Buah Merah Papua: Laporan Kunjungan ke Pameran Flora Flori Nasional

LAPORAN BIOGEOGRAFI

Kunjungan ke Pameran Flora Flori Nasional Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Biogeografi

Dosen Pengampu: Gunardo RB M.Si

 

 

Disusun oleh:

Teguh Tri Susilo

12405241033

Pendidikan Geografi R 2012

 

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2013

 

“BUAH MERAH PAPUA”

 

A.      Penjelasan Singkat

Kunjungan study di Pameran Flori Flora tingkat Nasional dilaksanakan pada hari jum’at 4 oktober 2013. Pada pameran tersebut saya tertarik pada stand Papua yang dimana didalamnya terdapat berbagai macam buah dan sayur. Namun ada satu buah yang menarik perhatian saya, selain bentuknya yang unik, warnanya pun juga menarik, yaitu “buah merah”. Tanaman buah merah adalah sejenis buah tradisional dari Papua. Masyarakat suku Lani di Wamena Barat, Papua menyebutnya Tawy. Nama ilmiahnya Pandanus Conoideus Lam. Tanaman Buah Merah termasuk tanaman keluarga pandan-pandanan. Pohonnya sama dengan pandan, namun tinggi tanaman ada yang mencapai sampai 16 meter dengan tinggi batang bebas cabang sendiri setinggi 5-8 m. Batang buah merah diperkokoh oleh akar-akar tunjang pada batang sebelah bawah.

Tawy mengandung asam lemak terutama asam oleat sekitar 30%, sehingga bermanfaat untuk meningkatkan status gizi masyarakat. Buah merah juga mengandung antioksidan yang cukup tinggi, di antaranya karotenoid dan tokoferol. Antioksidan bermanfaat mencegah penyakit gondok, kebutaan, dan sebagai antikanker. Tawy juga mengandung mineral Fe, Ca, dan Zn. Tawy merupaan salah satu komoditas unggulan dari Tanah Papua. Secara tradisional Tawy dikenal masyarakat yang bermukim di daerah pantai mauun pegunungan ( Litbang, 2009), walaupun begitu pada saat ini sudah banyak dibudidayakan oleh masyarakat pedalaman Papua di wilayah pesisir dan pedalaman Tanah Papua, bahkan sampai ke luar tanah Papua juga sudah mulai dibudidayakan.

B.   Faktor Geografi Kaitannya Dengan Buah Merah

 1. Iklim

Iklim Papua sesuai bagi pertumbuhan tanaman buah merah. Data dari Stasiun Meteorologi dan Geofísika Kabupaten Jayawijaya menunjukkan, curah hujan rata-rata sebesar 173 mm/ bulan, tertinggi pada bulan Desember dan terendah bulan Juli. Jumlah hari hujan 25 hari/bulan dengan suhu udara rata-rata 20,20°C dan kelembapan 84,70%. Vegetasi yang sesuai untuk kondisi lintang tersebut adalah hutan hujan tropis yang disertai dengan suhu panas dan kelembaban tinggi. Curah hujan rata-rata yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman adalah sekitar 2000 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 100-150 hari.

 2.  Tanah

Tanaman buah merah tumbuh secara alami di dataran rendah hingga tinggi. Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai dan beradaftasi pada tanah tandus dan ber-pH masam (3,50-5,30) (Wamaer dan Malik, 2009). Berdasarkan hasil analisis tanah dari empat lokasi pengembangan buah merah di Papua (Hadad et al. 2005), umumnya tanaman buah merah dapat tumbuh pada tanah kurang subur, banyak mengandung pasir, dan bersifat agak masam (pH 4,30− 5,30) (Litbang, 2009). Salah satu sentra pengembangan tanaman buah merah di Papua adalah Kecamatan Kelila, yang terletak pada ketinggian 2.500 m dpl, dan tanahnya didominasi Podsolik dengan tekstur gelum (Litbang, 2009). Kedalaman tanah sampai batas batuan kasar atau lapisan akar tanaman mampu menembus tanah untuk menyerap unsur hara berkisar antara 100−150 cm (Sutarno, 2001).

 

C.      Budidaya Buah Merah

Tanaman buah merah umumnya dibudidayakan secara tradisional, tanpa pemupukan, dan penanganan pascapanen secara sederhana

1.      Syarat Tumbuh

Buah merah termasuk tanaman yang mudah tumbuh di mana saja, bahkan di pada tanah yang kurang subur tanaman ini dapat tumbuh. Tanaman ini dijumpai tumbuh liar pada berbagai kondisi tanah di daerah Papua dan bagian utara Maluku, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi dengan ketinggian 2.300 m di atas permukaan laut. Tanaman ini dapat tumbuh pada daerah yang memiliki kisaran suhu antara 23 – 33°C dan kelembaban udara antara 73 – 98%. Intensitas cahaya yang dibutuhkan adalah sekitar 1.000 – 3.000 lux. Buah merah menyukai lingkungan yang terlindung dan cukup rindang.

2.      Penyiapan Lahan

Lahan untuk budidaya buah merah dicangkul dengan kedalaman 20 cm, kemudian dibuat petak-petak dengan ukuran 10 – 12 m, di antara petak-petak tersebut dibuat parit selebar 0,5 – 1 m agar drainase areal penanaman lebih baik karena tanaman ini tidak menghendaki tempat yang terlalu basah dan terendam air tetapi tanah harus dalam kondisi lembab. Lokasi penanaman sebaiknya berada dekat dengan sumber air agar secara periodik air dapat dialirkan ke parit-parit dalam lokasi penanaman untuk menjaga kelembaban tanah. Pada areal budidaya buah merah sebaiknya ditanam pohon pelindung seperti lamtoro.

3.      Penyiapan Bibit

Bahan tanaman untuk perbanyakan buah merah dapat berupa setek, anakan dan biji. Setek berupa pucuk tanaman yang tumbuh di bawah tanaman induk yang dipilih yang kondisi batangnya tua, berwarna abu-abu, panjang setek 40 – 50 cm dengan diameter 2 – 3 cm. Antara batas pelepah daun sampai pangkal batang bidang pangkasan minimal 15 cm. Setek ditanam pada bedengan semai yang telah disiapkan dengan jarak tanam 60 cm x 60 cm. Tanaman juga dapat diperbanyak dengan biji. Kelemahan perbanyakan dengan cara ini adalah kualitas bibit beragam, lama berbuah, biji lama berkecambah dan daya kecambah rendah karena kerasnya kulit biji. Sebelum disemai, biji direndam dalam air selama 1 hari, lalu ditiriskan dan dibungkus kain basah selama 1 malam untuk memecah dormansi biji. Kemudian biji disemai pada bedengan dengan media tanah dan pasir (1 : 1) atau tanah dan kompos (1 : 3). Benih disebar di atas media semai, lalu ditutup pasir setebal 2 – 3 cm, lalu ditutup lagi dengan jerami atau serbuk gergaji.

4.      Penanaman

Bibit ditanam dengan jarak tanam 6 m x 6 m atau 8 m x 8 m, maka pada setiap petak penanaman terdapat dua baris tanaman, di antara barisan tanaman tersebut ditanam pohon pelindung. Lubang tanam dibuat dengan ukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm. Tanah bekas galian dicampur dengan pupuk kandang atau kompos sebanyak 20 – 30 kg/lubang tanam. Bibit ditanam hingga batas leher akar.

5.      Pemeliharaan

Selama masa pertumbuhan, tanaman ini tidak perlu dipupuk dengan pupuk kimia, cukup diberi pupuk kandang 2 – 3 kali setahun dan diberi serasah dan sisa tanaman dan dedaunan di sekitar tanaman. Pada awal pertumbuhan daun-daun tua didpangkas untuk mempercepat pertumbuhan tanaman. Pemangkasan hanya dilakukan sampai tinggi tanaman 1 – 2 m, setelah itu, tanaman dibiarkan tumbuh secara alami. Pohon pelindung perlu dikontrol pertumbuhannya, bila terlalu rimbun harus dipangkas sehingga tidak mengganggu pertumbuhan tanaman utama. Dengan pemeliharaan yang baik, tanaman akan bercabang setelah berumur 2 tahun. Biasanya 6 bulan setelah muncul percabangan tanaman mulai berbuah.

 

6.      Panen dan Pascapanen

Pada awal pembentukkannya buah akan tumbuh tegak di setiap percabangan.

Seiring perkembangannya, buah akan merunduk perlahan-lahan hingga menggantung di bawah percabangan dan siap dipanen. Buah siap dipanen bila daun-daun yang membungkus buah mulai membuka. Panen dilakukan dengan galah bambu yang bagian ujungnya dibelah. Caranya, buah dijepit di ujunbg galah, diputar lalu ditarik. Setelah panen, buah harus segera diolah karena hanya dalam waktu 3 – 4 hari buah sudah busuk dan berjamur. Panen dapat berlangsung 2 – 3 kali setahun. Produksi optimal tercapai pada umur 10 – 15 tahun dengan jumlah buah 4 – 5 buah per pohon.

 

D.    Manfaat Buah Merah

Jika dilihat dari kandungan tokoferol dan betakarotennya yang sangat banyak maka minyak sari buah merah  sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia juga karena mengandung berbagai macam vitamin dan mineral. Oleh karena sangat banyaknya kandungan buah merah hingga bisa disebut sebagai multivitamin yang berkhasiat atau dapat dijadikan pendamping obat resep dokter.

Beberapa macam jenis penyakit yang dapat disembuhkan menggunakan buah merah adalah : HIV/AIDS, kanker payudara, kista rahim, stroke, tumor, Hepatitis, jantung koroner, menormalkan peredaran darah, darah tinggi, Asam urat, Ambeien, Pegel linu, Ganguan mata, ganguan paru-paru, brookitis, asma/sesak nafas, osteoporosis, membantu system kerja otak, meningkatkan libido, stamina, maag/gangguan pencernaan akibat asam lambung. Buah merah juga sangat baik untuk kesehatan anak-anak, ibu hamil dan para  kaum manula.

1.      AIDS

Walaupun telah bertahun-tahun para ahli mencoba membuat obat yang dapat menyembuhkan AIDS tetap saja obatnya masih belum bisa ditemukan. Mungkin Anda sendiri merasa tidak percaya mengenai khasiat buah merah yang satu ini. Namun khasiat buah merah dalam menyembuhkan AIDS sudah terbukti. Dikabarkan bahwa kemampuan buah merah menyembuhkan AIDS adalah karena buah merah mengandung banyak tokoferol dan betakaroten yang sangat tinggi. Kedua kandungan ini berfungsi sebagai antioksidan dan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia. Tokoferol dan betakaroten ini akhirnya berkombinasi untuk memecah asam amino yang dibutuhkan oleh virus penyebab AIDS, HIV, sehingga virus tersebut tak dapat melangsungkan hidupnya.

2.      Kanker dan Tumor

Khasiat lain dari buah merah adalah mengobati kanker dan tumor. Kanker dan tumor tak diragukan lagi adalah salah satu penyebab kematian terbesar. Disebabkan oleh apa kanker dan tumor itu? Penyakit ini disebabkan oleh ketidakteraturan hormon dalam tubuh yang menyebabkan tumbuhnya daging di jaringan tubuh normal. Buah merah Papua dapat mengobati kanker karena kandungan tokoferolnya yang sangat tinggi, yaitu mencapai 11.000 ppm dan betakarotennya mencapai 7.000 ppm. Kedua senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta mencegah pembiakan sel-sel kanker di dalam tubuh.

3.       Stroke dan Darah Tinggi

Buah merah Papua mengandung tokoferol yang dapat mengencerkan darah dan memperlancar sirkulasi darah sehingga kandungan oksigen dalam darah menjadi normal.

4.      Asam Urat

Tokoferol dalam buah merah Papua dapat mengencerkan darah dan memperbaiki sistem kerja lever. Sistem kerja lever, setelah diperbaiki, memproduksi kadar asam urat yang normal.

5.      Diabetes Mellitus (Kencing Manis)

Kandungan tokoferol dalam buah merah Papua dapat memperbaiki kerja pankreas sehingga fungsi pankreas menjadi normal kembali.

6.      Osteoporosis

Buah merah Papua adalah herbal yang kaya akan kalsium sehingga dapat mencegah dan mengobati osteoporosis. Dalam 100 gram buah merah segar terkandung 54.000 miligram kalsium.

7.      Gangguan Mata

Kandungan betakaroten yang tinggi dalam buah merah Papua mampu mengatasi banyak jenis penyakit mata yang disebabkan kekurangan vitamin A. Betakaroten diserap oleh tubuh dan diolah menjadi vitamin A.

8.      Meningkatkan Kecerdasan

Kandungan omega 3 dan omega 6 dalam buah merah dapat merangsang daya kerja otak dan meningkatkan kecerdasan. Oleh karena itu buah merah cocok untuk dikonsumsi oleh anak-anak dan pelajar.

9.      Meningkatkan Gairah dan Kesuburan

Buah merah, menurut mereka yang mengkonsumsinya, dapat membantu meningkatkan gairah seksual kaum pria. Efek pengobatan bervariasi, ada yang bereaksi setelah 15 menit meminumnya, ada juga yang setelah satu atau dua jam meminumnya. Vitamin E dalam buah merah Papua dapat membantu meningkatkan produksi sperma. Selain itu, buah merah mengandung energi tinggi, yaitu 360 kalori. Selain khasiat-khasiat yang telah disebutkan di atas, buah merah Papua dikabarkan dapat juga mengobati penyakit lambung, wasir, gangguan pada paru-paru dan sebagainya.

 

Daftar Pustaka

  1. Stand Papua di Pameran Flora Flori Nasional
  2. co.id
  3. Manfaat Buah Merah. Diakses dari http://www.buahmerahpapua.web.id/p/khasiat-manfaat-buah-merah.html

Faktor Tanah dalam Pengembangan Tawy

Sumber artikel: FAKTOR TANAH DALAM PENGEMBANGAN TAWY (TAWY / Pandanus conoideus Lamk.), diedit seperlunya dan disajikan oleh Buahmerahwamena.com

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tanaman Tawy (buah merah), dengan nama ilmiah Pandanus conoideus Lamk. merupakan salah satu tanaman asli di Tanah Papua, tumbuh menyebar mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai, dan beradaptasi dengan baik pada tanah tandus dengan pH masam (4,30−5,30). Tanaman umumnya dibudidayakan secara tradisional, tanpa pemupukan, dan penanganan pascapanen dilakukan secara sederhana untuk konsumsi sendiri.

Berdasarkan hasil penelitian tahun 2006 dibuktikan bahwa minyak yang dihasilkan dari Tawy digunakan sebagai penyedap masakan yang bernilai gizi tinggi karena mengandung beta-karoten, juga dimanfaatkan sebagai pewarna alami yang tidak mengandung logam berat dan mikroorganisme berbahaya. Masih menurut penelitian I Made Budi, dosen Universitas Cenderawasih ini, minyak Tawy juga berkhasiat mengobati beberapa penyakit, seperti kanker, HIV, malaria, kolesterol, dan diabetes. Semtnara itu, ampas dari pemerasan Tawy dapat digunakan sebagai pakan ungags, pakan babi, dan pakan ikan. Secara tradisional ampas biasanya digunakan sebagai pupuk untuk tanaman dan makanan babi.

Karena kegunaannya yang beragam, minyak Tawy diminati konsumen baik di dalam negeri maupun mancanegara dengan harga yang cukup tinggi. Peluang pengembangan Tawy cukup baik, karena selain harganya yang mahal, budi daya dan cara pengolahannya sederhana (Litbang, 2009).

Iklim Tanah Papua (mulai dari Sorong sampai Samarai) sesuai bagi pertumbuhan tanaman Tawy. Data dari Stasiun Meteorologi dan Geofísika Kabupaten Jayawijaya tahun 2004 menunjukkan, curah hujan rata-rata sebesar 173 mm/ bulan, tertinggi pada bulan Desember dan terendah bulan Juli. Jumlah hari hujan 25 hari/bulan dengan suhu udara rata-rata 20,20°C dan kelembapan 84,70% (Badan Pusat Statistik Provinsi Papua, 2005). Pada curah hujan tinggi inilah, biasanya dikenal di pegunungan tengah sebagai musim panen Tawy. Semakin tinggi curah hujan, maka semakin sering Tawy berbuah.

Kondisi iklim tersebut sangat mendukung bagi pertumbuhan tanaman Tawy. Tawy mengandung asam lemak terutama asam oleat sekitar 30%, sehingga bermanfaat untuk meningkatkan status gizi masyarakat. Tawy juga mengandung antioksidan yang cukup tinggi, di antaranya karotenoid dan tokoferol. Antioksidan bermanfaat mencegah penyakit gondok, kebutaan, dan sebagai antikanker. Tawy juga mengandung mineral Fe, Ca, dan Zn (Budi, 2003).

Tawy merupaan salah satu komoditas unggulan Papua yang begitu gencar dipromosikan oleh berbagai pihak, terutama gubernur Provinsi Papua, Lukas enembe. Secara tradisional Tawy dikenal masyarakat yang bermukim di daerah pantai maupun pegunungan( Litbang, 2009). Akan tetapi masyarakat di pesisir tidak memanfaatkannya seoptimal yang dimanfaatkan di pegunungan tengah. Di pegunungan tengah sudah terdapat Kepala Suku Tawy, di mana tanaman, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan Tawy semuanya dilakukan dibawah komando sang Kepala Suku Tawy.

Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui faktor tanah dalam pengembangan Tawy (Pandanus conoideus Lamk.).

Kegunaan Percobaan

– Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti pra praktikal tes di Laboratorium Budidaya Tanaman Hortikultura Universitas Sumatera Utara, Medan.

– Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

Botani Tanaman

Menurut wikipedia (2010), Tawy (Pandanus conoideus Lamk.) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

  • Kingdom : Plantae
  • Divisio : Spermatophyta
  • Subdivisio : Magnoliophyta
  • Kelas : Liliopsida
  • Ordo : Pandanales
  • Famili : Pandanaceae
  • Genus : Pandanus
  • Spesies : Pandanus conoideus Lamk.

 

Tawy memiliki akar tunjang 0,20−3,50 m, lingkar akar 6−20 cm, berwarna coklat dengan bercak putih, bentuk bulat, dan permukaan berduri. Jumlah akar dalam satu rumpun berkisar antara 11−97 (Lebang dkk., 2004).

Batang utama berkisar antara 20−40 cm, tinggi tanaman 2−3,50 m. Batang berwarna coklat dengan bercak putih, berbentuk bulat, berkas pembuluh tidak tampak jelas, keras, arah tumbuh vertikal atau tegak, jumlah percabangan 2−4, dan permukaan berduri. (Litbang, 2009).

Daun berukuran 96 cm x 9,30 cm sampai 323 cm x 15 cm. Ujung daun bertusuk (micronate), pangkal merompong (cut off), tepi daun dan bagian bawah tulang daun berduri. Komposisi daun tunggal dengan susunan daun berseling (alternate). Daun lentur, berwarna hijau tua, pola pertulangan daun sejajar, tanpa tangkai daun (sessile), dan tidak beraroma (Lebang dkk., 2004).

Bunga menyerupai bunga nangka dengan warna kemerahan. Muncul pada percabangan dengan merumpun ataupun tunggal. Buah menunjukan adanya pertumbuhan generatif dari tanaman tersebut (Limbong dan Uhi, 2005).

Buah berukuran panjang 68– 110 cm, diameter 10−15 cm, berbentuk silindris, ujung menumpul, dan pangkal menjantung. Saat masih muda, buah berwarna merah pucat, dan berubah menjadi merah bata saat tua (Lebang dkk., 2004).

 

Syarat Tumbuh

Iklim

Iklim Papua sesuai bagi pertumbuhan tanaman buah merah. Data dari Stasiun Meteorologi dan Geofísika Kabupaten Jayawijaya tahun 2004 menunjukkan, curah hujan rata-rata sebesar 173 mm/ bulan, tertinggi pada bulan Desember dan terendah bulan Juli. Jumlah hari hujan 25 hari/bulan dengan suhu udara rata-rata 20,20°C dan kelembapan 84,70% (BPPS Papua, 2005).

Vegetasi yang sesuai untuk kondisi lintang tersebut adalah hutan hujan tropis yang disertai dengan suhu panas dan kelembaban tinggi. Curah hujan rata-rata yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman adalah sekitar 2000 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 100-150 hari (Litbang, 2009).

Tanah

Tanaman Tawy tumbuh secara alami di dataran rendah hingga tinggi. Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai dan beradaftasi pada tanah tandus dan ber-pH masam (3,50-5,30) (Wamaer dan Malik, 2009).

Berdasarkan hasil analisis tanah dari empat lokasi pengembangan Tawy di Papua (Hadad et al. 2005), umumnya tanaman Tawy dapat tumbuh pada tanah kurang subur, banyak mengandung pasir, dan bersifat agak masam (pH 4,30− 5,30) (Litbang, 2009).

Salah satu sentra pengembangan tanaman Tawy di Papua adalah Kecamatan Kelila, yang terletak pada ketinggian 2.500 m dpl, dan tanahnya didominasi Podsolik dengan tekstur gelum (Litbang, 2009).

Kedalaman tanah sampai batas batuan kasar atau lapisan akar tanaman mampu menembus tanah untuk menyerap unsur hara berkisar antara 100−150 cm (Sutarno, 2001).

 

Gambar 1: Bibit Tawy dan tanaman dewasa serta buah siap olah dari tipe

Tawy panjang

 

FAKTOR TANAH DALAM PENGEMBANGAN TAWY

Keadaan Sifat Fisik tanah

Pada umumnya sifat fisik tanah menjadi hal penting dalam menyesuaikan komoditi dan pertumbuhan tanaman. Namun tanaman Tawy tidaklah tanman yang manja untuk dapat tumbuhmenjadi tanman yang ideal. Faktor fisisk tanah bukanlah penghmabat karena secara umum tanaman ini dapat tumbuh dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Untuk iklim tropis seperti indonesia wilayahnya dapat ditumbuhi tanaman liar ini (Litbang, 2009).

Bila tanaman yang dibudidayakan membutuhkan pemeliharaan yang intensif namun untuk Tawy tidaklahdemikian karena tanaman ini adalah tanaman tumbuh liar dan dapat tumbuh pada kesubutran rendah dan tanah masam ( Nainggolan, 2001).

Sifat fisik tanah bukanlah hal yang dianggap mendominasi keadaan tanamn namun secara umum tanaman ini mampu tumbuh optimal di tanh berpasir ( Litaban, 2009).

Tekstur Tanah dan Struktur Tanah

Sebagian besar tanaman Tawy masih tumbuh liar dan belum dibudidayakan walaupun sudah ada namun jumlahnya relatif kecil, karena secara ilmiah masih banyak orang yang beranggapan bahwa tanaman ini adalah tanaman liar. Tekstur untuk tanaman ini pada umumnya cocok pada daerah berpasir karena habitat asli berada di sekitar sungai dan aliran sungai (Litang, 2010).

Tekstur dan struktur tanah pada tanaman ini merupakan hal yang menentukan pertumbuhan tanaman ini. Karena pada dasaranya dalahtumbuhna liar maka tanaman ini mudah dibudidayakan( Naingggolan, 2001).

Tanaman Tawy dapat tumbuh pada dataran rendah hingga ketinggian 2.500 m dari permukaan laut (dpl), dengan kesuburan tanah rendah, masam sampai agak masam, dan naungan 0−15%, tanahnya podzolik dan teksturnya gelum (Nainggolan, 2001).

Tekstur Tanah Setempat

Tanaman Tawy (Pandanus conoideus Lamk.) merupakan salah satu tanaman tradisional Papua, tumbuh menyebar mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. ( Litbang , 2009).

Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai, dan beradaptasi dengan baik pada tanah tandus dengan pH masam (4,30−5,30). Tanaman umumnya dibudidayakan secara tradisional, tanpa pemupukan, dan penanganan pascapanen secara sederhana ( Sutarno, 2001).

Pengaruh Lingkungan

Pengaruh lingkunagan sangatlah berkaitan dengan pertumbuhan tanaman, namun tanman ini sangat resisten terhadap berbagai pengaruh lingkungan ( Usman, 2007).

Hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam konsdisis lapang Tawy adalaha sebagai berikut: tanaman dapat beradaftasi secra luas budidaya cukup mudahdapat tumbuh pada keadaan kurang suburnamun cukup air, tanaman kurang disukai hama dan penyakit ( Litbang, 2009 ).

Umumnya tanamna Tawy tanaman Tawy dapat tumbuh pada tanah kurang subur, banyak mengandung pasir, dan bersifat agak masam (pH 4,30− 5,30). Tanaman tumbuh mengelompok di sekitar aliran sungai. Menurut Yuhono dan Malik (2006), lebih dari 90% tanaman Tawy tumbuh secara liar atau dipelihara dengan teknologi budi daya dan pascapanen seadanya. Dan tanaman ini sebenaranya tempat tumbuh yang optimal adalah padadaerah tropis di kepualuan Papua ( Hadad dkk., 2005 ).

 

PELUANG PENGEMBANGAN BUAH MERAH

Tawy merupakan salah satu komoditas unggulan Papua. Secara tradisional, Tawy sudah dikenal masyarakat yang bermukim di daerah pantai maupun pegunungan. Daya tarik Tawy adalah kandungan kimianya, berupa zat gizi penting untuk ketahanan tubuh seperti beta-karoten, tokoferol (vitamin E), asam linolenat, asam oleat, asam stearat, dan asam palmitat. Beta-karoten dan tokoferol dikenal sebagai senyawa antioksidan yang dapat menghambat perkembangan radikal bebas di dalam tubuh manusia. Oleh karena itu, Tawy potensial dikembangkan sebagai bahan baku obat degeneratif, seperti gangguan jantung, lever, kolesterol, diabetes, asam urat, osteoporosis, serta sebagai antiinfeksi seperti HIV (Hadad dkk., 2005).

Lahan yang berpotensi untuk pengembangan komoditas perkebunan, termasuk buah merah, di Papua tersebar di beberapa kabupaten, antara lain Jayawijaya, Puncak Jaya, Tolikara, Yahukimo, Jayapura, Manokwari, Sorong, Merauke, Biak, Nabire, Paniai, Yapen Waropen, Mimika, dan Fakfak. Luasnya mencapai 7,20 juta ha, namun baru dimanfaatkan 165.885 ha (Rumbarar, 2002).

Pemanfaatan Tawy oleh masyarakat lokal, baik sebgai sumber gzi, penyedap masakan, obat beberapa jenis penyakit, maupun pakan ternak ( Litbang, 2009 ).

Tawy yang diperdagagangkan sebagian besar berasal dari tanaman yang tidak dibudidayakan, sehingga bea budidaya dianggap nol ( Karyono, 2003 ).

Pada sistem budidayanya walaupun tanaman Tawy oleh masyarakat dianggap sebagai tanman tradisional, upaya pengembangan perlu diikuti dengan teknik budidya yang sesuai meliputi pembibitan, penanaman dan pemeliharaan tanaman. Tanman diperbanyak secra vegetatif menggunakan stek tunas dari akar atau batang stek (Litbang, 2009).

Daya tarik Tawy adalah kandungan kimianya, yaitu zat gizi penting untuk ketahanan tubuh. Oleh karena itu, Hadad dkk., (2006) menyatakan, tanaman ini berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku obat degeneratif untuk mengobati penyakit HIV, di samping sebagai penunjang makanan pokok sehari-hari. Tulisan ini menginformasikan peluang pengembangan buah merah, termasuk karakteristik botani, varietas, cara budi daya, panen, pascapanen, dan kegunaannya sebagai sumber pangan, pakan, pewarna alami maupun bahan baku obat-obatan.

KESIMPULAN

  1. Peluang pengembangan tanaman Tawy ke depan cukup baik karena budi daya tanaman dan cara pengolahan minyaknya mudah dilaksanakan di tingkat petani, selain harga minyak cukup tinggi.
  2. Masyarakat meyakini bahwa minyak Tawy memiliki berbagai manfaat, antara lain sebagai bahan baku obat-obatan, makanan, pewarna alami, kosmetik, dan limbahnya sebagai pakan.
  3. Tawy merupakan tanaman yang mampu hidup pada tanah yang kurang baik atau tandus dan pH masam
  4. Pengembangan tanaman Tawy harus dilakukan engan menerapkan teknologi budi daya dan pascapanen sesuai dengan sifat dan karakter biologis tanaman
  5. Faktor tanah dalam pengembangan Tawy menjadi hal yang cukup penting untuk pertumbuhan dan perkembangan
  6. Tanaman Tawy dapat tumbuh optimal di tanah yang kurang subur atau tandus sekalipun kareana itu tanman ini biasa disebut tanaman liar
  7. pH masam dan tekstur berpasir adalah kondisi tanah yang ideal untuk pertumbuhan
  8. Kesuburan tanah yang rendah bukanah faktor pembatas dalam penentuan kondisi fisik tanah untuk tanaman buah

DAFTAR PUSTAKA

  1. Badan Pusat Statistik Provinsi Papua. 2005. Papua dalam Angka Tahun 2004/2005.
  2. .
  3. Budi, M. 2003. Potensi Kandungan Gizi Tawy (p. Conoideus lamk.) Sebagai Sumber Pangan Alternatif Untuk Mendukung Ketahanan Pangan Masyarakat Papua. Kerja Sama Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Jayapura Dengan Universitas Negeri Papua.
  4. Hadad, M., Atekan, A. Malik, dan D. Wamaer. 2006. Karakteristik dan Potensial Tanaman Tawy (Pandanus conoideus Lamk.). Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Bogor.
  5. Karyono, O.K. 2003. Nilai Ekonomi Tawy di Bawah Tegakan Hutan Rakyat; Studi Kasus di Kabupaten Wamena. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor.
  6. Lebang, A., Amiruddin, J. Limbongan, G.I. Kore, S. Pambunan, dan I M. Budi. 2004. Laporan Usulan Pelepasan Varietas Tawy Mbarugum. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Papua.
  7. Limbongan, J. dan H.T. Uhi. 2005. Penggalian Data Pendukung Domestikasi dan Komersialisasi Jenis, Spesies dan Varietas Tanaman Buah di Provinsi Papua. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. Jakarta.
  8. 2009. Jurnal Litbang Pertanian. Bogor.
  9. Nainggolan, D. 2001. Aspek Ekologis Kultivar Tawy Panjang (Pandanus conoideus Lamk.) di Daerah Dataran Rendah Manokwari.Universitas Negeri Papua. Manokwari.
  10. Rumbarar, L. 2002. Kebijakan Pembangunan Wilayah Perkebunan.Jayapura
  11. Sutarno, S. 2001. Tumbuhan Penghasil Warna Alami dan Pemanfaatannya dalam Kehidupan Suku Meyah di Desa Yoom Nuni. Universitas Negeri Papua. Manokwari.
  12. 2007. Pemanfaatan Pasta Tawy Sebagai Pakan Alternatif Ayam Buras Periode Grower. BPTP. Papua,
  13. Wamaer, D. dan A. Malik. 2009. Analisis Finansial Pascapanen Tawy (Pandanus conoideus Lamk.). Jurnal Tambue Universitas Moh. Yamin Solok.
  14. 2010. Buah Merah. Http://wiki.buahmerah. Diaksese 28 Oktober 2010
  15. ..
  16. Terkait
  17. BUDIDAYA KENTANG HITAM ( Soleneotemon rotundifolius (Poir) J. K. Mort.) PADA TANAH MINERAL MASAMDengan 3 komentar
  18. HIDROPONIKDengan 3 komentar
  19. RESPONS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN BAYAM (Amaranthus sp.) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK NPKDengan 1 komentar