan pertumbuhan tanaman. Namun tanaman Tawy tidaklah tanman yang manja untuk dapat tumbuhmenjadi tanman yang ideal. Faktor fisisk tanah bukanlah penghmabat karena secara umum tanaman ini dapat tumbuh dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Untuk iklim tropis seperti indonesia wilayahnya dapat ditumbuhi tanaman liar ini (Litbang, 2009).

Bila tanaman yang dibudidayakan membutuhkan pemeliharaan yang intensif namun untuk Tawy tidaklahdemikian karena tanaman ini adalah tanaman tumbuh liar dan dapat tumbuh pada kesubutran rendah dan tanah masam ( Nainggolan, 2001).

Sifat fisik tanah bukanlah hal yang dianggap mendominasi keadaan tanamn namun secara umum tanaman ini mampu tumbuh optimal di tanh berpasir ( Litaban, 2009).

Tekstur Tanah dan Struktur Tanah

Sebagian besar tanaman Tawy masih tumbuh liar dan belum dibudidayakan walaupun sudah ada namun jumlahnya relatif kecil, karena secara ilmiah masih banyak orang yang beranggapan bahwa tanaman ini adalah tanaman liar. Tekstur untuk tanaman ini pada umumnya cocok pada daerah berpasir karena habitat asli berada di sekitar sungai dan aliran sungai (Litang, 2010).

Tekstur dan struktur tanah pada tanaman ini merupakan hal yang menentukan pertumbuhan tanaman ini. Karena pada dasaranya dalahtumbuhna liar maka tanaman ini mudah dibudidayakan( Naingggolan, 2001).

Tanaman Tawy dapat tumbuh pada dataran rendah hingga ketinggian 2.500 m dari permukaan laut (dpl), dengan kesuburan tanah rendah, masam sampai agak masam, dan naungan 0−15%, tanahnya podzolik dan teksturnya gelum (Nainggolan, 2001).

Tekstur Tanah Setempat

Tanaman Tawy (Pandanus conoideus Lamk.) merupakan salah satu tanaman tradisional Papua, tumbuh menyebar mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. ( Litbang , 2009).

Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai, dan beradaptasi dengan baik pada tanah tandus dengan pH masam (4,30−5,30). Tanaman umumnya dibudidayakan secara tradisional, tanpa pemupukan, dan penanganan pascapanen secara sederhana ( Sutarno, 2001).

Pengaruh Lingkungan

Pengaruh lingkunagan sangatlah berkaitan dengan pertumbuhan tanaman, namun tanman ini sangat resisten terhadap berbagai pengaruh lingkungan ( Usman, 2007).

Hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam konsdisis lapang Tawy adalaha sebagai berikut: tanaman dapat beradaftasi secra luas budidaya cukup mudahdapat tumbuh pada keadaan kurang suburnamun cukup air, tanaman kurang disukai hama dan penyakit ( Litbang, 2009 ).

Umumnya tanamna Tawy tanaman Tawy dapat tumbuh pada tanah kurang subur, banyak mengandung pasir, dan bersifat agak masam (pH 4,30− 5,30). Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai. Menurut Yuhono dan Malik (2006), lebih dari 90% tanaman Tawy tumbuh secara liar atau dipelihara dengan teknologi budi daya dan pascapanen seadanya. Dan tanaman ini sebenaranya tempat tumbuh yang optimal adalah padadaerah tropis di kepualuan Papua ( Hadad dkk., 2005 ).

 

PELUANG PENGEMBANGAN BUAH MERAH

Tawy merupakan salah satu komoditas unggulan Papua. Secara tradisional, Tawy sudah dikenal masyarakat yang bermukim di daerah pantai maupun pegunungan. Daya tarik Tawy adalah kandungan kimianya, berupa zat gizi penting untuk ketahanan tubuh seperti beta-karoten, tokoferol (vitamin E), asam linolenat, asam oleat, asam stearat, dan asam palmitat. Beta-karoten dan tokoferol dikenal sebagai senyawa antioksidan yang dapat menghambat perkembangan radikal bebas di dalam tubuh manusia. Oleh karena itu, Tawy potensial dikembangkan sebagai bahan baku obat degeneratif, seperti gangguan jantung, lever, kolesterol, diabetes, asam urat, osteoporosis, serta sebagai antiinfeksi seperti HIV (Hadad dkk., 2005).

Lahan yang berpotensi untuk pengembangan komoditas perkebunan, termasuk buah merah, di Papua tersebar di beberapa kabupaten, antara lain Jayawijaya, Puncak Jaya, Tolikara, Yahukimo, Jayapura, Manokwari, Sorong, Merauke, Biak, Nabire, Paniai, Yapen Waropen, Mimika, dan Fakfak. Luasnya mencapai 7,20 juta ha, namun baru dimanfaatkan 165.885 ha (Rumbarar, 2002).

Pemanfaatan Tawy oleh masyarakat lokal, baik sebgai sumber gzi, penyedap masakan, obat beberapa jenis penyakit, maupun pakan ternak ( Litbang, 2009 ).

Tawy yang diperdagagangkan sebagian besar berasal dari tanaman yang tidak dibudidayakan, sehingga bea budidaya dianggap nol ( Karyono, 2003 ).

Pada sistem budidayanya walaupun tanaman Tawy oleh masyarakat dianggap sebagai tanman tradisional, upaya pengembangan perlu diikuti dengan teknik budidya yang sesuai meliputi pembibitan, penanaman dan pemeliharaan tanaman. Tanman diperbanyak secra vegetatif menggunakan stek tunas dari akar atau batang stek (Litbang, 2009).

Daya tarik Tawy adalah kandungan kimianya, yaitu zat gizi penting untuk ketahanan tubuh. Oleh karena itu, Hadad dkk., (2006) menyatakan, tanaman ini berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku obat degeneratif untuk mengobati penyakit HIV, di samping sebagai penunjang makanan pokok sehari-hari. Tulisan ini menginformasikan peluang pengembangan buah merah, termasuk karakteristik botani, varietas, cara budi daya, panen, pascapanen, dan kegunaannya sebagai sumber pangan, pakan, pewarna alami maupun bahan baku obat-obatan.

KESIMPULAN

  1. Peluang pengembangan tanaman Tawy ke depan cukup baik karena budi daya tanaman dan cara pengolahan minyaknya mudah dilaksanakan di tingkat petani, selain harga minyak cukup tinggi.
  2. Masyarakat meyakini bahwa minyak Tawy memiliki berbagai manfaat, antara lain sebagai bahan baku obat-obatan, makanan, pewarna alami, kosmetik, dan limbahnya sebagai pakan.
  3. Tawy merupakan tanaman yang mampu hidup pada tanah yang kurang baik atau tandus dan pH masam
  4. Pengembangan tanaman Tawy harus dilakukan engan menerapkan teknologi budi daya dan pascapanen sesuai dengan sifat dan karakter biologis tanaman
  5. Faktor tanah dalam pengembangan Tawy menjadi hal yang cukup penting untuk pertumbuhan dan perkembangan
  6. Tanaman Tawy dapat tumbuh optimal di tanah yang kurang subur atau tandus sekalipun kareana itu tanman ini biasa disebut tanaman liar
  7. pH masam dan tekstur berpasir adalah kondisi tanah yang ideal untuk pertumbuhan
  8. Kesuburan tanah yang rendah bukanah faktor pembatas dalam penentuan kondisi fisik tanah untuk tanaman buah

DAFTAR PUSTAKA

  1. Badan Pusat Statistik Provinsi Papua. 2005. Papua dalam Angka Tahun 2004/2005.
  2. .
  3. Budi, M. 2003. Potensi Kandungan Gizi Tawy (p. Conoideus lamk.) Sebagai Sumber Pangan Alternatif Untuk Mendukung Ketahanan Pangan Masyarakat Papua. Kerja Sama Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Jayapura Dengan Universitas Negeri Papua.
  4. Hadad, M., Atekan, A. Malik, dan D. Wamaer. 2006. Karakteristik dan Potensial Tanaman Tawy (Pandanus conoideus Lamk.). Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Bogor.
  5. Karyono, O.K. 2003. Nilai Ekonomi Tawy di Bawah Tegakan Hutan Rakyat; Studi Kasus di Kabupaten Wamena. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor.
  6. Lebang, A., Amiruddin, J. Limbongan, G.I. Kore, S. Pambunan, dan I M. Budi. 2004. Laporan Usulan Pelepasan Varietas Tawy Mbarugum. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Papua.
  7. Limbongan, J. dan H.T. Uhi. 2005. Penggalian Data Pendukung Domestikasi dan Komersialisasi Jenis, Spesies dan Varietas Tanaman Buah di Provinsi Papua. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. Jakarta.
  8. 2009. Jurnal Litbang Pertanian. Bogor.
  9. Nainggolan, D. 2001. Aspek Ekologis Kultivar Tawy Panjang (Pandanus conoideus Lamk.) di Daerah Dataran Rendah Manokwari.Universitas Negeri Papua. Manokwari.
  10. Rumbarar, L. 2002. Kebijakan Pembangunan Wilayah Perkebunan.Jayapura
  11. Sutarno, S. 2001. Tumbuhan Penghasil Warna Alami dan Pemanfaatannya dalam Kehidupan Suku Meyah di Desa Yoom Nuni. Universitas Negeri Papua. Manokwari.
  12. 2007. Pemanfaatan Pasta Tawy Sebagai Pakan Alternatif Ayam Buras Periode Grower. BPTP. Papua,
  13. Wamaer, D. dan A. Malik. 2009. Analisis Finansial Pascapanen Tawy (Pandanus conoideus Lamk.). Jurnal Tambue Universitas Moh. Yamin Solok.
  14. 2010. Buah Merah. Http://wiki.buahmerah. Diaksese 28 Oktober 2010
  15. ..
  16. Terkait
  17. BUDIDAYA KENTANG HITAM ( Soleneotemon rotundifolius (Poir) J. K. Mort.) PADA TANAH MINERAL MASAMDengan 3 komentar
  18. HIDROPONIKDengan 3 komentar
  19. RESPONS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN BAYAM (Amaranthus sp.) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK NPKDengan 1 komentar