Karlos Karoba dan Minyak Buah Merah di Angkasapura, Jayapura

Angkasapura Jayapura tidak hanya terkenal karena didiami oleh para elit Provinsi Papua, tidak juga karena lembah sunyi yang dinanyikan oleh Black Brothers, grup lagu pop Melanesia yang legendaris itu.

Angkasapura juga terkenal karena satu orang ini, yaitu Karlos Tawy Karoba.

Sebagai anak-cucu dari Tawy, yang dalam bahasa Lani berarti “Buah Merah” itu sendiri, maka riwayat Karlos Karoba Tawy di Angkasapura perlu dicatat dari sisi kesuksesannya mensosialisasikan khasiat Minyak Tawy (Buah Merah) dari Tanah Papau kepada bangsa-bangsa di dunia.

Mengapa bangsa-bangsa di dunia? Karena letaknya yang strategis dan keikutsertaan Pak Karlos Karoba Tawy dalam berbagai pameran dan pesta di Provnsi Papua, maka Minyak Buah Merah Karlos Karoba yang berlokasi tempat tinggal di Angkasapura di Jayapura tidak asing lagi di telinga para penderita berbagai penyakit modern ataupun bagi para elit di Tanah Papua.

Karlos Karoba sehari-harinya ialah seorang Petani Buah Merah itu sendiri. Dengan isterinya di usia yang sudah lanjut, keduanya tidak punya pekerjaan lain, selain mengandalkan Buah dari Sorga ini, buah yang diturunkan dari Langit untuk Kesembuhan umat Manusia yang menderita berbagai penyakit modern yang mematikan, seperti HIV/ADIS, Tumor, Kanker, Asam-urat, lemah syahwat, gangguan ingatan.

Semoga karya Karlos Karoba ini menjadi kenangan bagi kita semua.

Semoga siapa saja yang datang ke Ibukota Provinsi Papua, Jayapura, tidak lupa kepada ketekunan Karlos Karoba dalam mengembangkan produk Minyak Buah Merah dan paling tidak membeli satu botol produknya.

Untuk informasi dan pembelian, silahkan hubungi:

Petani Buah Merah Bisa Meraup 60 Juta Rupiah Per Hektar

Kini penghasilan para petani buah merah di Provinsi Papua dapat mencapai 60 juta rupiah per tahun per hektar. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Papua Samuel Siriwa.

“Tahun ini luas tanam buah merah mencapai 265 hektare (ha) dari sebelumnya hanya 40 hektare. Ke depan diharap terus meningkat karena petani diuntungkan,” katanya di Jayapura dikutip dari situs berita okezone.

Perekonomian para petani buah merah di Papua mulai terangkat seiiring mulai meningkatnya kembali permintaan buah merah dari berbagai daerah di tanah air.

buah merah

Respons masyarakat yang begitu tinggi terhadap program penanaman buah merah, menurutnya, tidak lepas dari kebijakan Gubernur Papua Lukas Enembe yang menambah alokasi anggaran untuk bidang perekonomian rakyat dari sebelumnya 5 persen menjadi 20 persen.

“Dengan kebijakan itu SKPD yang bergerak di bidang ekonomi secara otomatis plafon anggarannya naik dan program yang dibuat mengarah kepada penggerakan perekonomian di akar rumput, salah satunya adalah pencanangan penanaman buah merah,” ucapnya.

Pada 2014, Pemerintah Provinsi Papua mengembangkan penanaman buah merah seluas 40 hektare (ha) ditambah dengan penyediaan bibit, termasuk bantuan mesin pengolahan buah merah menjadi minyak, di lima kabupaten, yakni Jayapura, Yahukimo, Tolikara, Kelila Mamberamo Tengah, dan Puncak Jaya. Khusus tahun 2015, dikembangkan penanaman buah merah pada 225 hektare lahan di Kabupaten Yalimo, Pegunungan Bintang, Nduga, Keerom, dan Kota Jayapura.

Sandhy Buah Merah @ 04.41, Sumber
Tagged @ berita buah merah