Denny Yomaki Pioneer Khasiat Tawy (Buah Merah), I Made Budi Penerusnya

Tidak banyak orang tahu bahwa Denny Yomaki, seorang mahasiswa di Universitas Cenderawasih, Jurusan Kimia ialah pioneer dalam penulisan ilmiah tentang Khasiat Tawy. Pada akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an ada seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Cenderawasih waktu itu bertemu dengan saya sebagai teman seangkatan,walaupun saya berkuliah di Program Studi yang berbeda, kami ada di Fakultas yang sama, begitu kata saksi mata yang dalam artikel ini tidak mau disebutkan namanya.

Masih menurut penutur cerita ini, pada waktu itu Denny Yomaki membagi-bagikan informasi kepada rekan seangkatannya tentang temuannya bahwa Tawy (buah merah) ternyata mengandung banyak sekali unsur di dalamnya yang berpotensi membantu manusia menyehatkan tubuh dan bahkan sangat mungkin menyembuhkan penyakit.

Kami yang tidak paham tentang kimia haya diberitahu bahwa Tawy punya khasiat begitu banyak. Mata rabun bisa pulih kebali, kecanduan rokok bisa dihentikan, sakit maag bisa disembuhkan, lemah syahwat juga bisa disembuhkan. Disebutkan sejumlah penyakit yang sewaktu itu namanya saja saya tidak kenal juga disebutkan.

Denny Yomaki juga menyebutkan bahwa penelitian yang dilakukannya itu pertama-tama ditolak oleh Dosen Pembimbingnya dengan alasan tidak relevan, tidak ada tulisan sebelumnya tentang Tawy.

Pandangan umum waktu itu, termasuk semua yang mendengarnya bahwa Tawy ialah makanan orang kampung, yang bikin kotor. Bagi orang yang menyukainyapun tidak lagi mengkonsumsi Tawy sejak mereka bersekolah di sekolah modern atau setelah menjadi pegawai negeri karena akibat makan Tawy semua benda, pakaian, mulut, tangan, pintu rumah, lantai, belanga, piring, semua akan menjadi merah dan akan sulit dibersihkan.

Masih menurut sumber cerita ini

Saya masih ingat waktu itu, Denny Yomaki punya semangat menggebu-gebu bahwa Tawy memiliki khasiat yang luarbiasa, dan dia telah membuktikannya dalam laboratorium kimia di Universitas Cenderawasih. Tetapi saya juga masih ingat dengan segar betapa para pendengar, termasuk saya sendiri yang dapat dikatakan “punya nenek moyang Tawy” tidak begitu bersemangat karena menganggap Tawy merupakan makanan yang mengotori banyak hal kalau dimakan di kota.

Pada waktu itu kami tidak berpikir untuk mengolahnya seperti yang dilakukan saat ini. Waktu itu kami masih berpatokan kepada pemikiran cara mengolah seperti yang ada di kampung, sehingga sulit kita bayangkan bahwa Minyak Tawy ada di dalam botol dan bisa dijual. Bahkan pemikiran memisahkan minyak Tawy dari Santan Tawy juga belum ada waktu itu. Yang kita tahu waktu itu Tawy berhkasiat menyehatkan dan menyembuhkan.

Menurut sang pencerita ini, sudah jelas dan pasti Drs. I Made Budi, yang kebetulan mengajar di tempat yang sama, di fakultas dan jurusan yang sama, membaca tulisan mahasiswa puluhan tahun sebelumnya, atau pernah mendengarnya. Menurut dia,

Kalau Pak Made bilang saya tertarik dengan kondisi tubuh orang gunung Papua yang begitu kuat dan prima, padahal makan makanan seadanya, lalu tertarik dengan buah merah sebagai salah satu makanan yang dikonsumsi oleh orang gunung, untuk mengetahui apa yang ada di adlamnya, maka secara logika ilmiah tidak jelas hubungan antara memilih buah merah dan orang gunung yang prima, apalagi logika nurani saya tidak terima. Logika ilmiah bisa dimanupulasi, tetapi logika nurani tidak akan pernah tertipu. Kita manusia, kita tidak hanya punya otak, tetapi nurani. Dan nurani selalu lebih benar daripada otak. Otak penipu, otak bisa manipulasi, otak bisa berkelak, tetapi nurani tidak.

Karena nurani saya tidak menerima, maka secara logika biarkan saya berspekulasi, bahwa temuan Denny Yomaki ini entah itu secara tertulis atau secara lisan dari mulut-ke-mulut pernah didengar oleh Drs. I Made Budi, yang kemudian membandingkan kondisi fisik orang gunung Papua, lalu memperkuat tekad untuk menelitinya.

katanya.

Masih menurutnya lagi, “Saya lebih suka menyatakan bahwa Denny Yomaki-lah penemunya, dan I Made Budi penerusnya yang mempopulerkan temuan Denny Yomaki!”

Petani Buah Merah Bisa Meraup 60 Juta Rupiah Per Hektar

Kini penghasilan para petani buah merah di Provinsi Papua dapat mencapai 60 juta rupiah per tahun per hektar. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Papua Samuel Siriwa.

“Tahun ini luas tanam buah merah mencapai 265 hektare (ha) dari sebelumnya hanya 40 hektare. Ke depan diharap terus meningkat karena petani diuntungkan,” katanya di Jayapura dikutip dari situs berita okezone.

Perekonomian para petani buah merah di Papua mulai terangkat seiiring mulai meningkatnya kembali permintaan buah merah dari berbagai daerah di tanah air.

buah merah

Respons masyarakat yang begitu tinggi terhadap program penanaman buah merah, menurutnya, tidak lepas dari kebijakan Gubernur Papua Lukas Enembe yang menambah alokasi anggaran untuk bidang perekonomian rakyat dari sebelumnya 5 persen menjadi 20 persen.

“Dengan kebijakan itu SKPD yang bergerak di bidang ekonomi secara otomatis plafon anggarannya naik dan program yang dibuat mengarah kepada penggerakan perekonomian di akar rumput, salah satunya adalah pencanangan penanaman buah merah,” ucapnya.

Pada 2014, Pemerintah Provinsi Papua mengembangkan penanaman buah merah seluas 40 hektare (ha) ditambah dengan penyediaan bibit, termasuk bantuan mesin pengolahan buah merah menjadi minyak, di lima kabupaten, yakni Jayapura, Yahukimo, Tolikara, Kelila Mamberamo Tengah, dan Puncak Jaya. Khusus tahun 2015, dikembangkan penanaman buah merah pada 225 hektare lahan di Kabupaten Yalimo, Pegunungan Bintang, Nduga, Keerom, dan Kota Jayapura.

Sandhy Buah Merah @ 04.41, Sumber
Tagged @ berita buah merah

Budidaya Buah Merah dan Kopi Disosialisasikan di Deiyai

Diposkan oleh : Ones Madai on July 18, 2014 at 12:53:24 WP [Editor : ]

Deiyai, 18/7 (Jubi) – Kantor Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Deiyai mengadakan sosialisasi tentang pentingnya perlindungan dan konservasi kerusakan lingkungan hidup dengan wujudkan partisipasi pengendalian dampak perubahan iklim, lebih khususnya budidaya buah merah dan kopi.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Deiyai, Moses Pekei mengatakan, salah satu dalam sosialisi ini yang lebih diutamakan, yakni bagaimana masyarakat dapat budidaya bibit kopi dan buah merah yang ada di wilayah pemerintah Kabupaten Deiyai.
“Penanam bibit buah merah dan bibit kopi, agar masyarakat dapat kembangkan berdasarkan potensi unggul di kampung masing-masing,” ungkap Moses kepada tabloidjubi.com di Balai Sosial Katolik (Soskat), Waghete II, Distrik Tigi, Kabupaten Deiyai, Papua, Kamis (17/7).

Menurut Moses, berdasarkan hasil survei yang dilakukan tim dari Badan Lingkungan Hidup, telah mendata sedikitnya pengusaha buah merah 237 orang dan pengusaha kopi 178 orang. “Ini jumlah yang sangat luar biasa. Semoga tahun 2015 terjadi peningkatan dalam budidaya bibit kopi maupun buah merah,” ungkapnya.
Sebagai kampung percontohan budidaya buah merah dan kopi, Moses mengatakan, pihaknya mendata lebih fokus ke distrik yang aksesnya mudah dijangkau dari Kabupaten Deiyai, seperti Distrik Tigi, Distrik Tigi Timur dan Distrik Tigi Barat. “Kalau dua distrik lainnya seperti Distrik Bouwobado dan Distrik Kapiraya, membutuhkan transportasi udara. Jadi, membutuhkan jumlah dana yang besar,” katanya.

Dalam tahun anggaran 2015, kata Moses, dirinya berkomitmen akan mesurvey ke Distrik Bouwobado dan Distrik Kapiraya. “Tahun ini jumlah dananya sangat minim dan dari dinas terkait, kita utamakan distrik percontohan budidaya buah merah dan kopi. Pendataan ini akan dilakukan secara serentak di tahun 2015,” paparnya.

Tujuan dari pada sosialisasi budidaya buah merah dan kopi ini, kata Moses, untuk mendorong masyarakat meningkatkan ekonomi keluarga, dalam hal ini upaya untuk menghasilkan buah merah dan kopi. Sebab di daerah ini yang bisa mendatangkan uang yang jumlah besar, ialah sari buah merah dan kopi. “Sekaligus merealisasi peraturan pemerintah pusat tentang normalisasi kampung dimana disebut proklim,” katanya.

Salah satu warga yang hadir dalam sosialisi ini, Marinus Pakage menanyakan, sekalipun masyarakat menanam buah merah maupun kopi tetapi tentunya membutuhkan peralatan penyaring dan penggilingan kopi. “Bagaimana dinas terkait menyikapi hal ini?” kata bertanya.

Lalu pertanyaan ini dijawab Moses. Menurutnya, alat-alat yang membantu masyarkat untuk meningkatkan produksi warga jelas membutuhkan banyak peralatan. “Untuk pengadaan peralatan adalah tupoksinya instansi lain. Tapi, pihaknya akan koordinasi ke Bupati Deiyai dan dinas terkait agar merealisasi peralatan itu,” katanya..
Guna mendukung budidaya buah merah dan kopi, kata Moses, dirinya tetap memberikan sosialisasi, pendataan dan memberikan motivasi kepada seluruh pengusaha agar pemahaman lebih meningkat dalam budidaya buah merah dan kopi. “Saya yakin melalui motivasi dan pemahaman suatu saat masyakat Deiyai akan unggul dalam kedua bidang ini,” tandasnya. (Jubi/Ones Madai)

Ones Madai, JUBI

Buah Merah Buah Surga

Buah Merah di Pasar
Buah Merah di Pasar

TEMPO.CO, Jayapura – Gubernur Papua Lukas Enembe mengatakan Papua mendeklarasikan buah merah sebagai buah surga. Dasarnya, makanan utama burung khas tanah Papua, cenderawasih, adalah buah merah. Itu sebabnya bulunya cantik dan indah. “Jadi jika burung cenderawasih dikenal sebagai burung surga, maka buah merah yang menjadi makanannya bisa disebut buah surga,” katanya, Senin, 14 April 2014.

Dia mengatakan buah merah akan menjadi salah satu produk unggulan Papua. “Mungkin tahun depan akan kami pakai pola perkebunan inti rakyat (PIR), sehingga masyarakat kami yang tak memiliki pekerjaan diarahkan menanam buah merah di seluruh wilayah kabupaten atau kota di Papua,” ucapnya.

Pemerintah Papua juga sepakat menjadikan jus buah merah sebagai minuman resmi PON 2020. “Saat Papua jadi tuan rumah,” katanya. “Ternyata buah merah ini luar biasa dan bisa menjadi produk unggulan kami di Papua, selain tanaman kopi dan kakao,” ujar Lukas.

Buah merah adalah buah asli dari wilayah Papua yang kebanyakan tumbuh di wilayah pegunungan tengah provinsi ini, seperti di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya. Biasanya, masyarakat Wamena menyebut buah ini kuansu. Namun nama ilmiahnya adalah Pandanus conoideus.

Tanaman buah merah ini termasuk keluarga pandan-pandanan. Pohonnya menyerupai pandan, tapi tingginya dapat mencapai 16 meter dengan batang bebas cabang setinggi 5-8 meter yang diperkokoh akar-akar tunjang pada bagian bawah batang.

Kultivar buah ini berbentuk lonjong dengan kuncup tertutup daun buah. Adapun panjang buah merah mencapai 55 sentimeter dengan diameter 10-15 sentimeter. Sedangkan bobotnya dua-tiga kilogram. Saat matang, buah ini berwarna merah marun terang. Namun ada pula jenis tanaman ini yang buahnya berwarna cokelat dan cokelat kekuningan.

Bagi warga setempat, buah merah disajikan sebagai makanan dalam pesta adat bakar batu. Namun banyak pula warga yang memanfaatkannya sebagai obat. Buah merah sudah dikonsumsi sejak dulu secara turun-temurun sebagai suatu tradisi. Sebab, buah ini berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti penyakit mata, cacingan, dan kulit serta meningkatkan stamina.

Sumber:

  1. http://www.tempo.co/read/news/2014/04/14/058570621/Buah-Merah-Buah-Surga
  2. Yahoo! Id News

Kampung IPDN Papua Budidaya Buah Merah

Penanaman Bibit Buah Mera
Penanaman Bibit Buah Merah Dikawasan Kampus IPDN Papua. (Jubi-Alex)

Penanaman Bibit Buah Merah Dikawasan Kampus IPDN Papua. (Jubi-Alex)

Jayapura, 5/6 (Jubi) – Sadar akan pentingnya kesehatan dan lingkungan hidup, Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Papua, melakukan penanaman 1600 pohon buah merah di lingkungan sekitar kampus. Penanaman dilakukan bertepatan dengan hari Lingkungan Hidup yang jatuh pada hari ini.

Pohon buah merah dinilai sangat cocok untuk ditanam di lingkungan Kampus IPDN, karena banyak terdapat areal terbuka dan aliran air berupa rawa dan danau buatan.
“Awalnya kami ingin menanam kelapa sawit, namun rencana itu tak jadi karena tidak cocok untuk di Papua. Untuk itu, kami putuskan untuk menanam buah merah saja. Saya senang dengan buah merah, karena buah merah memiliki banyak manfaat,” Kata Direktur Kampus IPDN Papua, Margaretha Rumbekwan kepada wartawan, di Jayapura, Papua, Kamis (5/6).

Setelah diteliti, buah merah memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Selain itu buah merah adalah buah surga bagi masyarakat Papua, sehingga ketika kita menanam kita memberi kontribusi yang baik pada semua orang.

Menanggapi itu, ujar Margaretha, kedepan Kampus IPDN akan menjadi ikon dimana saja, karena wujud nyatanya ada di Jatinangor tetapi kami ada di Tanah Papua dan melakukan budidaya buah merah.

“Banyak orang berbicara tentang buah merah tetapi tidak tahu bentuk dari buah tersebut. Ketika menanam, para Praja akan menceritakan pada orang lain bahkan kepada orang yang tidak pernah datang ke Papua dan mereka mau datang untuk melihat secara langsung proses pertumbuhan hingga buah yang dihasilkan dan itu ada di Kampus IPDN,” ujarnya.

Saat ditanya apakah jam belajar para Praja tidak akan terganggu dengan adanya keinginan untuk menumbuh kembangkan budidaya buah merah, kata Margaretha, pihaknya punya jam pelatihan, tetapi bukan hanya untuk budidaya buah merah. Pasalnya dilokasi lain, pihak kampus ada menyediakan lahan untuk bagaimana Praja bisa praktek bercocok tanam, berkebun bahkan memelihara ikan.

“Jadi akan ada pelatihan-pelatihan yang nantinya jika mereka terjun kelapangan, ketika melihat lahan itu kosong mereka sudah bisa memiliki pikiran untuk bagaimana melakukan sesuatu menjadi nyata, sehingga mereka betah di tempat dan tidak mengandalkan terima gaji, tetapi dengan apa yang Tuhan berikan mereka mengolah itu dan menghasilkan serta memberi contoh kepada masyarakat,” katanya.

Sebelumnya, Gubernur Papua Lukas Enembe mendeklarasikan gerakan wajib tanam buah merah sebagai komoditas unggulan, dan menginstruksikan kepada Bupati/Walikota untuk menanam buah merah.

“Gerakan menanam buah merah bagi seluruh masyarakat Papua ini, dalam rangka meningkatkan perekonomian daerah serta membuka lapangan kerja bagi masyarakat yang belum memiliki pekerjaan,” kata Lukas Enembe. (Jubi/Alex)

Hello world! Inilah BuahMerahWAMENA.com

Salam jumpa buat kita semua di blog ini.

Blog ini sengaja kami hadirkan dengan tujuan mempromosikan informasi yang edukatif tentang identitas sesungguhnya dari Minyak Tawy (bukan minyak buah merah), tentang hubungannya dengan Masyarakat Adat Papua, hubungannya dengan sains, dan hubungannya dengan kesehatan kita semua dan apa yang dapat kami lakukan untuk memastikan diri kita mendapatkan manfaat kesehatan daripadanya.

Ada banyak manfaat dari Minyak Tawy, baik untuk dikonsumsi untuk bagian dalam tubuh ataupun dapat digosok di luar tubuh (sebagai suplemen bagi organ dalam ataupun obat luar).

Kami sebagai pemilik hak ulayat dan hak intelektual dari Tawy sebagai sebuh makanan tradisional mendorong diri sebagai pemegang otoritas adat untuk hadir di sini menyampaikan berbagai informasi, membenarkan informasi yang keliru atau menyimpang dari fakta dan realitas dan menjadi penyedia Minya Tawy bagi kesembuhan dan kesehatan kita semua seantero muka Bumi.

Sebagaimana “tongkat Kinky Stick” dari China disebut sebagai tongkat Kesembuhan yang China telah sumbangkan untuk kemanusiaan dan kesehatan umat manusia, kini Minyak Tawy hadir sebagai “jamu kesehatan” yang disumangkan Papua untuk kemanusiaan dan sekalian umat manusia yang butuh sembuh dari berbagai sakit-penyakit yang berat maupun ringan. Silahkan baca di situs ini ataupun yang lainnya tentang apa yang dapat dilakukan Minya Tawy untuk kesehatan kita sekalian.

Sebuah berkat Sang Pencipta yang tersembunyi begitu lama, tetapi kini terkuat rahasia bagi kita. Tinggal kita harus mensyukuri dan memanfaatkannya bagi kesehatan kita sekalian, bukan dengan cara menginjak-injak nilai-nilai budaya dan hubungan orang Papua dengan “buah merah”-nya, tetapi dengan menghargai dan melindungi itu dan selanjutnya menerima manfaat dari kearifan lokal ini.

Dalam tulisan pertama ini, kami patut mengucapkan “Terimakasih sedalam-dalamnya dan setinggi-tingginya setulus-tulusnya kepada Bapak I Made Budi atas terobosan ilmiah yang telah dilakukannya sehingga memperkenalkan secara luas di kalangan masyarakat modern tentang ‘khasiat buah merah’ atau manfaatnya buat kesehatan manusia.

Sebelum Pak I Made Budi kami kenal ada beberapa mahasiswa pendahulu yang telah melakukan penelitian dan menulis skripsi tentang “Buah Merah” tetapi hasil penelitian mereka tidak pernah langsung dikaitkan dengan kesehatan manusia seperti terobosan yang dilakukan Pak Made.

Menyusul terobosan Pak Made, maka sudah banyak ilmuwan meneliti berbagai aspek dari “Minyak Tawy” (atau dalam bahasa Lani disebut Tawy Wanggene) itu sendiri. Berbagai kesimpulan memberikan dukungan penuh kepada kesimpulan awal yang diambil oleh I Made Budi, bahwa manfaat untuk kesehatan manusia begitu banyak.

Kami undang kita sekalian terus mengikuti artikel-artikel berikut menelusuri “Tawy” dari sisi Adat atau Sosio-Budaya, dari sisi Ilmu Pengetahuan (Sains) dalam kaitannya dengan kesehatan manusia dan dari sisi Bisnis.

 

Salam hormat kami.

 

BuahMerahWAMENA.com

 

Gubernur Deklarasikan Wajib Tanam Buah Merah Sebagai Komoditas Unggulan

Ditulis oleh Thoding/Papos

JAYAPURA [PAPOS] – Gubernur Papua Lukas Enembe,SIP.MH mendeklarasikan gerakan wajib tanam buah merah sebagai komoditas unggulan unggulan provinsi Papua, dan menginstruksikan kepada Bupati/Walikota menanam buah merah.

Gerakan menanam buah merah bagi seluruh masyarakat Papua dalam rangka meningkatkan perekonomian daerah serta membuka lapangan kerja bagi masyarakat yang belum memiliki pekerjaan.

Deklarasi oleh Gubernur Papua dilakukan disela-sela acara 1 tahun gerakan bangkit mandiri dan sejahtera bersama Gubernur dan Wakil Gubernur Lukas Enembe,SIP,MH – Klemen Tinal,SE,MM, bertempat di Sasana Krida Kantor Gubernur Dok II Jayapura, Senin (7/4) kemarin.

Menurut Lukas Enembe, deklarasi ini merupakan sebuah perenungan selama satu tahun. Karena dirinya menilai tak ada cara lain lagi untuk dapat memberdayakan orang Papua.

“Karena itu, saya mau mendeklarasikan gerakan tanam buah merah. sehingga orang Papua wajib untuk menanam buah merah. Kalau saya suruh orang Papua tanam kelapa sawit, dia tidak punya kemampuan karena dari nenek moyangnya tidak pernah menanam tanaman ini. Itulah sebabnya yang terbaik bagi orang Papua adalah harus tanam buah merah karena apa yang dihasilkan kelapa sawit sama dengan buah merah (nilai investasinya),”jelasnya.

Masih menurut Gubernur, pihaknya sudah mendengar dari semua pihak baik para ahli maupun masyarakat bahwa ternyata buah merah kedepan dapat menjadi primadona dan produk unggulan Papua selain tanaman kopi dan kakao.

Oleh karenanya, tahun depan Pemerintah Provinsi akan menggunakan pola PIR (Perkebunan Inti Rakyat) dengan mengajak masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan untuk diarahkan menanam buah merah di seluruh kabupaten kota.

“Jadi ini penting karena ternyata Burung Cenderawasih punya makanan utama adalah buah merah. Itu makanan pokoknya, sehingga kalau ada lagu yang menyatakan “surga kecil jatuh ke bumi” itu juga ada benarnya.

Dalam artian Burung Cenderawasih dan Buah Merah merupakan “suami istri”, sehingga Burung Cenderawasih disebut burung surga sementara buah merah disebut buah surga. Burung surga menjadi cantik dan elok karena makan makanan surga”. “Karena itu, saya deklarasikan bahwa buah merah merupakan buah surga.

Sebab kedepan kita juga sudah sepakat agar produk unggulan ini akan mencukupi kebutuhan vitamin A di Indonesia,” tuturnya. Pada kesempatan itu Gubernur menyerukan kepada seluruh Bupati di Papua untuk ikut menanam buah merah dimasing-masing wilayahnya. Sebab buah tersebut bakal dijadikan jus guna dipatenkan sebagai minuman PON 2020.[tho]

Terakhir diperbarui pada Selasa, 08 April 2014 01:08

Buah Merah Bakal jadi Minuman Resmi PON 2020

Rabu, 26 Maret 2014 05:51

http://bintangpapua.com/index.php/2012-12-03-03-14-02/2013-01-02-06-12-35/item/14449-buah-merah-bakal-jadi-minuman-resmi-pon-2020
Lukas Enembe, S.IP, MHJAYAPURA—Dengan semangat memperkenalkan produk asli Papua, terutama Buah Merah, Pemerintah Provinsi Papua telah berencana untuk menjadikan sari buah ini sebagai minuman resmi dalam ajang PON XX tahun 2020 yang diyakini akan diselenggarakan di Tanah Papua.

Hal ini sebagaimana dituturkan Gubernur Papua Lukas Enembe, S.Ip, MH melalui Kepala Biro Humas dan Protokoler Setda Papua FX. Mote, M.Si. “Minuman buah merah ini, akan kita jadikan minuman PON XX,” kata Gubernur kepada wartawan, Selasa (25/3) siang.

Dikatakannya, saat ini pihaknya sudah mendaftarakan Buah Merah di KONI Pusat untuk dijadikan merek minuman resmi PON di Papua tahun 2020 dan menurutnya, dalam 1 tahun ini ia akan bekerja keras dalam upaya untuk mengolah buah merah menjadi produk-produk yang memiliki nilai tambah.

Untuk pengelolaan dan budidaya buah merah ini, tutur Gubernur, akan lebih mudah bila dilakukan oleh masyarakat Papua jika dibandingkan dengan menanam kelapa sawit, yang sulit dan investasinya membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Terlebih masyarakat asli Papua sudah terbiasa untuk menanam dan mengolah buah Merah, sehingga ke depan ada hasil ekonomi yang bisa dinikmati.

Selain dijadikan minuman, Buah Merah dikatakan Gubernur telah dikembangkan menjadi produk lain seperti diolah menjadi sabun yang sejauh ini sangat diminati oleh seluruh Negara-negara di dunia, karena lebih harum dan cocok untuk melembutkan kulit atau sebagai sabun kecantikan.

“Jadi, permintaannya luar biasa dari berbagai Negara. Bahkan berton-ton, sehingga akan menjadi unggulan, karena Buah Merah yang memiliki kandungan vitamin A paling tinggi dari semua jenis buah, sehingga permintaan dunia kepada Indonesia terhadap vitamin A cukup tinggi, tetapi kebutuhan dalam negeri tidak mampu dicukupi,” ungkap Gubernur. (ds/art/lo2)

Buah Merah Papua: Laporan Kunjungan ke Pameran Flora Flori Nasional

LAPORAN BIOGEOGRAFI

Kunjungan ke Pameran Flora Flori Nasional Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Biogeografi

Dosen Pengampu: Gunardo RB M.Si

 

 

Disusun oleh:

Teguh Tri Susilo

12405241033

Pendidikan Geografi R 2012

 

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2013

 

“BUAH MERAH PAPUA”

 

A.      Penjelasan Singkat

Kunjungan study di Pameran Flori Flora tingkat Nasional dilaksanakan pada hari jum’at 4 oktober 2013. Pada pameran tersebut saya tertarik pada stand Papua yang dimana didalamnya terdapat berbagai macam buah dan sayur. Namun ada satu buah yang menarik perhatian saya, selain bentuknya yang unik, warnanya pun juga menarik, yaitu “buah merah”. Tanaman buah merah adalah sejenis buah tradisional dari Papua. Masyarakat suku Lani di Wamena Barat, Papua menyebutnya Tawy. Nama ilmiahnya Pandanus Conoideus Lam. Tanaman Buah Merah termasuk tanaman keluarga pandan-pandanan. Pohonnya sama dengan pandan, namun tinggi tanaman ada yang mencapai sampai 16 meter dengan tinggi batang bebas cabang sendiri setinggi 5-8 m. Batang buah merah diperkokoh oleh akar-akar tunjang pada batang sebelah bawah.

Tawy mengandung asam lemak terutama asam oleat sekitar 30%, sehingga bermanfaat untuk meningkatkan status gizi masyarakat. Buah merah juga mengandung antioksidan yang cukup tinggi, di antaranya karotenoid dan tokoferol. Antioksidan bermanfaat mencegah penyakit gondok, kebutaan, dan sebagai antikanker. Tawy juga mengandung mineral Fe, Ca, dan Zn. Tawy merupaan salah satu komoditas unggulan dari Tanah Papua. Secara tradisional Tawy dikenal masyarakat yang bermukim di daerah pantai mauun pegunungan ( Litbang, 2009), walaupun begitu pada saat ini sudah banyak dibudidayakan oleh masyarakat pedalaman Papua di wilayah pesisir dan pedalaman Tanah Papua, bahkan sampai ke luar tanah Papua juga sudah mulai dibudidayakan.

B.   Faktor Geografi Kaitannya Dengan Buah Merah

 1. Iklim

Iklim Papua sesuai bagi pertumbuhan tanaman buah merah. Data dari Stasiun Meteorologi dan Geofísika Kabupaten Jayawijaya menunjukkan, curah hujan rata-rata sebesar 173 mm/ bulan, tertinggi pada bulan Desember dan terendah bulan Juli. Jumlah hari hujan 25 hari/bulan dengan suhu udara rata-rata 20,20°C dan kelembapan 84,70%. Vegetasi yang sesuai untuk kondisi lintang tersebut adalah hutan hujan tropis yang disertai dengan suhu panas dan kelembaban tinggi. Curah hujan rata-rata yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman adalah sekitar 2000 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 100-150 hari.

 2.  Tanah

Tanaman buah merah tumbuh secara alami di dataran rendah hingga tinggi. Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai dan beradaftasi pada tanah tandus dan ber-pH masam (3,50-5,30) (Wamaer dan Malik, 2009). Berdasarkan hasil analisis tanah dari empat lokasi pengembangan buah merah di Papua (Hadad et al. 2005), umumnya tanaman buah merah dapat tumbuh pada tanah kurang subur, banyak mengandung pasir, dan bersifat agak masam (pH 4,30− 5,30) (Litbang, 2009). Salah satu sentra pengembangan tanaman buah merah di Papua adalah Kecamatan Kelila, yang terletak pada ketinggian 2.500 m dpl, dan tanahnya didominasi Podsolik dengan tekstur gelum (Litbang, 2009). Kedalaman tanah sampai batas batuan kasar atau lapisan akar tanaman mampu menembus tanah untuk menyerap unsur hara berkisar antara 100−150 cm (Sutarno, 2001).

 

C.      Budidaya Buah Merah

Tanaman buah merah umumnya dibudidayakan secara tradisional, tanpa pemupukan, dan penanganan pascapanen secara sederhana

1.      Syarat Tumbuh

Buah merah termasuk tanaman yang mudah tumbuh di mana saja, bahkan di pada tanah yang kurang subur tanaman ini dapat tumbuh. Tanaman ini dijumpai tumbuh liar pada berbagai kondisi tanah di daerah Papua dan bagian utara Maluku, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi dengan ketinggian 2.300 m di atas permukaan laut. Tanaman ini dapat tumbuh pada daerah yang memiliki kisaran suhu antara 23 – 33°C dan kelembaban udara antara 73 – 98%. Intensitas cahaya yang dibutuhkan adalah sekitar 1.000 – 3.000 lux. Buah merah menyukai lingkungan yang terlindung dan cukup rindang.

2.      Penyiapan Lahan

Lahan untuk budidaya buah merah dicangkul dengan kedalaman 20 cm, kemudian dibuat petak-petak dengan ukuran 10 – 12 m, di antara petak-petak tersebut dibuat parit selebar 0,5 – 1 m agar drainase areal penanaman lebih baik karena tanaman ini tidak menghendaki tempat yang terlalu basah dan terendam air tetapi tanah harus dalam kondisi lembab. Lokasi penanaman sebaiknya berada dekat dengan sumber air agar secara periodik air dapat dialirkan ke parit-parit dalam lokasi penanaman untuk menjaga kelembaban tanah. Pada areal budidaya buah merah sebaiknya ditanam pohon pelindung seperti lamtoro.

3.      Penyiapan Bibit

Bahan tanaman untuk perbanyakan buah merah dapat berupa setek, anakan dan biji. Setek berupa pucuk tanaman yang tumbuh di bawah tanaman induk yang dipilih yang kondisi batangnya tua, berwarna abu-abu, panjang setek 40 – 50 cm dengan diameter 2 – 3 cm. Antara batas pelepah daun sampai pangkal batang bidang pangkasan minimal 15 cm. Setek ditanam pada bedengan semai yang telah disiapkan dengan jarak tanam 60 cm x 60 cm. Tanaman juga dapat diperbanyak dengan biji. Kelemahan perbanyakan dengan cara ini adalah kualitas bibit beragam, lama berbuah, biji lama berkecambah dan daya kecambah rendah karena kerasnya kulit biji. Sebelum disemai, biji direndam dalam air selama 1 hari, lalu ditiriskan dan dibungkus kain basah selama 1 malam untuk memecah dormansi biji. Kemudian biji disemai pada bedengan dengan media tanah dan pasir (1 : 1) atau tanah dan kompos (1 : 3). Benih disebar di atas media semai, lalu ditutup pasir setebal 2 – 3 cm, lalu ditutup lagi dengan jerami atau serbuk gergaji.

4.      Penanaman

Bibit ditanam dengan jarak tanam 6 m x 6 m atau 8 m x 8 m, maka pada setiap petak penanaman terdapat dua baris tanaman, di antara barisan tanaman tersebut ditanam pohon pelindung. Lubang tanam dibuat dengan ukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm. Tanah bekas galian dicampur dengan pupuk kandang atau kompos sebanyak 20 – 30 kg/lubang tanam. Bibit ditanam hingga batas leher akar.

5.      Pemeliharaan

Selama masa pertumbuhan, tanaman ini tidak perlu dipupuk dengan pupuk kimia, cukup diberi pupuk kandang 2 – 3 kali setahun dan diberi serasah dan sisa tanaman dan dedaunan di sekitar tanaman. Pada awal pertumbuhan daun-daun tua didpangkas untuk mempercepat pertumbuhan tanaman. Pemangkasan hanya dilakukan sampai tinggi tanaman 1 – 2 m, setelah itu, tanaman dibiarkan tumbuh secara alami. Pohon pelindung perlu dikontrol pertumbuhannya, bila terlalu rimbun harus dipangkas sehingga tidak mengganggu pertumbuhan tanaman utama. Dengan pemeliharaan yang baik, tanaman akan bercabang setelah berumur 2 tahun. Biasanya 6 bulan setelah muncul percabangan tanaman mulai berbuah.

 

6.      Panen dan Pascapanen

Pada awal pembentukkannya buah akan tumbuh tegak di setiap percabangan.

Seiring perkembangannya, buah akan merunduk perlahan-lahan hingga menggantung di bawah percabangan dan siap dipanen. Buah siap dipanen bila daun-daun yang membungkus buah mulai membuka. Panen dilakukan dengan galah bambu yang bagian ujungnya dibelah. Caranya, buah dijepit di ujunbg galah, diputar lalu ditarik. Setelah panen, buah harus segera diolah karena hanya dalam waktu 3 – 4 hari buah sudah busuk dan berjamur. Panen dapat berlangsung 2 – 3 kali setahun. Produksi optimal tercapai pada umur 10 – 15 tahun dengan jumlah buah 4 – 5 buah per pohon.

 

D.    Manfaat Buah Merah

Jika dilihat dari kandungan tokoferol dan betakarotennya yang sangat banyak maka minyak sari buah merah  sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia juga karena mengandung berbagai macam vitamin dan mineral. Oleh karena sangat banyaknya kandungan buah merah hingga bisa disebut sebagai multivitamin yang berkhasiat atau dapat dijadikan pendamping obat resep dokter.

Beberapa macam jenis penyakit yang dapat disembuhkan menggunakan buah merah adalah : HIV/AIDS, kanker payudara, kista rahim, stroke, tumor, Hepatitis, jantung koroner, menormalkan peredaran darah, darah tinggi, Asam urat, Ambeien, Pegel linu, Ganguan mata, ganguan paru-paru, brookitis, asma/sesak nafas, osteoporosis, membantu system kerja otak, meningkatkan libido, stamina, maag/gangguan pencernaan akibat asam lambung. Buah merah juga sangat baik untuk kesehatan anak-anak, ibu hamil dan para  kaum manula.

1.      AIDS

Walaupun telah bertahun-tahun para ahli mencoba membuat obat yang dapat menyembuhkan AIDS tetap saja obatnya masih belum bisa ditemukan. Mungkin Anda sendiri merasa tidak percaya mengenai khasiat buah merah yang satu ini. Namun khasiat buah merah dalam menyembuhkan AIDS sudah terbukti. Dikabarkan bahwa kemampuan buah merah menyembuhkan AIDS adalah karena buah merah mengandung banyak tokoferol dan betakaroten yang sangat tinggi. Kedua kandungan ini berfungsi sebagai antioksidan dan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia. Tokoferol dan betakaroten ini akhirnya berkombinasi untuk memecah asam amino yang dibutuhkan oleh virus penyebab AIDS, HIV, sehingga virus tersebut tak dapat melangsungkan hidupnya.

2.      Kanker dan Tumor

Khasiat lain dari buah merah adalah mengobati kanker dan tumor. Kanker dan tumor tak diragukan lagi adalah salah satu penyebab kematian terbesar. Disebabkan oleh apa kanker dan tumor itu? Penyakit ini disebabkan oleh ketidakteraturan hormon dalam tubuh yang menyebabkan tumbuhnya daging di jaringan tubuh normal. Buah merah Papua dapat mengobati kanker karena kandungan tokoferolnya yang sangat tinggi, yaitu mencapai 11.000 ppm dan betakarotennya mencapai 7.000 ppm. Kedua senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta mencegah pembiakan sel-sel kanker di dalam tubuh.

3.       Stroke dan Darah Tinggi

Buah merah Papua mengandung tokoferol yang dapat mengencerkan darah dan memperlancar sirkulasi darah sehingga kandungan oksigen dalam darah menjadi normal.

4.      Asam Urat

Tokoferol dalam buah merah Papua dapat mengencerkan darah dan memperbaiki sistem kerja lever. Sistem kerja lever, setelah diperbaiki, memproduksi kadar asam urat yang normal.

5.      Diabetes Mellitus (Kencing Manis)

Kandungan tokoferol dalam buah merah Papua dapat memperbaiki kerja pankreas sehingga fungsi pankreas menjadi normal kembali.

6.      Osteoporosis

Buah merah Papua adalah herbal yang kaya akan kalsium sehingga dapat mencegah dan mengobati osteoporosis. Dalam 100 gram buah merah segar terkandung 54.000 miligram kalsium.

7.      Gangguan Mata

Kandungan betakaroten yang tinggi dalam buah merah Papua mampu mengatasi banyak jenis penyakit mata yang disebabkan kekurangan vitamin A. Betakaroten diserap oleh tubuh dan diolah menjadi vitamin A.

8.      Meningkatkan Kecerdasan

Kandungan omega 3 dan omega 6 dalam buah merah dapat merangsang daya kerja otak dan meningkatkan kecerdasan. Oleh karena itu buah merah cocok untuk dikonsumsi oleh anak-anak dan pelajar.

9.      Meningkatkan Gairah dan Kesuburan

Buah merah, menurut mereka yang mengkonsumsinya, dapat membantu meningkatkan gairah seksual kaum pria. Efek pengobatan bervariasi, ada yang bereaksi setelah 15 menit meminumnya, ada juga yang setelah satu atau dua jam meminumnya. Vitamin E dalam buah merah Papua dapat membantu meningkatkan produksi sperma. Selain itu, buah merah mengandung energi tinggi, yaitu 360 kalori. Selain khasiat-khasiat yang telah disebutkan di atas, buah merah Papua dikabarkan dapat juga mengobati penyakit lambung, wasir, gangguan pada paru-paru dan sebagainya.

 

Daftar Pustaka

  1. Stand Papua di Pameran Flora Flori Nasional
  2. co.id
  3. Manfaat Buah Merah. Diakses dari http://www.buahmerahpapua.web.id/p/khasiat-manfaat-buah-merah.html