Denny Yomaki Pioneer Khasiat Tawy (Buah Merah), I Made Budi Penerusnya

Tidak banyak orang tahu bahwa Denny Yomaki, seorang mahasiswa di Universitas Cenderawasih, Jurusan Kimia ialah pioneer dalam penulisan ilmiah tentang Khasiat Tawy. Pada akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an ada seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Cenderawasih waktu itu bertemu dengan saya sebagai teman seangkatan,walaupun saya berkuliah di Program Studi yang berbeda, kami ada di Fakultas yang sama, begitu kata saksi mata yang dalam artikel ini tidak mau disebutkan namanya.

Masih menurut penutur cerita ini, pada waktu itu Denny Yomaki membagi-bagikan informasi kepada rekan seangkatannya tentang temuannya bahwa Tawy (buah merah) ternyata mengandung banyak sekali unsur di dalamnya yang berpotensi membantu manusia menyehatkan tubuh dan bahkan sangat mungkin menyembuhkan penyakit.

Kami yang tidak paham tentang kimia haya diberitahu bahwa Tawy punya khasiat begitu banyak. Mata rabun bisa pulih kebali, kecanduan rokok bisa dihentikan, sakit maag bisa disembuhkan, lemah syahwat juga bisa disembuhkan. Disebutkan sejumlah penyakit yang sewaktu itu namanya saja saya tidak kenal juga disebutkan.

Denny Yomaki juga menyebutkan bahwa penelitian yang dilakukannya itu pertama-tama ditolak oleh Dosen Pembimbingnya dengan alasan tidak relevan, tidak ada tulisan sebelumnya tentang Tawy.

Pandangan umum waktu itu, termasuk semua yang mendengarnya bahwa Tawy ialah makanan orang kampung, yang bikin kotor. Bagi orang yang menyukainyapun tidak lagi mengkonsumsi Tawy sejak mereka bersekolah di sekolah modern atau setelah menjadi pegawai negeri karena akibat makan Tawy semua benda, pakaian, mulut, tangan, pintu rumah, lantai, belanga, piring, semua akan menjadi merah dan akan sulit dibersihkan.

Masih menurut sumber cerita ini

Saya masih ingat waktu itu, Denny Yomaki punya semangat menggebu-gebu bahwa Tawy memiliki khasiat yang luarbiasa, dan dia telah membuktikannya dalam laboratorium kimia di Universitas Cenderawasih. Tetapi saya juga masih ingat dengan segar betapa para pendengar, termasuk saya sendiri yang dapat dikatakan “punya nenek moyang Tawy” tidak begitu bersemangat karena menganggap Tawy merupakan makanan yang mengotori banyak hal kalau dimakan di kota.

Pada waktu itu kami tidak berpikir untuk mengolahnya seperti yang dilakukan saat ini. Waktu itu kami masih berpatokan kepada pemikiran cara mengolah seperti yang ada di kampung, sehingga sulit kita bayangkan bahwa Minyak Tawy ada di dalam botol dan bisa dijual. Bahkan pemikiran memisahkan minyak Tawy dari Santan Tawy juga belum ada waktu itu. Yang kita tahu waktu itu Tawy berhkasiat menyehatkan dan menyembuhkan.

Menurut sang pencerita ini, sudah jelas dan pasti Drs. I Made Budi, yang kebetulan mengajar di tempat yang sama, di fakultas dan jurusan yang sama, membaca tulisan mahasiswa puluhan tahun sebelumnya, atau pernah mendengarnya. Menurut dia,

Kalau Pak Made bilang saya tertarik dengan kondisi tubuh orang gunung Papua yang begitu kuat dan prima, padahal makan makanan seadanya, lalu tertarik dengan buah merah sebagai salah satu makanan yang dikonsumsi oleh orang gunung, untuk mengetahui apa yang ada di adlamnya, maka secara logika ilmiah tidak jelas hubungan antara memilih buah merah dan orang gunung yang prima, apalagi logika nurani saya tidak terima. Logika ilmiah bisa dimanupulasi, tetapi logika nurani tidak akan pernah tertipu. Kita manusia, kita tidak hanya punya otak, tetapi nurani. Dan nurani selalu lebih benar daripada otak. Otak penipu, otak bisa manipulasi, otak bisa berkelak, tetapi nurani tidak.

Karena nurani saya tidak menerima, maka secara logika biarkan saya berspekulasi, bahwa temuan Denny Yomaki ini entah itu secara tertulis atau secara lisan dari mulut-ke-mulut pernah didengar oleh Drs. I Made Budi, yang kemudian membandingkan kondisi fisik orang gunung Papua, lalu memperkuat tekad untuk menelitinya.

katanya.

Masih menurutnya lagi, “Saya lebih suka menyatakan bahwa Denny Yomaki-lah penemunya, dan I Made Budi penerusnya yang mempopulerkan temuan Denny Yomaki!”

Buah Merah Papua: Laporan Kunjungan ke Pameran Flora Flori Nasional

LAPORAN BIOGEOGRAFI

Kunjungan ke Pameran Flora Flori Nasional Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Biogeografi

Dosen Pengampu: Gunardo RB M.Si

 

 

Disusun oleh:

Teguh Tri Susilo

12405241033

Pendidikan Geografi R 2012

 

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2013

 

“BUAH MERAH PAPUA”

 

A.      Penjelasan Singkat

Kunjungan study di Pameran Flori Flora tingkat Nasional dilaksanakan pada hari jum’at 4 oktober 2013. Pada pameran tersebut saya tertarik pada stand Papua yang dimana didalamnya terdapat berbagai macam buah dan sayur. Namun ada satu buah yang menarik perhatian saya, selain bentuknya yang unik, warnanya pun juga menarik, yaitu “buah merah”. Tanaman buah merah adalah sejenis buah tradisional dari Papua. Masyarakat suku Lani di Wamena Barat, Papua menyebutnya Tawy. Nama ilmiahnya Pandanus Conoideus Lam. Tanaman Buah Merah termasuk tanaman keluarga pandan-pandanan. Pohonnya sama dengan pandan, namun tinggi tanaman ada yang mencapai sampai 16 meter dengan tinggi batang bebas cabang sendiri setinggi 5-8 m. Batang buah merah diperkokoh oleh akar-akar tunjang pada batang sebelah bawah.

Tawy mengandung asam lemak terutama asam oleat sekitar 30%, sehingga bermanfaat untuk meningkatkan status gizi masyarakat. Buah merah juga mengandung antioksidan yang cukup tinggi, di antaranya karotenoid dan tokoferol. Antioksidan bermanfaat mencegah penyakit gondok, kebutaan, dan sebagai antikanker. Tawy juga mengandung mineral Fe, Ca, dan Zn. Tawy merupaan salah satu komoditas unggulan dari Tanah Papua. Secara tradisional Tawy dikenal masyarakat yang bermukim di daerah pantai mauun pegunungan ( Litbang, 2009), walaupun begitu pada saat ini sudah banyak dibudidayakan oleh masyarakat pedalaman Papua di wilayah pesisir dan pedalaman Tanah Papua, bahkan sampai ke luar tanah Papua juga sudah mulai dibudidayakan.

B.   Faktor Geografi Kaitannya Dengan Buah Merah

 1. Iklim

Iklim Papua sesuai bagi pertumbuhan tanaman buah merah. Data dari Stasiun Meteorologi dan Geofísika Kabupaten Jayawijaya menunjukkan, curah hujan rata-rata sebesar 173 mm/ bulan, tertinggi pada bulan Desember dan terendah bulan Juli. Jumlah hari hujan 25 hari/bulan dengan suhu udara rata-rata 20,20°C dan kelembapan 84,70%. Vegetasi yang sesuai untuk kondisi lintang tersebut adalah hutan hujan tropis yang disertai dengan suhu panas dan kelembaban tinggi. Curah hujan rata-rata yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman adalah sekitar 2000 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 100-150 hari.

 2.  Tanah

Tanaman buah merah tumbuh secara alami di dataran rendah hingga tinggi. Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai dan beradaftasi pada tanah tandus dan ber-pH masam (3,50-5,30) (Wamaer dan Malik, 2009). Berdasarkan hasil analisis tanah dari empat lokasi pengembangan buah merah di Papua (Hadad et al. 2005), umumnya tanaman buah merah dapat tumbuh pada tanah kurang subur, banyak mengandung pasir, dan bersifat agak masam (pH 4,30− 5,30) (Litbang, 2009). Salah satu sentra pengembangan tanaman buah merah di Papua adalah Kecamatan Kelila, yang terletak pada ketinggian 2.500 m dpl, dan tanahnya didominasi Podsolik dengan tekstur gelum (Litbang, 2009). Kedalaman tanah sampai batas batuan kasar atau lapisan akar tanaman mampu menembus tanah untuk menyerap unsur hara berkisar antara 100−150 cm (Sutarno, 2001).

 

C.      Budidaya Buah Merah

Tanaman buah merah umumnya dibudidayakan secara tradisional, tanpa pemupukan, dan penanganan pascapanen secara sederhana

1.      Syarat Tumbuh

Buah merah termasuk tanaman yang mudah tumbuh di mana saja, bahkan di pada tanah yang kurang subur tanaman ini dapat tumbuh. Tanaman ini dijumpai tumbuh liar pada berbagai kondisi tanah di daerah Papua dan bagian utara Maluku, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi dengan ketinggian 2.300 m di atas permukaan laut. Tanaman ini dapat tumbuh pada daerah yang memiliki kisaran suhu antara 23 – 33°C dan kelembaban udara antara 73 – 98%. Intensitas cahaya yang dibutuhkan adalah sekitar 1.000 – 3.000 lux. Buah merah menyukai lingkungan yang terlindung dan cukup rindang.

2.      Penyiapan Lahan

Lahan untuk budidaya buah merah dicangkul dengan kedalaman 20 cm, kemudian dibuat petak-petak dengan ukuran 10 – 12 m, di antara petak-petak tersebut dibuat parit selebar 0,5 – 1 m agar drainase areal penanaman lebih baik karena tanaman ini tidak menghendaki tempat yang terlalu basah dan terendam air tetapi tanah harus dalam kondisi lembab. Lokasi penanaman sebaiknya berada dekat dengan sumber air agar secara periodik air dapat dialirkan ke parit-parit dalam lokasi penanaman untuk menjaga kelembaban tanah. Pada areal budidaya buah merah sebaiknya ditanam pohon pelindung seperti lamtoro.

3.      Penyiapan Bibit

Bahan tanaman untuk perbanyakan buah merah dapat berupa setek, anakan dan biji. Setek berupa pucuk tanaman yang tumbuh di bawah tanaman induk yang dipilih yang kondisi batangnya tua, berwarna abu-abu, panjang setek 40 – 50 cm dengan diameter 2 – 3 cm. Antara batas pelepah daun sampai pangkal batang bidang pangkasan minimal 15 cm. Setek ditanam pada bedengan semai yang telah disiapkan dengan jarak tanam 60 cm x 60 cm. Tanaman juga dapat diperbanyak dengan biji. Kelemahan perbanyakan dengan cara ini adalah kualitas bibit beragam, lama berbuah, biji lama berkecambah dan daya kecambah rendah karena kerasnya kulit biji. Sebelum disemai, biji direndam dalam air selama 1 hari, lalu ditiriskan dan dibungkus kain basah selama 1 malam untuk memecah dormansi biji. Kemudian biji disemai pada bedengan dengan media tanah dan pasir (1 : 1) atau tanah dan kompos (1 : 3). Benih disebar di atas media semai, lalu ditutup pasir setebal 2 – 3 cm, lalu ditutup lagi dengan jerami atau serbuk gergaji.

4.      Penanaman

Bibit ditanam dengan jarak tanam 6 m x 6 m atau 8 m x 8 m, maka pada setiap petak penanaman terdapat dua baris tanaman, di antara barisan tanaman tersebut ditanam pohon pelindung. Lubang tanam dibuat dengan ukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm. Tanah bekas galian dicampur dengan pupuk kandang atau kompos sebanyak 20 – 30 kg/lubang tanam. Bibit ditanam hingga batas leher akar.

5.      Pemeliharaan

Selama masa pertumbuhan, tanaman ini tidak perlu dipupuk dengan pupuk kimia, cukup diberi pupuk kandang 2 – 3 kali setahun dan diberi serasah dan sisa tanaman dan dedaunan di sekitar tanaman. Pada awal pertumbuhan daun-daun tua didpangkas untuk mempercepat pertumbuhan tanaman. Pemangkasan hanya dilakukan sampai tinggi tanaman 1 – 2 m, setelah itu, tanaman dibiarkan tumbuh secara alami. Pohon pelindung perlu dikontrol pertumbuhannya, bila terlalu rimbun harus dipangkas sehingga tidak mengganggu pertumbuhan tanaman utama. Dengan pemeliharaan yang baik, tanaman akan bercabang setelah berumur 2 tahun. Biasanya 6 bulan setelah muncul percabangan tanaman mulai berbuah.

 

6.      Panen dan Pascapanen

Pada awal pembentukkannya buah akan tumbuh tegak di setiap percabangan.

Seiring perkembangannya, buah akan merunduk perlahan-lahan hingga menggantung di bawah percabangan dan siap dipanen. Buah siap dipanen bila daun-daun yang membungkus buah mulai membuka. Panen dilakukan dengan galah bambu yang bagian ujungnya dibelah. Caranya, buah dijepit di ujunbg galah, diputar lalu ditarik. Setelah panen, buah harus segera diolah karena hanya dalam waktu 3 – 4 hari buah sudah busuk dan berjamur. Panen dapat berlangsung 2 – 3 kali setahun. Produksi optimal tercapai pada umur 10 – 15 tahun dengan jumlah buah 4 – 5 buah per pohon.

 

D.    Manfaat Buah Merah

Jika dilihat dari kandungan tokoferol dan betakarotennya yang sangat banyak maka minyak sari buah merah  sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia juga karena mengandung berbagai macam vitamin dan mineral. Oleh karena sangat banyaknya kandungan buah merah hingga bisa disebut sebagai multivitamin yang berkhasiat atau dapat dijadikan pendamping obat resep dokter.

Beberapa macam jenis penyakit yang dapat disembuhkan menggunakan buah merah adalah : HIV/AIDS, kanker payudara, kista rahim, stroke, tumor, Hepatitis, jantung koroner, menormalkan peredaran darah, darah tinggi, Asam urat, Ambeien, Pegel linu, Ganguan mata, ganguan paru-paru, brookitis, asma/sesak nafas, osteoporosis, membantu system kerja otak, meningkatkan libido, stamina, maag/gangguan pencernaan akibat asam lambung. Buah merah juga sangat baik untuk kesehatan anak-anak, ibu hamil dan para  kaum manula.

1.      AIDS

Walaupun telah bertahun-tahun para ahli mencoba membuat obat yang dapat menyembuhkan AIDS tetap saja obatnya masih belum bisa ditemukan. Mungkin Anda sendiri merasa tidak percaya mengenai khasiat buah merah yang satu ini. Namun khasiat buah merah dalam menyembuhkan AIDS sudah terbukti. Dikabarkan bahwa kemampuan buah merah menyembuhkan AIDS adalah karena buah merah mengandung banyak tokoferol dan betakaroten yang sangat tinggi. Kedua kandungan ini berfungsi sebagai antioksidan dan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia. Tokoferol dan betakaroten ini akhirnya berkombinasi untuk memecah asam amino yang dibutuhkan oleh virus penyebab AIDS, HIV, sehingga virus tersebut tak dapat melangsungkan hidupnya.

2.      Kanker dan Tumor

Khasiat lain dari buah merah adalah mengobati kanker dan tumor. Kanker dan tumor tak diragukan lagi adalah salah satu penyebab kematian terbesar. Disebabkan oleh apa kanker dan tumor itu? Penyakit ini disebabkan oleh ketidakteraturan hormon dalam tubuh yang menyebabkan tumbuhnya daging di jaringan tubuh normal. Buah merah Papua dapat mengobati kanker karena kandungan tokoferolnya yang sangat tinggi, yaitu mencapai 11.000 ppm dan betakarotennya mencapai 7.000 ppm. Kedua senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta mencegah pembiakan sel-sel kanker di dalam tubuh.

3.       Stroke dan Darah Tinggi

Buah merah Papua mengandung tokoferol yang dapat mengencerkan darah dan memperlancar sirkulasi darah sehingga kandungan oksigen dalam darah menjadi normal.

4.      Asam Urat

Tokoferol dalam buah merah Papua dapat mengencerkan darah dan memperbaiki sistem kerja lever. Sistem kerja lever, setelah diperbaiki, memproduksi kadar asam urat yang normal.

5.      Diabetes Mellitus (Kencing Manis)

Kandungan tokoferol dalam buah merah Papua dapat memperbaiki kerja pankreas sehingga fungsi pankreas menjadi normal kembali.

6.      Osteoporosis

Buah merah Papua adalah herbal yang kaya akan kalsium sehingga dapat mencegah dan mengobati osteoporosis. Dalam 100 gram buah merah segar terkandung 54.000 miligram kalsium.

7.      Gangguan Mata

Kandungan betakaroten yang tinggi dalam buah merah Papua mampu mengatasi banyak jenis penyakit mata yang disebabkan kekurangan vitamin A. Betakaroten diserap oleh tubuh dan diolah menjadi vitamin A.

8.      Meningkatkan Kecerdasan

Kandungan omega 3 dan omega 6 dalam buah merah dapat merangsang daya kerja otak dan meningkatkan kecerdasan. Oleh karena itu buah merah cocok untuk dikonsumsi oleh anak-anak dan pelajar.

9.      Meningkatkan Gairah dan Kesuburan

Buah merah, menurut mereka yang mengkonsumsinya, dapat membantu meningkatkan gairah seksual kaum pria. Efek pengobatan bervariasi, ada yang bereaksi setelah 15 menit meminumnya, ada juga yang setelah satu atau dua jam meminumnya. Vitamin E dalam buah merah Papua dapat membantu meningkatkan produksi sperma. Selain itu, buah merah mengandung energi tinggi, yaitu 360 kalori. Selain khasiat-khasiat yang telah disebutkan di atas, buah merah Papua dikabarkan dapat juga mengobati penyakit lambung, wasir, gangguan pada paru-paru dan sebagainya.

 

Daftar Pustaka

  1. Stand Papua di Pameran Flora Flori Nasional
  2. co.id
  3. Manfaat Buah Merah. Diakses dari http://www.buahmerahpapua.web.id/p/khasiat-manfaat-buah-merah.html

Tawy, Khasiatnya, Budidaya dan Pengolahannya

Written By sinar papua on Rabu, 19 September 2012 | Diedit dan diolah oleh Buahmerahwamena.com

(Sinar Papua)- Tawy (Buah merah) termasuk tanaman endemik. Secara umum habitat asal tanaman ini adalah hutan sekunder dengan kondisi tanah lembab. Tanaman ini ditemukan tumbuh liar di tanah Papua, pulau New Guinea.

Tanaman ini termasuk terna berbentuk semak, perdu atau pohon. Tinggi tanaman dapat mencapai 16 meter. Batang berwarna coklat bebercak putih, dengan semacam duri-duri seperti buah nangka menancap keluar. Akar tanaman berfungsi sebagai penyokong tegaknya tanaman, Akar-akar tunjang muncul dari bagian batang dekat permukaan tanah berfungsi sebagai penguat batang, diameter antara 8 – 1,5 cm.

Tanaman Tawy berdaun tunggal berbentuk lanset sungsang (oblanceolate) berwarna hijau tua, letaknya berseling. Ujung daun runcing, pangkal daun memeluk batang. Permukaan daun licin, tepi daun ada yang berduri ada juga yang tidak berduri.

Jenis Tawy
Di Papua terdapat lebih dari 30 jenis Tawy, tetapi ada 4 kultivar yang banyak dikembangkan yaitu :
1. Kultivar yang merah panjang, memiliki buah berbentuk silindris, ujung tumpul dan pangkal menjantung. Panjang buah mencapai 96 – 102 cm dengan diameter 15 – 20 cm. Bobot buah mencapai 7 – 8 kg. Warna buah merah bata saat muda dan merah terang setelah matang. Buah dibungkus daun pelindung berbentuk melancip dengan duri pada tulang utama sepanjang 8/10 bagian dari ujung. Buah ini dalam Bahasa Lani disbut Maler dan Ugwi.
2. Kultivar merah pendek, memiliki buah berbentuk silindris, ujung melancip, pangkal menjantung. Panjang buah mencapai 55 cm, diameter 10 – 15 cm, bobot buah 2 – 3 kg. Warna buah saat muda merah kotor dan saat matang berwarna merah terang. Buah terbungkus daun pelindung meruncing, dengand duri sepanjang ½ baian tulang utama. Dalam Bahasa Lani disebut Magari atau ada juga kwambir.
3. Kultivar merah coklat, memiliki buah berbentuk silindris, ujung tumpul, pangkal menjantung. Panjang buah 27 – 33 cm, diameter 6,9 – 12 cm, bobot 2 – 3 kg. Buah berwarna merah kecoklatan, tertutup daun pelindung meruncing, dengan duri sepanjang 2/3 dari tulang utama. Dalam Bahasa Lani disebut Mbagarum, Ugwi, Perry dan sebagainya.
4. Kultivar kuning, memiliki buah berbentuk silindris, ujung tumpul dengan pangkal menjantung. Panjang buah 35 – 42 cm, diameter 11 – 12 cm, bobot buah 2 – 3 kg. Dalam Bahasa Lani tidak disebut Tawy, tetapi disebut Mbarugum. Dia bukan-lah buah merah, tetapi buah kuning, atau buah emas ialah nama yang paling tepat.
Kami sebagai orang pemiliki Tawy dan Wanggene menyebut buah ini dengan nama “Buah Pandan Merah” dan “Buah Pandan Kuning”, dan BUKAN BUAH MERAH. Dengan memberi nama kepada Tawy dan Wanggene sebagai “Buah Merah”, maka secara konseptual dengan jelas telah mengaburkan nama Buah Kuning. Malahan kebanyakan menyebutnya “Buah Merah Kuning”, sebuah sebutan yang jelas-jelas menunukkan kesalahan fatal dalam konsep berpikir dan konsep warna.
Daun pelindung buah melancip. Tulang utama berduri sepanjang 1/3 bagian dari pangkalnya. Buah muda berwarna hijau dan bila matang berwarna kuning.

Di dalam buah tersusun ribuan biji yang berbaris rapi membentuk kulit biji, dari luar kelihatan seperti biji-biji buah nangka.

Panjang biji 9 – 13 mm. Bagian atas biji meruncing, pangkal biji menempel pada bagian jantung, sedangkan ujungnya membentuk totol-totol di bagian kulit buah. Biji berwarna putih, tetapi karena minyak Tawy, tetapi dalam kondisi masih terkena minyak ia berwarna kecoklatan dibungkus daging tipis berupa lemak. Warna daging kuning, coklat atau merah bata, tergantung jenisnya.

Syarat Tumbuh
Tawy termasuk tanaman yang mudah tumbuh di mana saja, bahkan di tanah yang kurang subur tanaman ini dapat tumbuh. Tanaman ini dijumpai tumbuh liar pada berbagai kondisi tanah di pulau New Guinea dan bagian utara Maluku, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi dengan ketinggian 2.300 m di atas permukaan laut.

Tanaman ini dapat tumbuh pada daerah yang memiliki kisaran suhu antara 23 – 33°C dan kelembaban udara antara 73 – 98%. Intensitas cahaya yang dibutuhkan adalah sekitar 1.000 – 3.000 lux. Tawy menyukai lingkungan yang terlindung dan cukup rindang.

Tanaman Tawy dapat tumbuh baik pada kondisi tanah lembab. Jenis tanah yang disukai adalah tanah yang gembur, subur, dan kaya akan humus. Tekstur tanah yang dikehendaki adalah liat lempung, tanah hitam tetapi gembur atau tanah berpasir. pH tanah yang dibutuhkan sekitar 5,4 – 6,2 dengan nilai KTK (Kapasitas Tukar Kation) rendah.

Budidaya Tanaman
Penyiapan Lahan
Lahan untuk budidaya Tawy dicangkul dengan kedalaman 20 cm, kemudian dibuat petak-petak dengan ukuran 10 – 12 m, di antara petak-petak tersebut dibuat parit selebar 0,5 – 1 m agar drainase areal penanaman lebih baik karena tanaman ini tidak menghendaki tempat yang terlalu basah dan terendam air tetapi tanah harus dalam kondisi lembab.

Lokasi penanaman sebaiknya berada dekat dengan sumber air agar secara periodik air dapat dialirkan ke parit-parit dalam lokasi penanaman untuk menjaga kelembaban tanah. Pada areal budidaya buah merah sebaiknya ditanam pohon pelindung seperti lamtoro.

Penyiapan Bibit
Di pedalaman Papua biji Tawy jarang menumbuhkan benih, tetapi di pesisir Papua biji Tawy ialah benih yang tumbuh sama seperti jagung. Maka budidaya di pegunungan sering dilakukan dengan mengambil setek dari tunas yang baru tumbuh di induk Tawy yang ada, sementara di pesisir dapat dilakukan dengan cara mencangkok, atapun dengan menaburkan biji-biji Tawy ke media untuk membiarkan benih Tawy bertumbuh.
Bahan tanaman untuk perbanyakan buah merah dapat berupa setek, anakan dan biji. Setek berupa pucuk tanaman yang tumbuh di bawah tanaman induk yang dipilih yang kondisi batangnya tua, berwarna abu-abu, panjang setek 40 – 50 cm dengan diameter 2 – 3 cm. Antara batas pelepah daun sampai pangkal batang bidang pangkasan minimal 15 cm. Setek atau biji ditanam pada bedengan semai yang telah disiapkan dengan jarak tanam 60 cm x 60 cm. Media tanam adalah campuran antara tanah topsoil dengan pupuk kandang atau kompos dengan perbandingan 1 : 1, media semai harus lembab. Lokasi persemaian terlindung dari sinar matahari langsung, sebaiknya berada di bawah pohon pelindung. Setelah ditanam bedeng semai ditutup dengan shadingnet 60 – 70%. Media semai disiram dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari.

Setelah 1 – 2 minggu daun mulai muncul dan perakaran mulai terbentuk. Setelah 2 – 3 minggu dan berdaun 4 – 5 helai, bibit dapat dipindahkan ke dalam polibeg. Bibit dapat ditanam di lahan setelah berumur 1 – 2 bulan.

Bahan tanam lain adalah anakan yaitu tunas yang keluar dari bagian batang dan perakaran tanaman. Anakan dipilih yang berukuran 15 – 20 cm. Setelah dipisah dari induk, anakan ditanam di bedengan yang telah disiapkan dengan jarak tanam 50 cm x 50 cm atau 60 cm x 60 cm. Media pada persemaian harus dijaga kelembabannya, disiram setiap pagi dan sore hari dan diberi shadingnet. Bibit dari anakan dapat dipindahkan ke lahan setelah mencapai tinggi 40 – 50 cm yaitu pada umur 3 – 4 bulan.

Tanaman juga dapat diperbanyak dengan biji. Kelemahan perbanyakan dengan cara ini adalah kualitas bibit beragam, lama berbuah, biji lama berkecambah dan daya kecambah rendah karena kerasnya kulit biji. Sebelum disemai, biji direndam dalam air selama 1 hari, lalu ditiriskan dan dibungkus kain basah selama 1 malam untuk memecah dormansi biji. Kemudian biji disemai pada bedengan dengan media tanah dan pasir (1 : 1) atau tanah dan kompos (1 : 3). Benih disebar di atas media semai, lalu ditutup pasir setebal 2 – 3 cm, lalu ditutup lagi dengan jerami atau serbuk gergaji.

Media semai disiram sekali sehari. Setelah 2 – 3 bulan benih akan berkecambah. Kebanyakan orang Papua menanam buah merah pada musim hujan sehingga secara alamiah disirami dengan hujan.

Setelah bibit berukuran 5 – 10 cm sebaiknya dipindah ke polibag yang telah diisi media berupa campuran topsoil dengan pupuk kandang atau kompos dengan perbandingan 1 : 1. Tanaman di pembibitan diberi shadingnet 50 – 60% dan penyiraman dilakukan setiap hari. Bibit dapat dipindahkan ke lapangan setelah mencapai tinggi 25 – 40 cm dengan diameter batang 2 cm.
Tanaman yang berasal dari biji akan berbuah setelah berumur 5 tahun, sedangkan tanaman yang berasal dari tunas akan berbuah kurang dari 3 tahun.

Penanaman
Ukuran dan jarang tanam secara tradisional tidak pernah diajarkan. Tetapi setelah dipelajari dan dikembangkan secara modern, maka terdapat ukuran dan jarak tanam tertentu. Bibit ditanam dengan jarak tanam 6 m x 6 m atau 8 m x 8 m, maka pada setiap petak penanaman terdapat dua baris tanaman, di antara barisan tanaman tersebut ditanam pohon pelindung. Lubang tanam dibuat dengan ukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm. Tanah bekas galian dicampur dengan pupuk kandang atau kompos sebanyak 20 – 30 kg/lubang tanam. Bibit ditanam hingga batas leher akar.

Pemeliharaan
Selama masa pertumbuhan, tanaman ini tidak perlu dipupuk dengan pupuk kimia, cukup diberi pupuk kandang 2 – 3 kali setahun dan diberi serasah dan sisa tanaman dan dedaunan di sekitar tanaman. Sementara secara tradisional Tawy tidak pernah diberi pupuk apapun. Ia bertumbuh sendiri. Kadangkala Tawy yang ditanam dipinggir dapur atau rumah akan mendapatkan pupuk organic dari sisah makanan atau sisah dapur.
Pada awal pertumbuhan daun-daun tua didpangkas untuk mempercepat pertumbuhan tanaman. Pemangkasan hanya dilakukan sampai tinggi tanaman 1 – 2 m, setelah itu, tanaman dibiarkan tumbuh secara alami. Pohon pelindung perlu dikontrol pertumbuhannya, bila terlalu rimbun harus dipangkas sehingga tidak mengganggu pertumbuhan tanaman utama.

Dengan pemeliharaan yang baik, tanaman akan bercabang setelah berumur 2 tahun. Biasanya 6 bulan setelah muncul percabangan tanaman mulai berbuah.

Panen dan Pascapanen
Pada awal pembentukkannya buah akan tumbuh tegak di setiap percabangan dan warna buah agak merah gelap, bercampur hijau.

Seiring perkembangannya, buah akan merunduk perlahan-lahan hingga menggantung di bawah percabangan dan siap dipanen, warnanya akan memerah, tempat yang tadinya hijau menjadi merah terang, dan bagian yang terkena panas matahari langsung akan berwarna merah gelap (maroon). Buah siap dipanen bila daun-daun yang membungkus buah mulai membuka, dan mengering. Panen dilakukan dengan galah bambu yang bagian ujungnya dibelah. Caranya, buah dijepit di ujunbg galah, diputar lalu ditarik. Penarikan dilakukan ke arah batang pohon.
Setelah panen, buah harus segera diolah karena hanya dalam waktu 3 – 4 hari buah sudah busuk dan berjamur. Panen dapat berlangsung 2 – 3 kali setahun untuk daearh pedalaman/ pegunungan New Guinea, tetapi di persisir pantai Tawy berbuah sepanjang tahun. Produksi optimal tercapai pada umur 10 – 15 tahun dengan jumlah buah 4 – 5 buah per pohon.

Pengolahan Tawy
Cara pembuatan sari buah merah adalah sebagai berikut :
1. Pilih buah yang benar-benar matang yaitu kulit buah berwarna merah menyala dan jarak antar tonjolan cukup jarang.
2. Buah dibelah, lalu dikeluarkan empelurnya, selanjutnya dipotong-potong, lalu dicuci dengan air hingga bersih.
3. Daging buah dikukus dengan api sedang sekitar 1 – 1,5 jam. Setelah matang, daging buah lunak, angkat dan didinginkan.
4. Tambahkan sedikit air, lalu diperas hingga menjadi seperti pasta. Saring pasta untuk memisahkan bijinya.
5. Pasta dimasak kembali dalam wajan selama 4 – 5 jam. Setelah mulai mendidih, pasta tetap dibiarkan di atas api selama 10 menit hingga muncul minyak berwarna kehitaman di atas permukaan pasta.
6. Angkat dan diamkan selama 1 hari. Minyak yang terbentuk diambil perlahanlahan dengan menggunakan sendok, pindahkan minyak ke wadah transparan seperti gelas atau mangkuk, lalu diamkan selama 2 jam hingga minyak dan air benar-benar terpisah.
7. Kemudian pisahkan minyak ke wadah lain dengan menggunakan sendok.
Diamkan lagi selama 2 jam. Jika sudah tidak ada air yang tercampur, berarti proses pengolahan sudah berakhir. Dari satu buah akan diperoleh sari buah merah sebanyak 150 – 200 ml.

Kandungan Kimia
Kandungan kimia buah merah adalah karotenoid (12.000 ppm), tokoferol (11.000 ppm), betakaroten (700 ppm), alfa-tokoferol (500 ppm), asam oleat 58%, asam linoleat (8,8%), asam linolenat (7,8%), dekanoat (2,0%), kalsium, fosfor, besi, vitamin B1, vitamin C dan nialin.

Efek Farmakologis dan Hasil Penelitian
Efek farmakologis buah merah antivirus, antibiotik, antioksidan, penurun kadar kolesterol.
Beberapa penelitian yang menguji efek farmakologis buah merah antara lain:
• Ekstrak buah merah mempercepat penyembuhan penyembuhan luka yang telah diberiCandida albicans, Staphylucoccus aureus, dan Microsporum gypseum pada kelinci. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak buah meradh amat berpotensi sebagai antiiritasi/infeksi (Prof. Dr. Elin Yulinah, 2005, JF FMIPA ITB).
• Hasil uji toksitas menunjukkan LD50 mencit jantan 2,687 g/kg bb. dan mencit betina 6,714 g/kg bb. Hal ini menunjukkan dosis buah merah yang banyak dianjurkan cukup aman (Dr. Yahdiana Harahap dan Dra. Syafrida Siregar Apt, 2005, JF UI).

Khasiat dan Cara Pemakaian

1. Kanker hati dan tumor otak
Bahan : Sari buah merah
Pemakaian :
Sari buah merah diminum dua kali sehari masing-masing 1 sendok makan.

2. Tumor payudara
Bahan : Sari buah merah dan minyak ikan hiu
Pemakaian :
Sari buah merah dan minyak ikan hiu diminum 3 kali sehari masing-masing 1 sendok makan.

3. HIV/AIDS
Bahan : Sari buah merah
Pemakaian :
Sari buah merah diminum 3 kali sehari masing-masing 1 sendok makan.

4. Stroke
Bahan : Sari buah merah
Pemakaian :
Sari buah merah diminum satu kali sehari dengan dosis 1 sendok teh (Budi dan Paimin,2004).

Sumber: diperta.jabarprov.go.id (Seksi Perlintan Hortikultura Bidang Hortikultura Diperta Jabar)
Penulis: Seksi Perlintan Hort